Rini Soemarno, disebut pengkhianat hingga diduga remehkan Jokowi

Sejumlah kader PDIP menyebut Rini sebagai pengkhianat bersama Luhut Pandjaitan dan Andi Widjajanto.

Laurencius Simanjuntak
Oleh Laurencius Simanjuntak - Reporter
Rini Soemarno, disebut pengkhianat hingga diduga remehkan Jokowi
Menteri BUMN Rini Soemarno kunjungi PT Pindad. ©2015 Merdeka.com/Angga Yudha Pratomo

Nama Menteri BUMN Rini Soemarno kembali dibicarakan di tengah panasnya isu perombakan (reshuffle) kabinet. Kali ini terkait isi rekaman pembicaraan seorang menteri yang disebut merendahkan Presiden Joko Widodo (Jokowi)."Kalau memang saya harus dicopot ya silakan. Yang penting Presiden bisa tunjukan apa kesalahan saya dan jelaskan bahwa atas kesalahan itu saya pantas dicopot. Belum tentu juga Presiden ngerti apa tugas saya. Wong Presiden juga enggak ngerti apa-apa," demikian transkrip pernyataan sang menteri yang beredar luas.Politikus NasDem, Akbar Faizal, mengaku juga mendapatkan transkrip tersebut di grup pembicaraan di ponselnya. Walaupun membeberkan isi transkip itu, dia enggan mengungkap nama menteri yang berani menghina Jokowi itu."Silakan tanya Pak Tjahjo," kata Akbar di komplek Parlemen Senayan, Senayan, Jakarta kemarin.Tjahjo yang dimaksud Akbar adalah Menteri Dalam Negeri, Tjahjo Kumolo. Bekas Sekjen DPP PDI Perjuangan ini memang yang pertama kali mengungkapkan ke publik ada seorang yang meremehkan Presiden Jokowi. Namun, Tjahjo juga enggan mengungkap siapa menteri tersebut."Kalau saya yang jawab, ya nggak seru lah," ujar Tjahjo di Gedung Kemendagri, Jakarta Pusat, kemarin."Orang boleh menyampaikan kritik, saran, tapi yang fair dan terbuka, jangan menghina," kata Tjahjo tegas menambahkan.Namun, politikus PDI Perjuangan Masinton Pasaribu memberikan petunjuk bahwa menteri yang dimaksud Tjahjo adalah perempuan dan bukan berasal dari parpol.

Barangkali lantaran petunjuk inilah publik langsung merujuk pada nama Rini.Bukan tanpa sebab Rini menjadi satu-satunya menteri perempuan yang dijadikan 'tersangka' karena lontaran para politikus PDI Perjuangan itu. Hubungan Rini dengan politikus partai banteng tersebut memang sudah renggang sejak mantan Dirut Astra itu duduk di kabinet pada Oktober 2014.Dalam Kongres IV PDI Perjuangan di Sanur, Bali, awal April lalu, Rini tidak hadir. Padahal, sebelum menjadi Menteri BUMN seperti sekarang, Rini rajin mendampingi Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri di acara-acara besar partai nasionalis tersebut. Misalnya saja, dalam Rakernas IV PDIP di Semarang pada September 2014 silam, Rini hadir. Saat kampanye Pilpres, utamanya pada 2009, Rini juga tak pernah tampak jauh dari Megawati. Dari situ lah muncul persepsi bahwa Rini, meskipun bukan kader PDIP, adalah sahabat Megawati.Namun keadaan berubah setelah Rini menjabat BUMN. Hubungan Rini dan Megawati kian renggang. Bahkan, sejumlah kader PDIP menyebut Rini sebagai pengkhianat bersama Luhut Pandjaitan dan Andi Widjajanto. Di media sosial, mereka disebut 'Trio Macan'."Pengkhianat itu paling rendah harusnya seorang Rini dan Andi mendengar kata pengkhianat, harus dengan sendirinya mengundurkan diri karena anda sudah begitu rendahnya kodrat anda di mata kita," kata Ketua DPP PDIP Effendi Simbolon dalam sebuah kesempatan.Dalam Kongres IV PDIP kala itu, alih-alih 'menempel' Megawati, Rini tidak hadir dalam hajatan terbesar partai ini. Lucunya, dalam pidato politik di pembukaan kongres, Megawati juga menyebut soal pengkhianat, meski tanpa menyebut nama."Bagi saya, politik juga harus bersendikan watak kejujuran. Sebab politik bukanlah praktik menang-menangan atas dasar kekuasaan. Itulah yang membuat saya terus bertahan, walaupun begitu banyak pengkhianatan, bahkan berulang kali, saya ditusuk dari belakang," kata Megawati dalam pidatonya di hadapan ribuan kader PDIP di Hotel Inna Grand Bali Beach, Sanur, Bali, Kamis (9/4).

Rekomendasi