Ma'ruf Amin: Ada Yang Bilang Katanya Saya Alat, Emangnya Saya Pacul?

Selasa, 5 Februari 2019 20:38 Reporter : Merdeka
Ma'ruf Amin: Ada Yang Bilang Katanya Saya Alat, Emangnya Saya Pacul? Maruf Amin Sambangi Kediaman Abuya Munfasir. ©2019 Merdeka.com/Dwi Prasetya

Merdeka.com - Cawapres nomor urut 01, Ma'ruf Amin, menegaskan dirinya bukanlah alat dipergunakan di Pemilihan Presiden 2019. Menurutnya, langkah Jokowi meminang dirinya karena mereka sebuah kesatuan tim.

"Ada yang bilang katanya saya alat? Emangnya saya pacul? Kalau berduet itu kami ini kayak orang main badminton, double, pasangan ganda," kata Ma'ruf saat silaturahmi di Pondok Pesantren Al-Hidayat Krasak, Demak, Jawa Tengah, Selasa (5/2).

Namun jika kata alat yang dimaksud untuk kebaikan umat, Ma'ruf menerimanya. "Kalau alasannya itu, saya siap jadi alat sampai kapan pun. alat kebaikan. Alat untuk membangun kemanfaatan dan kemaslahatan," jelas Ma'ruf.

Ma'ruf mengklaim bersama Jokowi sangat solid dalam pembagian tugas selama kampanye. "Kami mengambil posisi masing-masing sehingga tidak terjadi kesalahpahaman, satu ke depan, temannya harus ke belakang. Kalau temannya itu ke kiri, saya harus ke kanan. Bukan tabrakan," tegas Ma'ruf.

Dalam kesempatan yang sama, Ma'ruf Amin mengatakan dirinya ingin mengubah stigma pondok pesantren sebagai tempat perbaikan atau bengkel bagi anak nakal. Sebaliknya, Ma'ruf ingin tiap individu yang didorong menjadi santri, adalah mereka yang baik dan berprestasi.

"Ada (stigma) yang kelewatan, anak yang sudah tidak bisa urus, rapornya merah terus, lalu dititipkan saja di pesantren. Akhirnya pesantren tempat bengkel anak-anak nakal jangan begitu," kata Ma'ruf Amin di Pondok Pesantren Al Hidayat Krasak Temuroso Guntur, Demak, Jawa Tengah, Selasa (5/2).

Pondok pesantren, menurut Ma'ruf, itu diisi oleh anak-anak pintar dan luar biasa. Mereka yang dikirimkan orangtuanya ke pondok, diyakini kelak akan menjadi pemimpin umat, sebagai ulama yang baik pengawal bangsa.

"Jadi yang dikirim ke pesantren itu anak pinter, kiai itu pinter, karena akan membimbing umat," jelas Ma'ruf.

Mustasyar PBNU ini menyarankan minimal satu anak dari sebuah keluarga, bisa dimasukkan ke dalam pondok pesantren. Agar kelak, Indonesia memiliki cikal pemimpin bangsa depan yang sesuai dengan nafas keumatan.

"Mari kita dukung upaya-upaya para ulama mendirikan pesantren, termasuk mengirim anaknya ke pesantren. Saya setuju sekali dengan gerakan ayo mondok ini," katanya.

Reporter: M Radityo

Sumber: Liputan6.com [lia]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini