Pengamat: Iklan sporadis Win-HT di media bikin masyarakat 'eneg

"Jadi ya itu hasilnya. Dosa-dosa penyebab perolehan suara Hanura tidak maksimal ada di HT," kata Iswandi.

Mohamad Taufik
Oleh Mohamad Taufik - Reporter
Pengamat: Iklan sporadis Win-HT di media bikin masyarakat 'eneg
Win-HT joget. ©2014 Merdeka.com

Hasil beberapa hitung cepat (quick count) pemilihan legislatif (Pileg) 2014 kemarin menunjukkan hasil mengejutkan buat Partai Hanura. Perolehan suara partai yang mengusung Wiranto - Hary Tanoesoedibjo (Win-HT) sebagai capres dan cawapres itu meningkat tapi tidak signifikan, sekitar 5 persen.Padahal, sepanjang masa kampanye partai politik berlangsung, Hanura gencar berkampanye lewat jaringan media MNC grup. Bahkan kampanye 'cantolan' juga sudah dilakukan sebelum masa kampanye."Hanura naik tapi tidak maksimal. Jadi antara pengeluaran dan pemasukan tidak seimbang," kata Pengamat Media yang juga Direktur Eksekutif Media Literacy Circle UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Iswandi Syahputra, Jumat (11/4).Iswandi menjelaskan tiga hal penyebab perolehan suara Hanura tidak maksimal. Pertama, iklan di jaringan media televisi milik Hary Tanoe terlalu sporadis, sangat agresif, sehingga membuat antiklimaks dan kontra produktif. "Dia membuat iklan kampanye, masuk di sinetron, kampanye cantolan-cantolan yang murni bukan kampanye politik. Sehingga masyarakat menjadi eneg dan jenuh," ujar mantan komisioner Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) ini.

Rekomendasi