Generasi millenial, pasar baru buat parpol dulang suara di 2019

Jumat, 6 April 2018 19:45 Reporter : Hari Ariyanti
Generasi millenial, pasar baru buat parpol dulang suara di 2019 Ilustrasi Pemilu. ©2014 Merdeka.com

Merdeka.com - Seiring dengan pesatnya perkembangan internet dan dunia digital, muncul generasi baru yang tak dapat dipisahkan dari gawai dan sangat dekat dengan dunia teknologi informasi yang disebut generasi millenial. Generasi ini menjadi segmen pasar baru bagi partai politik untuk mendulang suara pada Pemilu 2019 mendatang.

Kini parpol lama maupun baru berlomba-lomba mendekati generasi millenial buat meraih suara di 2019. Melihat fenomena ini, Komisioner KPU, Hasyim Asy'ari menyampaikan saat ini menjadi momentum penting anak muda mengambil peran dalam kontestasi politik lima tahunan.

Untuk mendulang suara, parpol harus mengajukan calon legislatif maupun capres yang disukai anak-anak muda. Ada dua aspek dalam Pemilu yang harus menjadi acuan parpol, yakni; pasal dan pasar.

Pasal berkaitan dengan aturan mengikat dan pasar adalah para pemilih. Pasar ini mengambil peranan sangat penting karena sangat menentukan siapa yang akan mendapatkan kursi.

"Partai harus tahu segmen pasar yang digarap," kata Hasyim dalam diskusi politik yang diselenggarakan AMPG di FX Sudirman, Jakarta, Jumat (6/4).

Menurutnya, parpol maupun sayap parpol harus progresif menangkap sinyal maupun peluang dalam pasar pemilih ini. Kemasan dan marketing juga harus menjadi perhatian. Jumlah pemilih dari generasi millenial sebesar 48 persen atau 85 juta jiwa dan ini harus dijadikan pangsa pasar yang dikelola dengan baik oleh parpol.

"AMPG adalah sayapnya Partai Golkar. Maka sodorkanlah kader-kader berkualitas," sarannya.

Pemilih generasi millenial tak hanya dari pengguna internet, tetapi ada juga segmen anak muda yang jumlahnya cukup banyak dan memiliki pengaruh besar serta termasuk pemilih loyalis tapi tak memiliki akses gawai. Mereka ialah kaum santri yang tersebar di berbagai daerah.

"Itu lumbung-lumbung suara tak pernah disentuh. Biasanya tergantung siapa kyainya. Kalau kyainya jaket kuning santrinya kuning. Kalau kyainya jaket hijau santrinya ikut hijau," ujarnya.

Sementara itu Direktur Eksekutif Voxpol Centre, Pangi Chaniago mengatakan generasi millenial tak suka secara langsung diminta suaranya atau diminta memilih calon tertentu. Ciri generasi millenial lainnya adalah tak mau dijadikan objek politik hanya untuk mendulang suara.

"Tapi mereka harus jadi subjek politik. Cair, tidak kaku, dan mereka orang yang sangat tidak loyal," sebutnya.

Generasi ini juga sangat mudah dipengaruhi sehingga mudah beralih pilihan. "Mereka mudah terpengaruh dan bukan strong voter," tambahnya. [dan]

Topik berita Terkait:
  1. Pemilu 2019
  2. KPU
  3. Jakarta
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini