Presiden Prabowo Subianto telah melantik Djamari Chaniago sebagai Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) definitif. Pelantikan ini menjadi sorotan publik, mengingat latar belakang hubungan keduanya di masa lalu.
Peneliti Indonesia Strategic and Defence Studies (ISDS), Edna Caroline, menilai bahwa keputusan Prabowo ini menunjukkan sikap non-vindikatif. Ia menegaskan bahwa Presiden Prabowo tidak mengedepankan rasa dendam, melainkan lebih mempertimbangkan pengalaman dan kedekatan personal.
Penunjukan Djamari Chaniago dilakukan dalam perombakan (reshuffle) ketiga Kabinet Merah Putih, berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) RI Nomor 96P Tahun 2025 pada 8 September 2025. Sebelumnya, jabatan Menko Polkam diisi sementara oleh Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin.
Advertisement
Advertisement
Penunjukan Djamari Chaniago sebagai Menko Polkam didasari oleh rekam jejak dan pengalamannya yang luas di dunia militer serta politik. Djamari dikenal memiliki karier yang cemerlang di Angkatan Darat, menjabat posisi strategis seperti Panglima Komando Cadangan Strategis TNI AD (Pangkostrad) dan Kepala Staf Umum (Kasum) TNI.
Edna Caroline dari ISDS menekankan bahwa pengalaman Djamari tidak hanya terbatas pada bidang militer. "Djamari juga memiliki pengalaman politik 1997-1998 sebagai anggota MPR," jelas Edna.
Fakta menarik lainnya adalah Djamari pernah menjadi Sekretaris Dewan Kehormatan Perwira (DKP) yang merekomendasikan pemecatan Prabowo pada tahun 1998. Namun, menurut Edna, hal tersebut tidak menjadi penghalang bagi Prabowo dalam memilih Djamari sebagai Menko Polkam.
Advertisement
Advertisement
Hubungan erat antara Djamari Chaniago, Prabowo Subianto, dan Sjafrie Sjamsoeddin telah terjalin sejak ketiganya menempuh pendidikan di Akademi Angkatan Bersenjata RI (AKABRI). Kedekatan ini menjadi faktor penting dalam penunjukan Djamari.
Edna menjelaskan, Prabowo dan Sjafrie merupakan satu angkatan, yakni angkatan 1974. Sementara itu, Djamari adalah senior mereka dari angkatan 1971. "Di sinilah, terjadi kedekatan karena Djamari yang merupakan letting 1971 adalah 'pengasuh' letting 1974, yang berarti ia memiliki kedekatan personal dengan Prabowo dan Sjafrie," ungkap Edna.
Bahkan, Djamari pernah menjadi komandan Prabowo saat mereka masih sama-sama di AKABRI. Kedekatan yang terjalin sejak dini ini terus terjaga hingga saat ini, bahkan membawa Djamari bergabung dengan Partai Gerindra setelah purna tugas.
Advertisement
Advertisement
Dengan latar belakang dan kedekatan personal yang kuat antara Prabowo, Djamari, dan Sjafrie, ISDS memprediksi adanya keselarasan dalam perumusan kebijakan di bidang Politik dan Keamanan. Lingkaran ini diyakini akan membawa warna yang sama dalam setiap keputusan.
Edna Caroline menyatakan, "Merujuk pada circle polkam di mana Prabowo, Djamari, dan Sjafrie merupakan teman-teman lama, bisa diduga tidak ada suara yang berbeda dalam membuat kebijakan-kebijakan terkait Polkam." Ini menunjukkan harapan akan koordinasi yang solid dalam Kabinet Merah Putih.
Penunjukan Djamari sebagai Menko Polkam menegaskan komitmen Prabowo untuk memilih individu berdasarkan kapabilitas dan hubungan yang telah teruji. Hal ini diharapkan dapat memperkuat stabilitas politik dan keamanan nasional di bawah kepemimpinan Kabinet Merah Putih.
Advertisement
Sumber: AntaraNews