Tradisi Unik Ngaseuk Badui: Ribuan Warga Badui Serentak Tanam Padi Gogo di Lahan Darat, Pakai Batang Pohon!

Masyarakat Badui di Lebak, Banten, memulai tradisi Ngaseuk Badui, menanam padi gogo secara serentak dengan cara unik. Bagaimana mereka menjaga ketahanan pangan di tengah tantangan?

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Tradisi Unik Ngaseuk Badui: Ribuan Warga Badui Serentak Tanam Padi Gogo di Lahan Darat, Pakai Batang Pohon!
Masyarakat Badui di Lebak, Banten, memulai tradisi Ngaseuk Badui, menanam padi gogo secara serentak dengan cara unik. Bagaimana mereka menjaga ketahanan pangan di tengah tantangan? (AntaraNews)

Masyarakat Suku Badui di pedalaman Kabupaten Lebak, Banten, baru-baru ini memulai tradisi turun-temurun yang dikenal sebagai 'Ngaseuk'. Proses ini melibatkan penanaman padi gogo secara serentak di lahan darat, menandai dimulainya musim tanam penting bagi komunitas adat tersebut. Tradisi ini tidak hanya menunjukkan kearifan lokal dalam pertanian, tetapi juga memperkuat ikatan sosial melalui praktik gotong royong.

Penanaman padi gogo dilakukan dengan metode yang sangat tradisional dan unik. Warga Badui melubangi tanah menggunakan batang pohon, kemudian memasukkan dua butir gabah ke setiap lubang yang telah dibuat. Metode ini telah diwariskan dari generasi ke generasi, memastikan keberlanjutan praktik pertanian yang ramah lingkungan dan sesuai dengan adat istiadat mereka.

Sekretaris Desa Kanekes, Medi, menyatakan bahwa seluruh masyarakat Badui melaksanakan Ngaseuk secara serentak dan bergotong royong. "Kami setiap ngaseuk padi secara serentak dengan gotong royong itu," ujarnya, menggambarkan semangat kebersamaan yang menjadi inti dari tradisi ini.

Gotong Royong dan Kalender Adat dalam Ngaseuk Padi Badui

Tradisi Ngaseuk padi gogo diawali di lahan milik Djaro Oom, Kepala Desa Kanekes, yang melibatkan sekitar 300 warga. Kegiatan ini menjadi simbol dimulainya musim tanam bagi seluruh komunitas Badui, di mana setiap hari masyarakat secara bergantian menanam padi huma varietas lokal untuk mempercepat penyelesaian penanaman.

Sistem gotong royong dalam Ngaseuk sangat terstruktur. Jika satu kampung memiliki 100 kepala keluarga yang akan menanam padi gogo di lima lokasi berbeda, maka mereka akan saling membantu dengan masing-masing 20 orang per titik. "Kami sejak turun-temurun jika memasuki ngaseuk padi gogo dilakukan gotong royong dengan bergantian agar cepat selesai melakukan tanam," tambah Medi.

Setelah merampungkan Ngaseuk padi huma, masyarakat Badui akan kembali menggarap lahan lainnya. Mereka menanam berbagai komoditas seperti pisang, palawija, dan sayuran dengan cara tumpang sari di satu kawasan lahan. Penanaman padi gogo ini dilaksanakan berdasarkan kalender adat, dan saat ini mereka merasa beruntung karena cuaca sering berupa curah hujan tinggi, yang mendukung pertumbuhan padi.

Ketahanan Pangan Badui: Peran Leuit dan Padi Huma Lokal

Padi huma atau padi gogo yang ditanam oleh masyarakat Badui merupakan varietas lokal yang telah dikembangkan sejak nenek moyang mereka. Padi jenis ini dikenal tahan terhadap kekeringan dan dapat dipanen setelah enam bulan. Uniknya, masyarakat Badui dilarang menanam padi di lahan persawahan menggunakan cangkul dan bajak kerbau, menjaga keaslian metode pertanian mereka.

Deni Iskandar, Kepala Bidang Produksi Dinas Pertanian Kabupaten Lebak, menegaskan bahwa masyarakat Badui belum pernah mengalami kerawanan pangan atau kelaparan. Hal ini berkat sistem ketahanan pangan yang kuat, terutama keberadaan 'leuit' atau rumah pangan. "Masyarakat Badui sejak dahulu hingga saat ini memiliki kedaulatan pangan dengan memiliki leuit untuk menyimpan gabah padi hasil panen," jelas Deni.

Masyarakat Badui memiliki sekitar 8.000 leuit dari 4.000 keluarga, dengan jumlah penduduk 13.309 jiwa. Jika rata-rata satu lumbung dapat menyimpan tiga ton gabah, maka total cadangan pangan mereka mencapai 24 ribu ton gabah. Cadangan ini sangat vital untuk memenuhi ketersediaan pangan dan melindungi mereka dari dampak buruk seperti El Nino atau gagal panen. "Kami meyakini stok pangan di lumbung itu bisa dijadikan pangan keluarga jika terserang hama maupun bencana alam," tutup Deni.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi