Megawati Terima Dubes Palestina hingga Rusia di Momen Halalbihalal PDIP, Bahas Geopolitik Global

Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri menerima kunjungan sejumlah duta besar negara sahabat, termasuk Palestina dan Rusia, saat halalbihalal Idul Fitri 2026. Megawati Terima Dubes ini untuk membahas isu geopolitik dan pemanasan global yang mendesak.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Megawati Terima Dubes Palestina hingga Rusia di Momen Halalbihalal PDIP, Bahas Geopolitik Global
Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri menerima kunjungan sejumlah duta besar negara sahabat, termasuk Palestina dan Rusia, saat halalbihalal Idul Fitri 2026. Megawati Terima Dubes ini untuk membahas isu geopolitik dan pemanasan global yang mendesak. (AntaraNews)

Ketua Umum PDI Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri menyambut sejumlah duta besar negara sahabat dalam acara halalbihalal Idul Fitri 1447 Hijriah. Pertemuan ini berlangsung di Gedung B DPP PDIP, Jakarta, pada Sabtu (21/3/2026), sekaligus menjadi momen silaturahmi bagi jajaran partai dan tamu undangan.

Sekretaris Jenderal DPP PDIP Hasto Kristiyanto mengungkapkan bahwa para duta besar yang hadir berasal dari Inggris, Iran, Palestina, serta Wakil Duta Besar Rusia. Kunjungan ini menjadi kesempatan bagi Megawati untuk berdiskusi akrab mengenai berbagai isu penting.

Diskusi yang terjalin mencakup persoalan geopolitik global hingga isu pemanasan global yang mendesak. Pihak PDIP berencana menindaklanjuti pembicaraan ini ke forum akademis yang lebih mendalam melalui Megawati Institute.

Diskusi Geopolitik dan Isu Global dengan Para Dubes

Megawati Soekarnoputri terlibat dalam percakapan intens dengan para duta besar dari negara-negara sahabat yang hadir. Duta besar dari Inggris, Iran, Palestina, dan Wakil Duta Besar Rusia menunjukkan cakupan diplomasi yang luas dalam pertemuan ini. Mereka mendiskusikan berbagai persoalan geopolitik yang sedang berkembang di dunia.

Selain isu geopolitik, topik pemanasan global juga menjadi agenda penting dalam diskusi tersebut. Hal ini menunjukkan perhatian PDIP terhadap tantangan lingkungan yang bersifat global. Pembahasan ini berlangsung akrab dan konstruktif, menurut keterangan Hasto Kristiyanto.

Lebih lanjut, Hasto menyatakan bahwa PDIP bersepakat untuk membawa pembahasan geopolitik ini ke ranah yang lebih akademis. Megawati Institute akan menjadi wadah untuk menindaklanjuti diskusi tersebut, memungkinkan kajian yang lebih mendalam dan komprehensif. Langkah ini diharapkan dapat menghasilkan pemikiran strategis terkait isu-isu internasional.

Halalbihalal di Tengah Nuansa Kebudayaan Nusantara

DPP PDI Perjuangan memilih Gedung B DPP PDIP sebagai lokasi penyelenggaraan halalbihalal Idul Fitri 1447 Hijriah. Gedung ini juga merupakan markas Badan Kebudayaan Nasional (BKN) PDIP, memberikan nuansa budaya yang kental pada acara tersebut. Pemilihan lokasi ini bukan tanpa alasan, mengingat kapasitasnya yang luas.

Hasto Kristiyanto menjelaskan bahwa Gedung B dipilih karena tempatnya yang lebih luas dan kental dengan nuansa kebudayaan Nusantara. Kehadiran Megawati di Badan Kebudayaan semakin memperkuat nilai-nilai budaya yang ingin ditonjolkan. Acara ini dimeriahkan dengan penampilan gamelan dan beberapa alat musik tradisional.

Suasana halalbihalal menjadi lebih meriah dan bermakna dengan sentuhan seni budaya Indonesia. Sejumlah kader dan tamu undangan terus berdatangan sejak pukul 11.00 WIB, memenuhi Gedung B DPP PDIP. Ini menciptakan momentum silaturahmi yang hangat dan penuh kebersamaan.

Makna Halalbihalal sebagai Warisan Bung Karno

Hasto Kristiyanto turut mengingatkan bahwa tradisi halalbihalal yang kini menjadi budaya nasional merupakan warisan ideologis dari Presiden pertama RI Soekarno. Tradisi ini memiliki akar sejarah yang kuat dalam upaya mempersatukan bangsa. Halalbihalal telah menjadi simbol persaudaraan dan saling memaafkan.

Secara historis, istilah halalbihalal dicetuskan pada tahun 1948 oleh Kiai Haji Abdul Wahab Chasbullah atas saran Bung Karno. Tujuannya adalah untuk mencairkan ketegangan politik nasional kala itu melalui momentum Idul Fitri. Ini menunjukkan peran penting Idul Fitri dalam membangun rekonsiliasi.

Dalam semangat Idul Fitri, semua pihak didorong untuk mengedepankan semangat persaudaraan dan maaf-memaafkan. Hasto menekankan bahwa nilai-nilai inilah yang menjadi inti dari tradisi halalbihalal. Momen ini dimanfaatkan untuk mempererat tali silaturahmi di antara seluruh elemen bangsa.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi