Truk Parkir Buat Macet Parah di Parung Panjang, Sopir Tolak Disalahkan

Jumat, 11 Januari 2019 10:02 Reporter : Kirom
Truk Parkir Buat Macet Parah di Parung Panjang, Sopir Tolak Disalahkan Truk di Tangerang ditinggalkan sopirnya. ©2019 Merdeka.com

Merdeka.com - Kemacetan horor yang menghantui pengguna jalan di jalur Legok Parung Panjang disebabkan antrian truk bertonase besar yang terparkir. Hal itu buntut Perbup Bupati Tangerang terkait pembatasan waktu melintas truk jumbo.

Tak sedikit warga geram dengan si sopir yang main parkir di bahu jalan sempit. Namun, para sopir menolak untuk disalahkan. Mereka hanya melakukan tugas.

"Kami mah kerja mencari makan buat keluarga, enggak bisa disalahkan juga," ucap sopir truk lintas Legok-Parung Panjang, Jumat (11/1).

Menurut dia, parkirnya kendaraan truk di badan jalan, lebih karena tidak adanya kesiapan pemerintah mengatur jam operasional truk angkutan barang.

"Harusnya pemerintah sebelum bikin aturan disiapin dulu dimana kami bisa parkir biar enggak ganggu pengguna jalan lain," ucap dia.

Sopir truk berplat B itu, lanjutnya, hanya berusaha semaksimal mungkin untuk bisa memacu kendaraannya menyelesaikan pekerjaan membawa barang tambang.

"Kalau bicara kerugian kami juga rugi, harusnya bisa dua rit. Ini dua hari baru cuma satu rit. Coba inikan pendapatan hilang satu hari buat di jalan menunggu," terangnya.

Warga Akui Kemacetan Makin Parah Usai Perbup Keluar

Saleh, warga Parung Panjang mengaku kemacetan yang disebabkan oleh antrian panjang truk jumbo ini, terjadi setiap hari di jalur tersebut.

"Sudah setiap hari, dulu sebelum ada Perbup Tangerang, enggak separah ini. Kalau kami warga inginnya truk itu dibatasi, karena efeknya buruknya lebih banyak, debu, jalan cepat rusak, dan kecelakaan tinggi. Tapi kalau melihat ini harusnya juga dievaluasi," kata dia.

Karena menurut Saleh, imbas kemacetan tersebut, akses ekonomi masyarakat juga terganggu.

"Belum anak sekolah harus berangkat pagi, yang kerja, yang berdagang. Jadi repot semua. Tolonglah, kami minta Pemerintah, Polisi pengusaha tambang melihat ini," katanya.

Pantauan di lokasi, antrian truk jumbo memakan satu ruas badan jalan yang tak terlalu lebar. Sisa badan jalan hanya cukup dilalui kendaraan bermotor. Itu pun pemotor dari sejumlah arah. Sedangkan, mobil ada yang mencari alternatif lain namun, tak sedikit yang nekat melewati ruas jalan tersebut. Praktis, kemacetan parah terjadi.

Sementara itu, sopir dan kernet truk tambang hanya bisa menunggu perbatasan dibuka kembali. Sembari menunggu, mereka membunuh waktu dengan bermacam kegiatan. Ada yang beristirahat, mengecat bagian mobil, memeriksa ban dan melakukan perbaikan kecil-kecil pada mobil truk mereka.

"Ya ngapain, ngopi-ngopi saja sambil nunggu," kata seorang kernet truk.

Perbup Tangerang Mulai Berlaku 14 Desember 2018

Sebelumnya, Bupati Tangerang, A Zaki Iskandar membatasi operasional sejumlah truk jumbo melalui peraturan Nomor 47 Tahun 2018 tentang pembatasan waktu operasional mobil barang, truk tanah, pasir dan batu pada ruas jalan Kabupaten Tangerang.

"Berdasarkan aturan setelah sosialisasi selama 30 yang kami lakukan, maka tanggal (14/12/2018), besok mulai pukul 05.00 WIB. Kami bersama jajaran terkait Satpol PP, Dishub, TNI dan Polri, akan melakukan penertiban dan penegakan Perbup," ucap Zaki, Rabu (12/12).

Menurut Zaki, berdasarkan amanat Undang-undang Penertiban dan Penegakan Perbup dilakukan setelah 30 hari masa sosialisasi, yakni tanggal 13 Desember 2018 besok.

"Jadi tanggal 14 Desember pukul 05.00 WIB kita akan tertibkan kendaraan bertonase berat mulai jam operasional yang telah dikeluarkan," katanya.

Dengan resmi diberlakukan Perbup itu, Pemerintah Kabupaten Tangerang juga meminta masyarakat bersabar dan tidak melakukan hal-hal yang merugikan masyarakat umum.

"Untuk masyarakat mohon bersabar, tidak melakukan tindakan-tindakan yang merugikan, anarkis," ucap Zaki. [rhm]

Topik berita Terkait:
  1. Kemacetan
  2. Truk
  3. Tangerang
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini