Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Cerita Menteri Kabinet Gotong Royong Soal Arti Megawati 'The Brave Lady'

Cerita Menteri Kabinet Gotong Royong Soal Arti Megawati 'The Brave Lady' Jokowi hadiri HUT Megawati. ©2019 Liputan6.com/Angga Yuniar

Merdeka.com - Megawati Soekarnoputri hari ini berulang tahun yang ke 72. Dia dihadiahi buku yang berjudul The Brave Lady, dituliskan oleh mantan menterinya di kabinet Gotong Royong. Salah satu penulisnya, Mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Purnomo Yusgiantoro. Dari tulisannya itu judul buku itu muncul.

"Jadi saya tidak menyangka ini menjadi (judul buku The Brave Lady) judul buku Ibu. The Brave Lady, the maker decision. Seorang ibu yang berani, yang berani mengambil keputusan dalam keadaan apapun juga," ucap Purnomo di Grand Sahid, Jakarta, Rabu (23/1).

Purnomo mengungkapkan alasan memberikan julukan the brave lady kepada Megawati. Dia berkisah soal keberanian Megawati saat menghadiri konferensi energi di Amerika Serikat saat terjadi serangan 11 September 2001.

"Saya bikin contoh, Ibu Mega dilantik Juli 2001, keadaan masih krisis. Dan saya sampaikan sebagai Menteri Energi, ibu kalau bisa berangkat ke Amerika, hadir di White House, ketemu Presiden Amerika. Dan kebetulan ada konfrensi energi di Houston, Houston itu pusat energi. Ibu beberapa waktu untuk berpikir. Kemudian ibu menyampaikan saya berangkat. Kita tidak sadar September 2001 ada serangan di Twin Tower, dan Pentagon," cerita Purnomo.

Dia pun menjelaskan keadaan Amerika kala itu. Namun, Megawati tetap memilih berangkat. "Ibu ini Amerika keadaan tidak pasti, kemudian ada serangan. Tapi ibu tetap pergi, itu bravenya," jelas Purnomo.

Disana, Megawati bertemu langsung dengan Pemimpin AS George Bush. Ada pula World Bank dan IMF. Dari pertemuan ini, Indonesia memperoleh banyak investasi.

"Image dunia mulai kembali melihat Indonesia. Itu lah mengapa saya katakan Ibu adalah The Brave Lady," jelasnya.

Selain itu, lanjut Purnomo, keberanian Megawati lainnya adalah saat ambil alih proyek Tangguh di Papua, yang tendernya dimenangkan oleh Tiongkok. Meski awalnya banjir kritikan, namun sekarang proyek Tangguh itu sudah ada yang merasakan manfaatnya.

"Saya sampaikan ke Ibu, mohon Ibu kalau ibu melakukan diplomasi ke Beijing. Maka dilakukan diplomasi yang dikenal dengan diplomasi Bengawan Solo. Ibu rawuh di Beijing. Yang tadinya itu tender menang tangguh itu orang lain diberikan kepada Indonesia oleh presiden Zhang Zhe Ming yang waktu itu betul-betul membantu pemulihan ekonomi Indonesia," kata Purnomo.

Di tempat yang sama, Megawati mengatakan, ini semua dilakukan untuk kepentingan Indonesia yang saat itu mendapatkan embargo senjata oleh Amerika. Dia pun langsung bertemu dengan George Bush, Presiden AS kala itu.

"Ketemu dengan Bush, saya ini Presiden baru. Saya bilang Indonesia katanya sahabat Amerika, masa urusan persenjataan kita diembargo. Jadi straight to the point," cerita Megawati.

Adapun buku tersebut disunting oleh Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Rokhmin Dahuri, serta mantan jurnalis Kristin Samah. Turut hadir dalam peluncuran buku ini selain Megawati diantaranya, mantan Menteri Keuangan Boediono, mantan menteri Luar Negeri Hasan Wirajuda, Mantan Menteri Kehakiman Yusril Ihza Mahendra, Mantan Menteri Perhubungan Agum Gumelar, Mantan Kepala Bapenas Kwik Kian Gie, Mantan Menteri Riset dan Teknologi Hatta Rajasa.

Hadir Pula Hamzah Haz dan Try Sutrisno. Tokoh yang pernah duduk sebagai Wakil Presiden, dan kini sahabat Megawati. Selain itu terlihat menteri Kabinet Kerja era Jokowi, yakni Menteri Pertanian Amran, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, Menteri Desa Eko Putro Sandjojo.

Reporter: Putu Merta Surya Putra

Sumber : Liputan6.com

(mdk/ray)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP