Mulyadi: Ada Caleg Demokrat Minta 'Biaya Operasi' ke Petinggi Gerindra

Jumat, 12 Juli 2019 16:17 Reporter : Randy Ferdi Firdaus
Mulyadi: Ada Caleg Demokrat Minta 'Biaya Operasi' ke Petinggi Gerindra mulyadi gerindra. ©2019 Merdeka.com/istimewa

Merdeka.com - Saling serang antar politikus Demokrat Ferdinand Hutahaean dan Politikus Gerindra Mulyadi kian memanas. Pemicu perdebatan awal cuitan Ferdinand yang dianggap kerap menyerang Gerindra dan ketumnya Prabowo Subianto.

Mulyadi minta Demokrat harusnya terima kasih pada Prabowo karena di menit akhir diterima dalam koalisi 02. Ferdinand menjawab, Demokrat sudah total dukung Prabowo-Sandi, sehingga tidak layak minta maaf.

Mulyadi pun membalas, dirinya sebagai kader Gerindra merasa tersinggung dengan sikap nyinyir kader Demokrat terhadap dinamika politik sekarang. Jutaan kader dan pendukung Gerindra suasana kebatinannya terganggu.

"Padahal kader Gerindra tidak pernah melakukan itu kepada Demokrat dan SBY," kata Mulyadi kepada merdeka.com, Jumat (12/7).

Anggota Dewan Pembina Gerindra ini juga menjawab tuduhan Ferdinand yang mengaku tidak tahu apa-apa soal proses politik koalisi antara Gerindra dan Demokrat. Menurut Mulyadi, dalam kontestasi Pilpres 2019 lalu, dirinya diberi tugas khusus untuk melobi Ustaz Abdul Somad oleh Prabowo.

Malam saat pengumuman Prabowo-Sandi di Kertanegara, Mulyadi ada di dalam rumah Prabowo, mengikuti menit per menit proses kesepakatan politik yang terjadi. Hingga akhirnya diumumkan koalisi Gerindra, PKS, PAN dan Berkarya, tanpa Demokrat awalnya.

"Malam itu tanpa Demokrat yang konon tetap ingin kadernya menjadi cawapres, tapi koalisi menolak, besok paginya baru bergabung ke koalisi. Konon setelah koalisi 01 menolak, pagi itu keluarlah kalimat, walau langit runtuh, Demokrat tetap bersama Prabowo-Sandi," tegas Mulyadi yang juga satu dapil dengan Ferdinan Hutahaean di Kabupaten Bogor.

Mulyadi juga menilai wajar apabila Demokrat telah bekerja total untuk memenangkan Prabowo-Sandi. Sebab, Demokrat juga telah memutuskan untuk berjuang bersama koalisi Prabowo-Sandi.

"Malah aneh kalau sudah ikut satu perahu malah tidur, kemudian bangun tidur setelah ikut numpang sampai pulau 2024, malah semakin tidak beretika dong," jawab Mulyadi.

Mulyadi kemudian menyindir pertarungan di Dapil Jawa Barat V bersama Partai Demokrat. Mulyadi bersama Fadli Zon di Gerindra dan Anton Sukartono Suratto dari Demokrat sukses mendapatkan kursi DPR RI. Sementara Ferdinand, gagal.

Dia mengatakan, Anton sangat terasa perjuangannya di dapil tersebut. Tidak pernah terdengar meminta biaya operasi untuk bertarung di dapil yang juga berisikan Politikus PDIP Adian Napitupulu, Politikus PKB Tommy Kurniawan, serta politikus PAN Primus Yustisio itu.

"Tidak terdengar beliau (Anton) minta bantuan kesiapapun, termasuk ke petinggi partai Gerindra untuk biaya operasi misalnya, karena ada yang mengatasnamakan kader dan caleg Demokrat yang minta bantuan ke petinggi Gerindra," tutur Mulyadi.

Dia menegaskan sekali lagi, tak pernah cari panggung. Dia hanya tersinggung dengan kader Demokrat yang kerap menyindir Prabowo dan Gerindra, baik langsung ataupun melalui media sosial.

"Mohon maaf khusus kepada pengurus dan kader Demokrat yang masih terjaga etikanya jika tidak berkenan," tutup Mulyadi yang juga mantan rekan bisnis Prabowo Subianto itu. [rnd]

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini