Gede Pasek sebut jurus Marzuki saat KLB lawan SBY tak manjur lagi

Pasek sebut perlawanan Marzuki ke SBY saat KLB berbuah kursi wakil ketua majelis tinggi Demokrat.

Randy Ferdi Firdaus
Oleh Randy Ferdi Firdaus - Reporter
Gede Pasek sebut jurus Marzuki saat KLB lawan SBY tak manjur lagi
Gede Pasek jenguk Anas Urbaningrum. ©2015 merdeka.com/dwi narwoko

Gede Pasek Suardika ikut berkomentar soal elite Demokrat Marzuki Alie yang tak dapat posisi di kepengurusan baru Demokrat pimpinan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Menurut Pasek, skenario Marzuki yang coba lawan SBY seperti di Kongres Luar Biasa (KLB) gagal terjadi di kongres Surabaya.Pasek menceritakan, SBY sempat mengirim SMS kepada Marzuki karena ketahuan mengumpulkan massa untuk maju di KLB, Bali beberapa waktu lalu itu. Ternyata SMS itu, kata Pasek berjalan sesuai rencana dengan bargaining Marzuki dapat tempat sebagai wakil ketua majelis tinggi partai."Waktu itu Marzuki Alie masih kumpulkan pendukungnya di Ancol sebelum ke Bali. Yang mana sempat buat SBY murka dengan kirim SMS. Tapi murka itu berbuah bargaining dengan posisi Marzuki Alie sebagai wakil ketua Majelis Tinggi Demokrat. Itu terjadi karena posisi SBY belum aman untuk aklamasi," kata Pasek melalui akun Twitternya, @G_paseksuardika dikutip merdeka.com, Senin (6/7).Namun Pasek menyatakan bahwa peristiwa KLB Bali dan Kongres ke-IV Demokrat di Surabaya jauh berbeda. Saat di Surabaya, Pasek menekankan, SBY sudah didukung dari semua lini termasuk diamankan melalui tata tertib pemilihan calon ketua umum yang dibuat oleh Syarief Hasan dan Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas).Menurut dia, kekuatan SBY saat di KLB belum kuat sehingga ada bargaining untuk mengamankan perlawanan Marzuki Alie. Akan tetapi, di Kongres Surabaya kekuatan SBY absolut, sehingga tidak mungkin ada lagi bargaining kepada Marzuki seperti di KLB dulu.Loyalis Anas Urbaningrum ini pun tampak heran dengan sikap Marzuki yang tidak benar-benar melawan SBY tapi malah mendukung di menit terakhir. Hal ini yang menjadikan dirinya harus melawan sendiri SBY dan berakibat Marzuki tak dapat tempat di kepengurusan yang baru."Jangan harap ada bargaining politik dalam sebuah kekuasaan yang sudah absolut. Saya kira itu teori politik sejak zaman purba yang masih relevan berlaku," tutur mantan politikus Demokrat ini.

Rekomendasi