Ulama pejuang, KH Saleh Lateng diperjuangkan Guntur Romli jadi Pahlawan Nasional

Kader Muda Nahdlatul Ulama, Mohamad Guntur Romli akan memperjuangkan Kiai Haji Muhammad Saleh yang lebih dikenal KH Saleh Lateng, menjadi Pahlawan Nasional. KH Saleh Lateng merupakan salah seorang pendiri NU dari Banyuwangi.

Mardani
Oleh Mardani - Reporter
Ulama pejuang, KH Saleh Lateng diperjuangkan Guntur Romli jadi Pahlawan Nasional
Guntur Romli. ©2018 Merdeka.com

Kader Muda Nahdlatul Ulama, Mohamad Guntur Romli akan memperjuangkan Kiai Haji Muhammad Saleh yang lebih dikenal KH Saleh Lateng, menjadi Pahlawan Nasional. KH Saleh Lateng merupakan salah seorang pendiri NU dari Banyuwangi.

"KH Saleh Lateng salah seorang pendiri NU, terlibat dalam perumusan Komite Hijaz tanggal 31 Januari 1926 yang menjadi hari lahir NU, beliau juga ulama pejuang yang melakukan konfrontasi terhadap penjajah, baik secara fisik atau secara budaya," kata Guntur Romli, Sabtu (14/4).

Tokoh asal Situbondo ini mengutip cerita yang pernah disampaikan oleh KHR As'ad Syamsul Arifin, Pahlawan Nasional dari Situbondo terkait perlawanan budaya KH Saleh Lateng saat itu.

"KH Saleh Lateng melarang para santri dan umat saat itu memakai celana, jas, dasi, tetap memakai kopiah dan sarung sebagai perlawanan kultural terhadap Pemerintah Kolonial, ini juga diperintahkan oleh Hadlratus Syaikh KH Hasyim Asy'ari, Rais Akbar NU saat itu," katanya.

Dia juga menjelaskan, dalam konfrontasi fisik, KH Saleh Lateng juga terlibat dalam perumusan Resolusi Jihad 21-22 Oktober 1945 yang melahirkan Pertempuran 10 November 1945. KH Saleh Lateng juga terlibat dalam pertempuran itu.

"Sebagai seorang yang alim dan menguasai kitab-kitab, diceritakan KH Wahid Hasyim yang pada masanya menjadi menteri agama mencari-cari sebuah kitab, yang ternyata dikoleksi oleh KH Saleh Lateng, ini menunjukkan penguasaan beliau atas keilmuan Islam," kata tokoh muda NU yang kini mencalonkan sebagai anggota legislatif dari PSI ini.

Menurutnya, warisan yang paling nyata dari KH Saleh Lateng adalah Gerakan Pemuda (GP) Ansor yang berdiri pada 24 April 1934, di tengah Muktamar NU ke-9 tanggal 21-26 April 1934. Saat itu Ansor masih bernama ANO yakni Ansor Nahdlatoel Oelama.

"Pada tanggal 24 bulan ini GP Ansor akan merayakan hari lahir ke 84 tahun," kata Guntur Romli yang juga aktif di GP Ansor.

Karena itu, dia menilai, sudah semestinya negara memberikan penghormatan terhadap KH Saleh Lateng sebagai Pahlawan Nasional.

"Bangsa ini membutuhkan banyak tauladan tokoh dari ulama yang memadukan antara perjuangan keagamaan dengan perjuangan kebangsaan, yang setia dan komitmen pada Islam dan NKRI, di tengah merebaknya paham radikal yang mau membenturkan antara agama dengan bangsa dan negara, bangsa ini bisa melihat 'bintang Timur' dari Pulau Jawa ini, KH Saleh Lateng yang menyinari perjuangan agama sekaligus negara," katanya yang menghadiri Peringatan Isra' dan Mi'raj di Masjid KH Saleh Lateng, Banyuwangi, Jumat (13/4).

Hadir pula di acara itu Pengurus Takmir Masjid KH Saleh Lateng dan keluarga KH Saleh Lateng, Ustaz Rachman Zainudin yang mendukung pernyataan Mohamad Guntur Romli.

"Tempat ini bersejarah, masjid yang sebelumnya musala tempat Mbah Buyut Kiai Saleh menyebarkan ilmu ini juga menjadi tempat keputusan-keputusan penting NU dan Ansor serta komitmen terhadap perjuangan umat Islam dan bangsa ini lahir," kata Rachman Zainudin.

Halaman
Rekomendasi