Rakijan (49), warga RT 09 poros Sangasanga-Muara Jawa, Kutai Kartanegara, hanya bisa menatap rumahnya yang kini amblas akibat longsor. Peristiwa itu benar-benar di luar dugaan.
Merdeka.com menyambangi lokasi kejadian. Jaraknya sekira 35 kilometer dari kota Samarinda. Badan jalan benar-benar putus. Enam rumah ambruk. Di dekat situ, seorang pria dengan baju hitam bergambar Presiden Pertama RI, Sukarno, berdiri mematung memandang rumah yang amblas. Pria itu bernama Rajikan. Ada banyak kenangan dalam rumah itu. Ikut tertimbun longsor.
"Dulu, saya lama tinggal ngontrak di situ (sambil menunjuk ke arah rumah yang ambruk akibat longsor). Sekarang, rumahnya sudah hilang," kata Rakijan, mengawali perbincangan bersama merdeka.com, siang tadi.
Kini Rakijan menumpang di rumah yang berada di seberang jalan yang longsor. Dia tinggal bersama istri dan dua anaknya di sebuah bangsal. Karena retakan tanah, perlahan terus melebar, dia terpaksa mengungsi.
"Saya sudah kemasin barang-barang. Tapi mengungsi kemana, saya belum tahu. Sementara tinggal menumpang dulu. Ya, mau bagaimana lagi?" ungkapnya.
Rakijan ingat persis, dua hari sebelum longsor, hujan deras mengguyur. "Was-was juga sebenarnya. Itu aktivitas tambang dekat sekali dengan rumah. Rawan kalau tambang dekat rumah begitu," terangnya.
"Siang malam, alat berat tambang bekerja. Kalau malam, kita susah tidur. Ya itu tadi, kalau soal was-was itu pasti," sebutnya lagi.
Di lokasi siang ini tadi, ada terlihat bangunan rumah sudah posisi miring. Warga masih sempat mengeluarkan motor yang tersimpan di dalam, dan tilam serta beberapa perabot lain. Tapi yang jelas, rumah itu sudah tidak bisa ditinggali lagi, dan pemilik rumah pun memilih mengungsi.
Sejauh ini, belum ada alat berat yang mendekat di lokasi. Selain retakan tanah dan badan jalan terus melebar, juga dikhawatirkan mempercepat terjadinya longsor susulan.
"Kalau korban jiwa, tidak ada. Yang ada, kerugian materi. Sejauh ini perusahaan tambang PT ABN sudah cukup responsif. Kerugian materi belum bisa dikalkulasi," kata Ketua RT 09, Tukijo, dalam kesempatan yang sama.
Advertisement