Tim SAR Gabungan Cari Warga Hilang Terseret Ombak di Lombok Tengah di Tengah Peringatan Cuaca Ekstrem
Tim SAR gabungan intensif mencari Rustam, warga yang hilang terseret ombak di Pantai Torok Aik Belek, Lombok Tengah, di tengah peringatan cuaca ekstrem yang dikeluarkan BMKG.
Tim SAR gabungan bersama nelayan sedang melakukan pencarian terhadap Rustam (45), seorang warga dari Desa Montong Ajan, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), yang dilaporkan hilang. Rustam terseret ombak saat mencari nyale di Pantai Torok Aik Belek pada Sabtu dini hari, 7 Maret 2026. Camat Praya Barat Daya, Husnan, mengonfirmasi upaya pencarian yang melibatkan berbagai pihak.
Peristiwa nahas ini bermula ketika korban bersama anaknya dan warga lainnya turun ke laut di Pantai Torok Aik Belek untuk mencari nyale (cacing laut) yang dipercaya merupakan jelmaan Putri Mandalika pada Sabtu dini hari. Mereka menggunakan jaring, ember, dan lampu senter untuk aktivitas tradisional tersebut. Kondisi laut yang tidak terduga menyebabkan insiden tragis ini.
Anak korban menjadi saksi mata pertama saat melihat ayahnya terseret arus ombak yang kuat di pantai. Segera setelah kejadian, anak korban memberitahu warga sekitar dan Kepala Dusun, yang kemudian menginisiasi laporan dan upaya pencarian. Tim SAR gabungan segera dikerahkan ke lokasi kejadian.
Pencarian Intensif oleh Tim SAR Gabungan
Tim SAR gabungan, yang terdiri dari unsur TNI, Polri, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan serta nelayan setempat, telah dikerahkan untuk menyisir area Pantai Torok Aik Belek. Mereka berupaya menemukan Rustam yang hilang terseret ombak. Pencarian dilakukan secara menyeluruh di sepanjang garis pantai dan perairan sekitarnya.
Camat Praya Barat Daya, Husnan, menyatakan bahwa warga juga turut aktif membantu proses pencarian bersama tim SAR. Solidaritas masyarakat sangat terlihat dalam upaya menemukan korban. Semua pihak berharap Rustam dapat segera ditemukan dalam kondisi selamat.
Koordinasi yang baik antara berbagai elemen tim SAR dan masyarakat menjadi kunci dalam operasi ini. Kondisi cuaca ekstrem yang melanda wilayah NTB menjadi tantangan tersendiri bagi tim di lapangan. Mereka harus bekerja ekstra hati-hati menghadapi gelombang tinggi.
Peringatan Dini Cuaca Ekstrem dari BMKG
Insiden hilangnya Rustam terjadi di tengah peringatan cuaca ekstrem yang dikeluarkan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk wilayah Nusa Tenggara Barat. BMKG memprakirakan potensi cuaca ekstrem ini berlangsung dari tanggal 3 hingga 8 Maret 2026. Peringatan ini penting untuk diperhatikan oleh seluruh masyarakat.
Kepala Stasiun Meteorologi Zainuddin Abdul Madjid (ZAM), Satria Topan Primadi, menjelaskan bahwa dinamika atmosfer menunjukkan aktivitas signifikan di sekitar NTB. Kondisi ini berpotensi memicu gelombang tinggi dan angin kencang. Masyarakat diimbau untuk selalu waspada terhadap perubahan cuaca.
BMKG telah mengidentifikasi keberadaan dua bibit siklon tropis, yaitu bibit siklon tropis 90S di Samudera Hindia selatan Pulau Jawa dan bibit siklon tropis 93S di Samudera Hindia barat Australia. Kedua bibit siklon ini memiliki peran besar dalam memengaruhi kondisi cuaca di NTB. Kehadiran bibit siklon ini meningkatkan risiko cuaca buruk.
Dampak Bibit Siklon dan Gelombang Atmosfer
Kemunculan dua bibit badai tropis secara bersamaan ini berkontribusi terhadap peningkatan suplai massa udara basah dan penguatan pertumbuhan awan hujan di Nusa Tenggara Barat. Akibatnya, potensi hujan dengan intensitas sedang hingga sangat lebat disertai petir atau kilat dan angin kencang menjadi sangat tinggi. Kondisi ini memperburuk situasi di perairan.
Selain itu, gelombang atmosfer yang aktif seperti Madden-Julian Oscillation (MJO), gelombang Low Frequency, dan gelombang Kelvin turut memperkuat proses konvektif di Nusa Tenggara Barat. Fenomena-fenomena atmosfer ini saling berinteraksi. Kombinasi faktor-faktor ini menciptakan kondisi cuaca yang tidak stabil.
Kondisi atmosfer diperparah oleh perlambatan kecepatan angin serta kelembapan udara yang cenderung basah di berbagai lapisan atmosfer. Satria Topan Primadi menambahkan bahwa kondisi ini berpotensi meningkatkan pertumbuhan awan kumulonimbus. Hampir seluruh kabupaten dan kota di NTB berpeluang terdampak cuaca ekstrem ini, termasuk potensi gelombang tinggi di pesisir.
Sumber: AntaraNews