Tahukah Kamu? Mahasiswa UB Kembangkan Mikroalga Rekayasa Genetik untuk Terapi Kanker Anak, Raih Penghargaan Internasional!

Tim SYNBIO UB menciptakan Ampat, inovasi terapi kanker anak berbasis mikroalga rekayasa genetik yang menjanjikan, bahkan telah diakui di kancah internasional.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Tahukah Kamu? Mahasiswa UB Kembangkan Mikroalga Rekayasa Genetik untuk Terapi Kanker Anak, Raih Penghargaan Internasional!
Tim SYNBIO UB menciptakan Ampat, inovasi terapi kanker anak berbasis mikroalga rekayasa genetik yang menjanjikan, bahkan telah diakui di kancah internasional. (AntaraNews)

Sebuah terobosan signifikan dalam dunia medis datang dari Universitas Brawijaya (UB) Malang, di mana tim mahasiswa lintas disiplin berhasil mengembangkan inovasi terapi kanker yang revolusioner. Inovasi ini berbasis mikroalga rekayasa genetik dan diberi nama Arsenal of Programmed Microalgae for Advanced Tumor Immunotherapy via Logic-Gated Genetic Circuits, atau disingkat Ampat. Proyek ambisius ini diharapkan mampu memberikan harapan baru bagi pasien kanker, khususnya anak-anak.

Riset yang diinisiasi oleh Tim SYNBIO UB ini terinspirasi langsung dari dedikasi komunitas Sahabat Anak Kanker (SAK) Malang, menunjukkan kepedulian mahasiswa terhadap isu kesehatan yang krusial. Konsep Ampat menggabungkan tiga pilar utama: prinsip rekayasa biologis, kecerdasan buatan, dan desain sistem genetika modern. Pendekatan multidisiplin ini menjadi fondasi kuat bagi pengembangan solusi terapi yang lebih efektif dan spesifik.

Ketua Tim SYNBIO UB, Melinda Cicilia Rany, mengungkapkan bahwa inovasi ini merupakan langkah awal bagi teknologi biomedis karya anak bangsa. "Pendekatan ini diharapkan menjadi langkah awal bagi teknologi biomedis buatan anak bangsa untuk berkontribusi dalam inovasi kesehatan global," kata Melinda di Malang, Jawa Timur. Tim SYNBIO UB sendiri merupakan kolaborasi mahasiswa dari Fakultas Teknologi Pertanian, Fakultas Teknik, dan Fakultas Ilmu Komputer, menunjukkan sinergi antarbidang ilmu.

Mekanisme Inovatif Ampat dalam Melawan Kanker

Mikroalga jenis Chlamydomonas reinhardtii menjadi bintang utama dalam proyek Ampat ini, mengingat potensinya yang luas dalam bidang rekayasa genetik. Mikroalga ini dimodifikasi secara khusus agar dapat berperan sebagai pembawa terapi yang mampu menarget area tumor dengan presisi tinggi. Desain ini bertujuan untuk meminimalkan efek samping pada sel sehat di sekitarnya, sebuah tantangan besar dalam terapi kanker konvensional, khususnya untuk anak-anak.

Melinda menjelaskan lebih lanjut tentang cara kerja inovasi ini. "Mikroalga ini kami rancang untuk menghasilkan oksigen di area tumor, sehingga dapat mengurangi kondisi hipoksia yang sering membuat terapi kanker kurang efektif," paparnya. Selain itu, mikroalga ini dirancang untuk hanya mengekspresikan imunomodulator ketika biomarker kanker terdeteksi melalui sistem logic gate RNA, memastikan efek terapi yang sangat spesifik dan minim efek samping.

Efek positif dari sistem Ampat ini dapat diamati dalam beberapa tahapan. Pengurangan kondisi hipoksia, yang merupakan salah satu penghambat efektivitas terapi, diperkirakan dapat terjadi dalam hitungan hari. Sementara itu, aktivasi sistem imun tubuh dan penurunan massa tumor membutuhkan waktu yang lebih lama, yakni beberapa minggu. Meskipun demikian, Melinda menegaskan bahwa proyek ini masih berada pada tahap konseptual dan memerlukan serangkaian uji in vitro serta in vivo untuk membuktikan efektivitasnya secara klinis.

Tantangan dan Prospek Pengembangan Terapi Mikroalga

Anggota Tim SYNBIO UB, Paulina Ranjita Gita Saputri, memaparkan bahwa riset ini telah berjalan selama enam bulan sejak tahap in silico. Jika proyek ini dilanjutkan ke tahap pengembangan laboratorium, dibutuhkan waktu sekitar satu hingga tiga tahun. Proses uji pra-klinis yang komprehensif untuk pengembangan terapi kanker anak diperkirakan akan memakan waktu hingga lima tahun atau lebih, mengingat kompleksitas dan standar keamanan yang tinggi dalam pengembangan terapi medis.

Dalam perjalanannya, tim menghadapi berbagai kendala teknis yang signifikan. "Dalam pengembangannya, tim menghadapi sejumlah kendala, seperti kontrol ekspresi gen yang tepat, keamanan biologis, pengiriman mikroalga ke jaringan tumor, serta efisiensi fotosintesis mikroalga di dalam tubuh manusia," ujar Paulina. Tantangan-tantangan ini menjadi fokus utama penelitian lanjutan untuk memastikan keberhasilan dan keamanan terapi.

Selain aspek teknis, SYNBIO UB juga menaruh perhatian besar pada aspek Ethical, Legal, and Social Implications (ELSI) dari riset ini. Pendekatan ELSI dilakukan melalui diskusi intensif dengan tenaga medis dan komunitas Sahabat Anak Kanker Malang. Kolaborasi ini melibatkan dr. A. Susanto Nugroho, Sp.A(K), Dr. dr. Nur Samsu (dokter spesialis kanker anak RS Saiful Anwar Malang), Nafisa Mutadiah (Sahabat Anak Kanker Malang), analis Laboratorium Riset Terpadu UB, serta perwakilan Asian Medical Students’ Association (AMSA).

Keterlibatan berbagai pihak ini memastikan bahwa riset Ampat tidak hanya berlandaskan ilmiah yang kuat, tetapi juga berpihak pada nilai-nilai kemanusiaan dan etika medis. Dukungan dari AMSA, yang berpartisipasi dalam kegiatan sosial dan promosi kesadaran akan terapi kanker yang lebih baik, semakin memperkuat landasan sosial dari inovasi ini. Tujuannya adalah menciptakan solusi kesehatan yang benar-benar bermanfaat bagi masyarakat.

Pengakuan Internasional dan Harapan Masa Depan

Riset inovatif Ampat tidak hanya menarik perhatian di lingkungan kampus, tetapi juga berhasil meraih pengakuan di tingkat internasional. Proyek ini menorehkan prestasi membanggakan pada ajang Biomolecular Design Competition (BIOMOD) 2025 yang diselenggarakan di Jilin University, Changchun, China, pada tanggal 17-19 Oktober 2025. Kompetisi bergengsi ini diikuti oleh mahasiswa dari 19 negara, menandakan tingkat persaingan yang sangat ketat.

Dalam ajang tersebut, tim SYNBIO UB berhasil membawa pulang dua penghargaan prestisius, yaitu 3rd Winner – Most Audience Favorite Project dan Bronze Project Award – Outstanding Project Contents. Pencapaian ini menjadi bukti nyata kapasitas dan potensi mahasiswa Indonesia dalam kancah riset global. Vincenzio, salah satu anggota tim, menyampaikan harapannya, "Riset ini kami harapkan dapat menjadi kontribusi nyata mahasiswa Indonesia dalam menciptakan inovasi kesehatan yang berpihak pada kemanusiaan, terutama bagi anak-anak penyintas kanker."

Tim SYNBIO UB sendiri terdiri dari delapan mahasiswa berbakat: Melinda Cicilia Rany (Bioteknologi), Paulina Ranjita Gita Saputri (Teknik Kimia), Vincenzio Jocelino (Bioteknologi), Zian Nora Berliana (Bioteknologi), Ahmad Gibran M (Bioteknologi), Ellen Oktaviona Yurianto (Bioteknologi), Rachmat Thirdi Maliki (Teknologi Informasi), dan Intan Desi Purnomo (Sistem Informasi). Mereka dibimbing oleh dosen-dosen lintas fakultas, yaitu Dr. Ir. Sudarma Dita Wijayanti, STP., M.Sc., M.P. (FTP), Tunjung Mahatmanto, STP., M.Si., Ph.D. (FTP), dan Supriyono, S.T., M.T. (FT), yang secara konsisten mendukung upaya inovasi ini.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi