Mantan Duta Besar RI untuk Amerika Serikat, Dino Patti Djalal, baru-baru ini menggaungkan inisiatif penting. Beliau memprakarsai "Abrahamic Plea to Israel" untuk mendesak gencatan senjata di Jalur Gaza. Upaya ini bertujuan mendorong perdamaian abadi di wilayah konflik tersebut.
Desakan ini merupakan permohonan bersama dari tiga pemimpin agama samawi terkemuka. Mereka adalah seorang rabi, seorang imam, dan seorang pendeta yang bersatu dalam kepedulian kemanusiaan. Inisiatif ini difasilitasi oleh Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) bersama 1000 Abrahamic Circles.
Konferensi pers daring terkait permohonan ini digelar pada Selasa, 9 September, diikuti dari Jakarta. Tujuannya jelas: menghentikan penderitaan di Gaza dan mencegah lonjakan sentimen negatif. Ini termasuk Islamofobia dan anti-Semitisme yang bisa merusak harmoni antarumat beragama.
Advertisement
Advertisement
Latar Belakang dan Tujuan 'Abrahamic Plea'
"Abrahamic Plea to Israel" dilandasi kekhawatiran mendalam terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah. Khususnya di Gaza, konflik ini berpotensi memicu lonjakan Islamofobia dan anti-Semitisme global. Hal tersebut dapat merusak upaya panjang untuk memajukan perdamaian antar komunitas agama.
Dino Patti Djalal menekankan bahwa permohonan ini semata-mata didasarkan pada kepedulian antar sesama manusia. Survei PEW Research Center menunjukkan bahwa umat Islam, Kristen, dan Yahudi sering mengalami pelecehan. Mereka juga menghadapi diskriminasi di banyak negara di dunia, memperkuat urgensi inisiatif ini.
Inisiatif perdamaian lintas iman ini bertujuan untuk mengatasi akar masalah. Ini juga berupaya membangun jembatan dialog di tengah ketegangan yang meningkat. Tujuannya adalah menciptakan lingkungan yang lebih inklusif dan saling menghormati bagi semua pihak.
Advertisement
Advertisement
Suara Pemimpin Agama Samawi untuk Gaza
Permohonan "Abrahamic Plea to Israel" diinisiasi oleh tiga tokoh agama samawi terkemuka. Mereka adalah Rabi Elliot J. Baskin dari Kuil Emanuel di Denver, Colorado, AS; Imam Alaa Elzokm dari Elsedeaq Islamic Society di Melbourne, Australia; dan Pendeta Ryhan Prasad dari Gereja Presbyterian Khandallah di Wellington, Selandia Baru. Ketiganya mewakili Yudaisme, Islam, dan Kristen.
Dalam permohonan tersebut, para pemimpin agama ini mendesak Israel untuk segera melakukan gencatan senjata. Mereka juga menyerukan terwujudnya perdamaian yang berkelanjutan di Jalur Gaza, Palestina. "Kami, para pemimpin agama dari tradisi Abrahamik, yaitu Yudaisme, Kristen, dan Islam, hari ini berbicara dengan satu suara, bersatu dalam duka, belas kasih, dan tekad dalam menanggapi krisis kemanusiaan yang semakin meningkat di Gaza," demikian kutipan dari permohonan tersebut, yang dibacakan oleh ketiga pemimpin.
Mereka menegaskan bahwa tujuan permohonan ini adalah untuk mengatasi krisis kemanusiaan yang memburuk di Gaza. Permohonan ini tidak bersifat anti-Yahudi, melainkan ditujukan kepada pemerintah Israel. Ini karena tindakan pemerintah dan pemukim dianggap tidak sejalan dengan ajaran kasih sesama dalam agama Yahudi.
Advertisement
Para pemuka agama ini juga menuntut tindakan segera untuk mencegah lebih banyak kematian warga sipil. Mereka berharap permohonan ini dapat ditandatangani oleh lebih banyak pemimpin agama samawi di seluruh dunia. Dino Patti Djalal berharap, "Harapan kami adalah agar permohonan ini didengarkan oleh rakyat Israel dan pemerintah Israel, mengingat niat baik dan ketulusan hati yang mendasari penulisan permohonan Abraham ini."
Sumber: AntaraNews