Mirwan Amir: OSO Jangan Pikirkan Jokowi Saja, Hanura Juga Dipikirkan

Rabu, 15 Mei 2019 20:17 Reporter : Randy Ferdi Firdaus
Mirwan Amir: OSO Jangan Pikirkan Jokowi Saja, Hanura Juga Dipikirkan Mirwan Amir diperiksa KPK. ©2018 Merdeka.com/Dwi Narwoko

Merdeka.com - Ketua Umum Partai Hanura Oesman Sapta Odang (OSO) menyalahkan Wiranto atas kegagalan partainya lolos DPR RI di Pemilu 2019. Namun, Ketua DPP Hanura Mirwan Amir tak setuju dengan pernyataan OSO tersebut.

Mirwan mengatakan, OSO adalah ketua umum yang sah. Segala tindak tanduk Hanura adalah tanggung jawab OSO dan pengurus DPP sampai tingkat DPC kabupaten/kota.

"Hanura memang sempat konflik dari awal, tapikan konflik sudah selesai. Akhirnya yang jadi ketua umum kan Pak OSO. Dalam perjalanan Pileg juga sudah semuanya diperankan oleh OSO sebagai ketum. Menurut saya apa urusannya dengan Pak Wiranto, setiap partai yang bertanggung jawab ya ketum, ketum yang bertanggung jawab," tegas Mirwan saat dihubungi merdeka.com, Rabu (15/5).

Mirwan pun menyesalkan pernyataan OSO yang lebih bangga dengan kemenangan Jokowi di Pilpres 2019. Tapi tidak dengan Hanura yang gagal lolos parlemen.

Dia menilai, biar bagaimanapun, Wiranto sukses mempertahankan Hanura di parlemen. Tapi di tangan OSO, Hanura malah gagal lolos parlemen.

"Jangan yang dipikirkan Jokowi saja, Jokowi sudah pasti menang, harusnya Hanura yang dipikirkan. Betul kita bantu Jokowi, tapi Hanura juga lebih dibantu," kritik Mirwan yang juga Caleg Hanura di dapil Aceh tersebut.

Mirwan pun mengibaratkan partai politik seperti sebuah kendaraan. Membutuhkan sopir yang bagus. Namun dia menilai, Hanura ini sejak awal menabrak-nabrak terus. Hingga akhirnya karam di DPR RI.

"kalau Caleg sudah kerja keras, maksimal, tapi tanggung jawab semua ada di DPP. Kan bisa kita lihat bendera Hanura ada enggak di daerah-daerah? Enggak ada, kalau saya ke daerah lihat bendera Hanura malah saya kaget, sangking jarangnya bendera," tutur mantan politisi Demokrat itu.

Penyebab Hanura Karam

Mirwan pun menganalisa kenapa Hanura bisa gagal lolos parlemen. Dia melihat tidak ada kekompakan di DPP. Sehingga merembet ke daerah-daerah.

Dia menegaskan, larinya petahana Hanura ke partai lain, bukan alasan gagalnya partai di Pemilu 2019. Hal itu bisa saja diantisipasi apabila ketua umumnya mampu memanajemen dengan baik partainya.

"Kalau kita sebagai ketum tentu kalau ada perpecahan ada petahana yang lari bisa dong cari kader Hanura yang mumpuni memanagenya dengan bagus, ketua umumnya mau keluar bekerja keras, jadi kalau saya bilang managemen DPP Hanura tidak maksimal," jelas Mirwan lagi.

Liputan6.com/Johan Tallo

"Bappilu tidak berperan, masalah uang saksi juga tidak ada," katanya.

Dia bahkan menyayangkan Hanura kalah dengan partai baru seperti PSI dan Berkarya. Dia melihat dua partai itu kerja keras untuk memenangkan pertarungan. Meskipun, keduanya tetap saja tak lolos parlemen pada akhirnya.

"PSI kerjanya luar biasa, iklannya luar biasa, NasDdem bisa naik 2 persen itu mengambil caleg-calegnya sangat luar biasa, yang banyak potensi, luar biasa kerjanya, ketumnya keliling Indonesia," kata pria yang akrab disapa Uchok ini.

"Hanura bisa kita lihat, yang bisa ditonton sama masyarakat adalah konflik DPD, demo-demo ke KPU yang tidak ada relevannya sama partai," tutur dia.

"OSO sepertinya hanya mementingkan presiden terpilih, dia tidak peduli partai enggak lewat 4 persen," tutup Mirwan.

Hanura Naik di Aceh

Sebagai Ketua DPP Bina Wilayah Aceh Hanura, Mirwan menegaskan, kursi partainya di wilayah tersebut naik. Baik di DPRK maupun DPRD. Dia pun menyesalkan kerja DPP yang tak mampu menaikan kursi, malah gagal.

"Khusus di Aceh, ada di Aceh Tenggara kursi DPRK dari 5 jadi 9 kursi, DPRD dari kosong dapat satu kursi.

Tak cuma itu, Mirwan mengatakan, di Kota Subulussalam Aceh, baru saja dilantik wali kotanya yang juga kader Hanura.

"Di situ dari 3 kursi sekarang dapat 4 kursi," kata Mirwan.

Sekali lagi, dia menyayangkan manajemen di DPP Hanura. Dia yakin, Aceh bisa meloloskan anggota DPR, apabila partainya melampaui 4 persen ambang batas parlemen.

Mirwan juga menyinggung ketum NasDem Surya Paloh yang keliling Indonesia. Alhasil partainya naik di DPR RI.

"NasDem kemana dia (ketumnya) enggak pergi? Jadi partai itu ketumnya keliling Indonesia, partai yang punya visi naik persentasenya dua atau tiga persen. Tapi Partai Hanura tidak punya TV, DPP tidak pernah keliling Indonesia, bendera-bendera tak pernah ada, konfliknya saja yang berkepanjangan," tutup Mirwan. [rnd]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini