Berat Badan 47 Kg, Nurul Arifin Ngaku Sempat Diejek 'Gendut'

Minggu, 17 Februari 2019 03:03 Reporter : Aksara Bebey
Berat Badan 47 Kg, Nurul Arifin Ngaku Sempat Diejek 'Gendut' Nurul Arifin di Bandung. ©2019 Merdeka.com

Merdeka.com - Nurul Arifin mengimbau semua masyarakat untuk tidak lagi melakukan tindakan body shaming. Bagi para korban, ia meminta untuk berani melawan dan melaporkannya kepada pihak kepolisian.

Hal itu ia sampaikan usai mengisi acara seminar bertema perisakan atau perundungan tubuh di Jalan Pelajar Pejuang, Sabtu (16/2). Politisi partai Golkar ini pun mengaku pernah menjadi korban perisakan saat membangun karir di dunia hiburan.

Banyak rekan maupun orang yang tak dikenalnya mengomentari dan mengejek bentuk tubuhnya saat ia menjadi model maupun aktris. Sempat merasa terpuruk karena kata-kata tersebut, namun ia memutuskan untuk melawan dengan sikap yang tegas.

"Waktu saya jadi model dan aktris, jaman dulu saya sering lho disebut hidung gede, gemuk karena waktu itu berat badan saya 47 kg. Dulu saya enggak bisa mengadukan hal ini karena kan enggak ada hukum yang mengatur itu (body shaming). Makanya saya lawan," katanya.

Menurutnya, setelah sempat terpuruk, ia memilih tetap percaya diri dengan bentuk tubuh dan pikirannya fokus menyimpulkan bahwa setiap manusia memiliki bentuk tubuh unik tersendiri.

"Saya bilang, gapapa hidung gede, itu bawa hoki. Enggak apa gemuk, tapi tetap dapat peran (film). Ya saya lawan dengan karya juga, saya buktikan kapasitas saya, kemampuan saya. Saya enggak fokus ke fisik," ia melanjutkan.

Maju ke masa sekarang yang mana kemajuan teknologi informasi sudah berkembang, perisakan terhadap tubuh seseorang tetap terjadi. Contohnya, komentar negatif netizen yang dilontarkan di media sosial.

Ia mengklaim, banyak masyarakat, khusunya perempuan yang tertekan dengan perisakan tersebut hingga memaksakan diri mengubah bentuk tubuhnya agar bisa disebut ideal. Ia mengingatkan, tindakan perisakan saat ini sudah bisa diadukan melalui jalur hukum melalui Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Body shaming dikategorikan menjadi dua tindakan. Tindakan pertama saat seseorang mentransmisikan narasi berupa hinaan, ejekan terhadap bentuk, wajah, warna kulit, postur seseorang menggunakan media sosial. Hal ini bisa dikategorikan masuk UU ITE (Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik) Pasal 45 ayat 1 dan Pasal 27 ayat 3, dapat diancam hukuman pidana 6 tahun.

Tindakan kedua, apabila melakukan body shaming tersebut secara verbal, langsung ditujukan kepada seseorang, dikenakan Pasal 310 KUHP dengan ancaman hukumannya 9 bulan. Kemudian body shaming yang langsung ditujukan kepada korban, dilakukan secara tertulis dalam bentuk narasi, melalui transmisi di media sosial, dikenakan Pasal 311 KUHP dengan hukuman 4 tahun.

"Makanya sekarang yang jadi korban bully, diejek bentuk tubuh harus berani melawan, sekaligus harus percaya diri. Sebaliknya, yang sering membully hati-hati karena perbuatannya bisa berujung hukuman penjara," tegasnya.

Dari informasi yang dihimpun, sepanjang tahun 2018, polisi mencatat 966 kasus penghinaan fisik atau body shaming di seluruh Indonesia sepanjang 2018. Sebanyak 347 kasus di antaranya selesai, baik melalui penegakan hukum maupun pendekatan mediasi antara korban dan pelaku. [rhm]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini