Tahukah Anda? Jakarta Berproses Jadi Kota Film UNESCO, Ini Potensi Ekonomi Kreatifnya!

Jakarta tengah berupaya meraih status bergengsi sebagai Kota Film UNESCO, melanjutkan predikat Kota Sastra. Proses ini membuka peluang besar bagi industri kreatif dan ekonomi film Jakarta.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Tahukah Anda? Jakarta Berproses Jadi Kota Film UNESCO, Ini Potensi Ekonomi Kreatifnya!
Pemprov DKI Jakarta tengah berupaya keras agar Jakarta meraih status Kota Sinema dari UNESCO, melengkapi dokumentasi yang dibutuhkan. Akankah ini mengubah wajah industri film nasional? (Merdeka.com)

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sedang berupaya keras untuk menjadikan ibu kota sebagai Kota Film dalam jaringan UNESCO Creative Cities Network (UCCN). Proses ini melibatkan kelengkapan dokumentasi yang tengah digarap bersama Komite Nasional Indonesia untuk UNESCO. Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif DKI Jakarta, Andhika Permata, menyampaikan hal ini di Jakarta pada Selasa lalu.

Inisiatif ini akan melengkapi status Jakarta sebagai Kota Sastra UNESCO yang telah diraih pada tahun 2020. Penunjukan ini diharapkan dapat mengangkat potensi Jakarta sebagai pusat produksi film terkemuka. Visi ini juga mencakup pengembangan industri kreatif dan ekonomi pada skala nasional maupun internasional.

Andhika Permata menjelaskan bahwa upaya ini merupakan bagian dari visi Jakarta untuk memperkuat sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Hal ini disampaikan dalam acara "JEF Dialogue: Unlocking Jakarta's Potential through Tourism and Creative Economy". Dengan status ini, Jakarta akan semakin dikenal di kancah global.

Proses Menuju Pengakuan Dunia

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, melalui Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, bekerja sama erat dengan Komite Nasional Indonesia untuk UNESCO. Mereka fokus pada penyelesaian seluruh persyaratan dokumentasi yang dibutuhkan. Tujuannya adalah agar Jakarta dapat diakui sebagai Kota Film UNESCO.

Status ini bukan sekadar predikat, melainkan sebuah pengakuan atas kontribusi signifikan Jakarta terhadap industri perfilman. Ini juga merupakan langkah strategis untuk memperkuat posisi Jakarta di peta budaya dan ekonomi kreatif global. Pengakuan ini akan membuka banyak pintu kolaborasi internasional.

Andhika Permata menegaskan bahwa proses ini adalah kelanjutan dari keberhasilan Jakarta sebelumnya. Ibu kota telah berhasil meraih status Kota Sastra UNESCO pada tahun 2020. Keberhasilan ini menjadi modal penting dalam menggapai predikat baru sebagai Kota Film.

Membangun Ekosistem Film yang Kondusif

Untuk mewujudkan visi Kota Film UNESCO, Pemerintah Provinsi Jakarta telah melakukan berbagai upaya konkret. Salah satunya adalah memfasilitasi para sineas, baik domestik maupun internasional, untuk melakukan produksi film di Jakarta. Dukungan ini sangat penting untuk menarik lebih banyak proyek film.

Jakarta menyediakan platform khusus bernama "Filming in Jakarta" yang bertujuan membantu proses perizinan dan penyediaan fasilitas. Platform ini memudahkan para pembuat film dalam mengakses lokasi dan sumber daya yang dibutuhkan. Inisiatif ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam mendukung industri perfilman.

Selain itu, Pemprov Jakarta juga berupaya menciptakan ekosistem yang kondusif bagi pertumbuhan industri film secara keseluruhan. Hal ini mencakup dukungan terhadap rumah produksi, pengembangan talenta, dan penyediaan infrastruktur. Ekosistem yang kuat akan mendorong inovasi dan produktivitas.

Potensi dan Perkembangan Industri Film Jakarta

Industri film di Jakarta menunjukkan perkembangan yang sangat pesat dan menjanjikan. Data tahun 2024 menunjukkan adanya 42.000 judul film yang diajukan ke Lembaga Sensor Film. Angka ini menjadi bukti nyata geliat produksi film di Indonesia.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 285 judul berhasil lolos proses sensor. Hal menarik lainnya adalah keberadaan 141 rumah produksi film, dengan 80 persen di antaranya berlokasi di Jakarta. Ini menunjukkan dominasi Jakarta sebagai pusat industri film nasional.

Produksi film juga memiliki dampak ekonomi yang signifikan. Setiap produksi film rata-rata dapat mempekerjakan 100 hingga 150 orang. Durasi produksi yang bisa mencapai enam bulan juga memberikan kontribusi terhadap penyerapan tenaga kerja.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi