World Women Day 2026: Kemenkes Soroti Urgensi Pencegahan Demensia Perempuan Lansia

World Women Day 2026 menjadi momentum strategis bagi Kementerian Kesehatan menyoroti urgensi Pencegahan Demensia Perempuan Lansia, mengingat proporsi kasus yang lebih besar pada kaum hawa akibat berbagai faktor.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
World Women Day 2026: Kemenkes Soroti Urgensi Pencegahan Demensia Perempuan Lansia
World Women Day 2026 menjadi momentum strategis bagi Kementerian Kesehatan menyoroti urgensi Pencegahan Demensia Perempuan Lansia, mengingat proporsi kasus yang lebih besar pada kaum hawa akibat berbagai faktor. (AntaraNews)

Jakarta, 08 Maret 2026 – Peringatan World Women Day 2026 dengan tema "Give to Gain" menjadi momentum krusial bagi Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk menyoroti urgensi pencegahan demensia pada perempuan lansia. Kemenkes menekankan pentingnya perhatian terhadap kesehatan kaum hawa yang memasuki usia senja, mengingat proporsi kasus demensia yang signifikan pada kelompok ini.

Demensia telah menjadi isu kesehatan masyarakat global yang serius, memengaruhi puluhan juta individu di seluruh dunia. Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, Imran Pambudi, menyatakan bahwa jumlah penderita diperkirakan akan terus meningkat tajam seiring dengan penuaan populasi.

Studi menunjukkan bahwa perempuan menanggung beban kasus demensia yang lebih besar dibandingkan laki-laki; untuk Alzheimer, sekitar dua pertiga kasus dilaporkan terjadi pada perempuan. Fenomena ini tidak hanya disebabkan oleh harapan hidup perempuan yang lebih panjang, tetapi juga oleh kombinasi faktor biologis, sosial, dan ekonomi yang mengurangi cadangan kognitif mereka.

Demensia: Beban Global dan Tantangan Spesifik bagi Perempuan Lansia

Proyeksi internasional mengindikasikan lonjakan signifikan kasus demensia dalam beberapa dekade mendatang, yang akan memperbesar beban sosial, ekonomi, dan layanan kesehatan jika langkah pencegahan serta perawatan tidak diperkuat. Peningkatan ini terjadi lebih cepat di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, termasuk banyak di Asia Tenggara.

Faktor-faktor pendorong kenaikan kasus demensia di wilayah tersebut meliputi peningkatan harapan hidup, prevalensi faktor risiko kardiometabolik yang bertumbuh, serta keterbatasan akses terhadap pendidikan dan layanan kesehatan. Kondisi ini menciptakan tantangan kompleks dalam upaya penanganan demensia.

Perempuan lansia di negara-negara ini sering menghadapi hambatan ganda, yaitu akses layanan yang lebih rendah dan beban peran keluarga yang berat. Oleh karena itu, intervensi pencegahan yang sensitif gender menjadi sangat penting untuk mengatasi ketidakadilan ini dan melindungi kesehatan kognitif mereka.

Di Indonesia, pola prevalensi demensia pada lansia konsisten dengan temuan global, menunjukkan bahwa lebih banyak perempuan yang terdampak. Faktor lokal seperti perbedaan tingkat pendidikan antar generasi, akses layanan kesehatan primer, dan beban sosial perempuan memperkuat kebutuhan akan program pencegahan yang menargetkan perempuan secara spesifik.

Strategi Efektif untuk Pencegahan Demensia Perempuan Lansia

Laporan "Dementia prevention, intervention, and care: 2020" dari Lancet Commission merangkum bukti kuat tentang 12 faktor risiko demensia yang bersifat bisa dimodifikasi sepanjang hidup. Laporan ini menyimpulkan bahwa intervensi pada faktor-faktor tersebut berpotensi mencegah atau menunda sebagian besar kasus demensia secara signifikan.

Beberapa langkah pencegahan yang paling relevan dan dapat diimplementasikan di tingkat individu dan komunitas meliputi kontrol tekanan darah sejak usia 30-an, aktivitas fisik teratur, serta stimulasi kognitif dan pendidikan seumur hidup, seperti mengikuti kursus. Langkah-langkah ini krusial untuk menjaga kesehatan otak.

Program pencegahan yang menargetkan perempuan di Indonesia dapat mencakup skrining tekanan darah, pemeriksaan pendengaran, dan program aktivitas fisik berbasis komunitas. Ini adalah upaya konkret untuk meningkatkan cadangan kognitif dan mengurangi risiko demensia pada perempuan lansia.

Kemenkes menekankan bahwa dengan menginvestasikan sumber daya, perhatian, dan kebijakan yang nyata, mulai dari pencegahan hingga perawatan pascadiagnosis yang holistik, setiap pemangku kepentingan memiliki peran penting. Pemerintah, masyarakat, dan keluarga harus saling melengkapi dalam mengurangi beban demensia pada perempuan dan meningkatkan kualitas hidup mereka.

Langkah-langkah pencegahan demensia yang direkomendasikan Kemenkes dan Lancet Commission meliputi:

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi