Tim SAR kerahkan tiga alat untuk deteksi bangkai kapal pesawat di dasar laut
Merdeka.com - Direktur Operasi Basarnas, Brigjen Bambang Suryo Aji mengatakan operasi pencarian tetap dilakukan selama 24 jam. Hanya saja untuk penyelaman telah dihentikan karena cuaca pada malam hari tak bersahabat dan visibilitas (jarak pandang) bawah laut juga terbatas.
"Sehingga untuk operasi pencarian di atas permukaan air dengan menggunakan kapal-kapal tetap kita laksanakan. Dan kapal-kapal yang sudah disiapkan di antaranya adalah KRI Rigel sampai saat ini masih melakukan operasi," jelas dia di Gedung Basarnas, Kemayoran, Jakarta Pusat, Senin (29/10) malam.
Selain KRI Rigel, kapal Baruna Jaya milik BPPT juga dikerahkan untuk mencari lokasi badan pesawat. "Kemudian juga saya sudah koordinasikan dengan pihak Asosiasi Kontraktor Survei Laut Indonesia akan mengerahkan tiga alat, yaitu sense and sonar, multibeam echosounder, dan tim locator. Tiga alat itu akan ditaruh di dua kapal; satu di KR SAR Basudewa Jakarta dan dua alat akan ditaruh di kapal Pertamina. Jadi total ada empat kapal yang malam ini rencananya akan memastikan adanya bangkai kapal tersebut," paparnya.
Operasi pada Selasa (30/10) pagi akan ditambah dengan menggunakan pencarian via udara. Untuk ini, Basarnas akan mengerahkan dua helikopter.
"Kemudian pencarian atas permukaan kita lanjutkan juga dari malam ini sampai dengan pagi termasuk pendeteksian kemungkinan memastikan adanya bangkai kapal pesawat di dasar laut," imbuhnya.
Untuk operasi pencarian ini ditetapkan dua daerah prioritas. Daerah prioritas pertama adalah pencarian bawah air. Untuk pelaksanaan operasi yang dilakukan empat kapal yang telah disiapkan yaitu KRI Rigel, KR SAR Basudewa Jakarta, kapal Baruna Jaya milik BPPT dan kapal Pertamina.
Sedangkan daerah prioritas kedua untuk melakukan pencarian di atas permukaan air. Di daerah prioritas dua ini dikerahkan 15 unit kapal terdiri dari kapal Basarnas, Kementerian Perhubungan, Polair, KPLP, dan kapal Beacukai.
"Di daerah prioritas dua ini mengikuti dengan perkembangan arus dan angin pada saat besok melakukan kegiatan pencarian," kata Bambang.
"Search area helikopter besok kita sudah tentukan menggunakan dua heli untuk mencari dan melihat kemungkinan masih adanya serpihan-serpihan yang terbawa oleh gelombang maupun arus maupun air pada saat H+2," pungkasnya.
Basarnas memprediksi masih banyak penumpang pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT 610 terjebak di dalam badan pesawat. Malam ini pencarian bangkai pesawat terus dilakukan oleh empat kapal.
Dia menyampaikan kendala belum ditemukannya badan pesawat kemungkinan karena lokasinya telah bergeser dari titik pertama kali pesawat yang membawa 189 orang ini jatuh. Perpindahan lokasi ini bisa disebabkan oleh arus bawah laut.
"Lokasi koordinat sudah kita tentukan berdasarkan last contact. Begitu dilakukan penyelaman tidak ada. Mungkin tempat lain, di tempat yang bukan last contact itu," jelasnya.
"Arus bawah laut salah satunya (kenapa lokasi badan pesawat berpindah). Kedua, bisa saja saat last contact itu tidak tepat posisinya saat itu bisa berubah. Karena bisa saja titik itu sudah diselami tapi belum ditemukan sehingga mungkin perlu digeledah lagi untuk mengecek posisi bangkai kapal itu," sambungnya.
Tim penyelam akan kembali melakukan operasi pada Selasa (30/10) pagi. Penyelaman dihentikan Senin petang karena visibilitas yang semakin berkurang.
"Besok pagi kita mulai lagi. Besok pagi lengkap baik penyelaman kapal-kapal dengan TNI semuanya. Sepagi mungkin jam tujuh juga akan kita mulai," kata Bambang.
Penyelaman yang dilakukan tim mencapai kedalaman sekitar 30 sampai 35 meter. Pada operasi penyelaman besok kemungkinan personil akan ditambah termasuk dari penyelam profesional.
"Beberapa teman-teman dari penyelam profesional juga sudah kontak dengan kita. Kalau mau gabung silakan, tetap leadernya ada di Basarnas," ujarnya.
Terkait penumpang yang masih belum ditemukan, Bambang mengatakan tubuh mereka bisa bertahan sekitar sepekan atau tergantung cepat atau lambatnya diurai oleh bakteri. Jika terlalu lama belum ditemukan, dia memprediksi tubuh penumpang akan keluar terbawa arus dari dalam badan pesawat.
"Prediksi saya masih terjebak di dalam kapal (pesawat). Kalau tidak, mungkin satu, dua atau tiga hari pasti akan mengapung," tutupnya.
(mdk/ded)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya