Tahukah Anda? Kemenag Sumenep Libatkan 380 Pesantren dalam Gerakan Santri Jaga Bumi untuk Cegah Banjir
Kemenag Sumenep meluncurkan Gerakan Santri Jaga Bumi, sebuah inisiatif penghijauan yang akan melibatkan 380 pesantren, demi menanggulangi banjir dan melestarikan alam. Apa tujuannya?
Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, secara resmi meluncurkan program penghijauan. Inisiatif ini dikenal dengan nama Gerakan Santri Jaga Bumi sebagai upaya konkret menjaga lingkungan.
Program tersebut bertujuan utama untuk menanggulangi potensi bencana alam banjir di wilayah tersebut. Selain itu, kegiatan ini juga berfokus pada upaya menjaga kelestarian alam secara berkelanjutan.
Peluncuran perdana dilaksanakan di Pondok Pesantren Al Ibrohimy, Pragaan, Sumenep, pada hari Senin. Kegiatan ini menjadi langkah konkret Kemenag Sumenep dalam melibatkan komunitas pesantren.
Tanggung Jawab Moral dan Keagamaan Santri dalam Pelestarian Lingkungan
Kepala Kantor Kemenag Sumenep, Abdul Wasid, menjelaskan bahwa program ini merupakan wujud komitmen mencegah kerusakan alam. Ini juga merupakan pelaksanaan ajaran agama Islam yang menekankan pentingnya menjaga lingkungan.
Wasid menegaskan bahwa pesantren dan para santri memiliki tanggung jawab moral yang besar. Mereka harus aktif dalam melestarikan alam dan menciptakan lingkungan yang hijau dan sehat.
Peran aktif kalangan pesantren dan santri perlu ditingkatkan sebagai bagian dari tanggung jawab keagamaan. "Santri tidak hanya menjaga nilai-nilai agama, tetapi juga harus menjadi pelopor dalam menjaga alam sebagai bentuk pengabdian kepada Allah SWT," ujar Abdul Wasid.
Menurutnya, menjaga kelestarian alam, termasuk melalui penghijauan untuk mencegah banjir, adalah bagian dari iman. Ini juga merupakan bentuk kerja kemanusiaan yang sangat penting bagi keberlangsungan hidup.
Gerakan Santri Jaga Bumi: Melibatkan Ratusan Pesantren di Sumenep
Program Gerakan Santri Jaga Bumi oleh Kemenag Sumenep memiliki cakupan yang luas. Inisiatif ini direncanakan akan menyasar sebanyak 380 lembaga pondok pesantren yang tersebar di seluruh wilayah Sumenep.
Abdul Wasid menggarisbawahi perbandingan peran santri di masa lalu dan masa kini. "Jika dulu santri berjuang memperebutkan kemerdekaan bangsa ini, maka di masa kini santri harus berjuang mengisi kemerdekaan," katanya.
Salah satu bentuk perjuangan mengisi kemerdekaan tersebut adalah melalui partisipasi aktif dalam Gerakan Santri Jaga Bumi. Kegiatan ini diharapkan dapat menginspirasi santri untuk menjadi agen perubahan lingkungan.
Apresiasi dan Harapan untuk Kesadaran Ekologis
Gerakan penghijauan perdana di Pondok Pesantren Al Ibrohimy ini dihadiri oleh berbagai pihak. Para santri, pengasuh pondok pesantren, perwakilan Kodim Sumenep, dan perwakilan Koramil Pragaan turut serta dalam kegiatan tersebut.
Pengasuh Pondok Pesantren Al Ibrohimy, KH M Hayatul Islam, menyampaikan apresiasinya. Ia menghargai inisiatif Kemenag Sumenep dalam menanamkan nilai-nilai ekologis berbasis keagamaan kepada para santri.
"Kami berharap kegiatan seperti ini bisa menjadi agenda rutin," ujar KH M Hayatul Islam. Ia menambahkan bahwa tujuannya agar santri tidak hanya cakap dalam ilmu agama, tetapi juga sadar akan tanggung jawab ekologis.
Melalui program Gerakan Santri Jaga Bumi, lembaga pesantren diharapkan mampu memperkuat kesadaran ekologis generasi muda. Khususnya para santri, diharapkan terus menjaga bumi dan mewujudkan Indonesia yang hijau serta berkelanjutan.
Sumber: AntaraNews