PDIP Tak Tersinggung Tulisan SBY soal Geopolitik Timur Tengah

Rabu, 8 Januari 2020 19:52 Reporter : Ahda Bayhaqi
PDIP Tak Tersinggung Tulisan SBY soal Geopolitik Timur Tengah Pidato SBY Refleksi Akhir Tahun. ©2019 Merdeka.com/Iqbal S Nugroho

Merdeka.com - Politikus PDI Perjuangan Hendrawan Supratikno tidak ada masalah Presiden RI Keenam Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyinggung masalah ketimpangan, gelombang protes, hingga kecurangan pemilu saat bicara isu Geopolitik Iran-AS. Pihaknya tidak masalah jika pernyataan SBY itu ditujukan untuk pemerintahan Presiden Joko Widodo.

"Tidak ada masalah wong kita sering kritik Pak SBY," ujar Hendrawan saat dihubungi, Rabu (8/1).

Hendrawan mengatakan, perbedaan demikian tak lagi menjadi persoalan. Opini SBY itu merupakan bagian demokrasi. Dia meminta tak perlu lagi ada adu mengadu dua pihak.

"Kami tidak memperhatikan lagi perbedaan yang seperti ini, karena ini bagian dari demokrasi. Sebagai bagian dari demokrasi pandangan-pandangan atau opini yang berbeda itu sah. Jadi itu sebabnya pekerjaan wartawan yang sering mengadu-adu ini enggak perlu lagi sudah," jelasnya.

1 dari 2 halaman

Hendrawan menuturkan, saat ini tengah ada tiga tren masalah global yang sama. Pertama, tentang masalah krisis iklim dan bencana alam. Kedua, terkait ketimpangan. Dan terakhir terjadi krisis demokrasi.

"Tiga krisis ini harus diatasi secara bersama-sama. Kalau kita terus berkelahi untuk persoalan opini tadi, opini kan memang dalam demokrasi kan tidak harus seragam. Maka kita energinya kita habiskan untuk hal tidak produktif toh," jelasnya.

"Jadi pak SBY silakan berpendapat demikian nanti ada partai lain silakan berpendapat demikian. Itu wajar saja," pungkasnya.

2 dari 2 halaman

Sebelumnya, SBY mengomentari geopolitik timur tengah. Dalam tulisannya itu, SBY menyinggung karakter pemimpin yang mendapatkan perlawanan dari rakyatnya.

"Mereka melawan pemimpin dan pemerintahannya karena merasa tidak mendapatkan keadilan, ekonominya sulit dan ruang kebebasan untuk berekspresi dibatasi," kata SBY.

"Ragamnya berbeda-beda. Mulai dari sulitnya mendapatkan pekerjaan, harga-harga naik sementara daya beli rakyat turun, hingga pemerintahnya dinilai korup sementara beban utang negara meningkat tajam. Juga karena pemimpinnya dianggap ingin terus berkuasa dengan cara mengubah konstitusi dan undang-undang. Juga pemilihan umum yang baru saja dilaksanakan dianggap curang, sehingga rakyat tidak terima dan turun ke jalan."

"Yang lain, rakyat merasa ruang kebebasan untuk berekspresi ditutup disertai tindakan-tindakan yang represif dari pihak penguasa. Ada juga, terutama di negara-negara maju, rakyat marah karena pemerintahnya dianggap lalai dan tak serius dalam melawan perubahan iklim dan krisis lingkungan," singgung SBY mengawali narasi geopolitik Timur Tengah. [rnd]

Baca juga:
Ferdinand Demokrat: SBY Tidak Sedang Kritik Pemerintah
Soal Konflik Iran-AS, Demokrat Minta Jokowi Tiru SBY Bangun Diplomasi Multilateral
Analisa SBY: Mungkinkah Perang Dunia Ketiga Terjadi?
Pemilu Serentak 2019, Pemilu Terburuk Sepanjang Sejarah?
SBY dan Jokowi Disarankan 'Ngeteh' Bareng Bahas Jiwasraya

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini