Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Viral Video Bocah Menangisi Ayah yang Meninggal Dunia di Gubuk

Viral Video Bocah Menangisi Ayah yang Meninggal Dunia di Gubuk Tangkapan layar bocah menangisi jasad ayahnya di dalam gubuk. ©2022 Merdeka.com/Istimewa

Merdeka.com - Video seorang remaja menangis di dekat jenazah ayahnya di sebuah gubuk viral di media sosial. Warganet terenyuh melihat kesedihan si bocah dan kondisi gubuk mereka yang sangat memprihatinkan.

Salah satu akun yang membagikan postingan ini yakni akun instagram @banyuasinterkini. Akun ini menyebut peristiwa itu terjadi di Desa Gilirang, Kecamatan Muara Sugihan, Banyuasin, Sumatera Selatan.

Akun itu menarasikan remaja bertopi merah itu menangis karena ayahnya meninggal dunia di sebuah gubuk di Desa Gilirang, Banyuasin. Desa itu diketahui masuk dalam Kecamatan Muara Sugihan.

Jasad sang ayah terbujur kaku berselimut kain di dalam gubuk yang nyaris tak berdinding. Gubuk yang disangga tiang itu layaknya pondok di tengah sawah. Di bawahnya juga tampak genangan air.

Warga Lampung Timur

Pria yang meninggal dunia diketahui bernama Andi Arsyad (70), warga asal Lampung Timur. Andi dan anaknya merupakan perantauan yang sering balik ke kampung itu.

Dalam narasi disebutkan bahwa ayah dan anak itu sudah pernah dibantu warga untuk pulang ke Lampung. Mereka juga diberi warga uang sebagai ongkos naik angkutan ke kampungnya.

Setelah sempat pergi, keduanya kembali balik ke Desa Gilirang. Warga pun membangunkan pondok bagi keduanya, karena mereka sering menumpang istirahat di rumah warga.

Penjelasan Camat

Camat Muara Sugihan Welli Ardiansyah menjelaskan, peristiwa itu benar terjadi di wilayah pemerintahannya pada Kamis (7/4). Anak yang menangis dalam video tersebut bernama Dedek (17) dan ayahnya yang meninggal adalah Andi Arsyad (70). Dia pun mengamini keduanya merupakan perantaun asal Lampung Timur.

"Iya benar, itu kejadiannya di Desa Gilirang, Kecamatan Muara Sugihan," ungkap Welli, Selasa (12/4).

Welly meluruskan informasi yang menyebar lebih dulu ke masyarakat melalui media sosial. Diakuinya, video itu menyayat hati dan memprihatinkan melihat anak meratapi kematian ayahnya di pondok kayu tak layak huni yang hanya berdinding papan bolong dan beratap daun nipah.

Dari keterangan yang didapat, Dedek menangis karena menyesal tidak mau tinggal bersama ayahnya di pondok itu. Dedek mengetahui sang ayah sudah meninggal saat menjenguknya.

"Putranya yang pertama tahu, dia menyesal tidak mau tinggal bersama ayahnya, makanya di menangis sedih," ujarnya.

Jenazah Telah Dimakamkan Warga

Mengetahui kejadian itu, warga desa mengevakuasi jenazah. Setelah tercapai kesepakatan, jenazah dimakamkan dan dilanjutkan takziah di rumah salah satu warga.

"Kami sampaikan begitu jangan sampai salah persepsi di masyarakat," kata dia.

Dia menjelaskan, ayah dan anak itu awalnya datang ke Desa Gilirang untuk mengadu nasib. Sudah berulang kali warga dan pemerintah setempat memberikan mereka akomodasi untuk pulang ke Lampung, namun terus kembali ke Gilirang.

Anak Bekerja sebagai Pemanjat Kelapa

Alhasil, keduanya tinggal di desa itu. Dedek bekerja sebagai pemanjat kelapa. Sementara ayahnya tak lagi bekerja karena sudah berusia lanjut.

Warga kompak membangunkan mereka gubuk atau pondokan sebagai tempat tinggal dari hasil sumbangan sukarela warga.

"Nah begitu pondok sudah dibuatkan, anaknya malah tidak mau tinggal di sana. Saat dia kembali, dia menemukan ayahnya sudah meninggal dan anak itu menyesal," pungkasnya.

(mdk/yan)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP