Tahukah Anda Berapa Biaya Pakan Satwa di Bandung Zoo? Polemik Bandung Zoo: Alshad Ahmad dan PKBSI Berharap Segera Beroperasi
Kreator konten Alshad Ahmad dan PKBSI mendesak penyelesaian polemik Bandung Zoo yang ditutup sementara. Mereka khawatir akan nasib satwa dan biaya operasional yang fantastis jika penutupan berlanjut. Apa dampaknya bagi satwa?
Kreator konten YouTube sekaligus pegiat satwa, Alshad Kautsar Ahmad, menyuarakan keprihatinannya terhadap nasib satwa di Kebun Binatang Bandung (Bandung Zoo) yang kini ditutup sementara. Ia berharap polemik pengelolaan yang sedang berlangsung segera menemukan titik terang agar operasional kebun binatang dapat kembali berjalan normal.
Desakan ini muncul karena penutupan tersebut dikhawatirkan akan berdampak pada terhambatnya pemenuhan kebutuhan dasar satwa, mulai dari pakan hingga perawatan kesehatan yang esensial. Kondisi ini mengingatkan pada masa pandemi COVID-19, di mana operasional kebun binatang sempat lumpuh dan menyebabkan masalah kesejahteraan satwa.
Alshad Ahmad menekankan bahwa keberlanjutan operasional Bandung Zoo sangat krusial untuk menjamin biaya perawatan satwa, yang jika terhenti akan mengorbankan hewan-hewan di dalamnya. Perhimpunan Kebun Binatang Seluruh Indonesia (PKBSI) juga turut mendesak penyelesaian konflik ini demi kelestarian satwa dan keberlangsungan hidup para pekerja.
Kekhawatiran Alshad Ahmad Terhadap Kesejahteraan Satwa
Alshad Kautsar Ahmad, yang dikenal sebagai pegiat satwa, menyatakan harapannya agar masalah yang membelit Kebun Binatang Bandung segera terselesaikan. Ia mengungkapkan kekhawatiran mendalamnya terhadap nasib satwa jika Bandung Zoo terus ditutup dan tidak dapat beroperasi secara normal.
Menurut Alshad, penutupan operasional akan secara langsung mengganggu pemenuhan kebutuhan vital satwa, termasuk pasokan pakan dan layanan kesehatan. "Semoga masalah Bandung Zoo cepat terselesaikan dengan baik. Soalnya kasihan juga satwa-satwa karena kalau Bandung Zoo tidak beroperasi pasti tidak ada biaya untuk mereka," kata Alshad kepada ANTARA di Bandung, Jawa Barat.
Situasi ini, lanjut Alshad, berpotensi mengulang kondisi sulit yang terjadi selama pandemi COVID-19, ketika kebun binatang mengalami kelumpuhan operasional dan berdampak buruk pada kesejahteraan satwa. Ia menegaskan bahwa tanpa operasional yang memadai, biaya perawatan satwa akan terhenti, yang pada akhirnya merugikan hewan-hewan tersebut.
Alshad juga menekankan pentingnya pengelolaan Bandung Zoo oleh pihak yang profesional dan memiliki pemahaman mendalam tentang konservasi satwa. Hal ini krusial mengingat banyak satwa dilindungi yang menjadi prioritas negara berada di sana. "Kalau yang tidak berpengalaman, kasihan satwanya. Satwa yang di kandang tidak bisa bersuara, tidak bisa protes, dan mereka akan menjadi korban kalau ada sesuatu yang terjadi di sana," ujarnya.
Peran dan Kesiapan PKBSI dalam Mengatasi Polemik Bandung Zoo
Ketua Umum Perhimpunan Kebun Binatang Seluruh Indonesia (PKBSI), Rahmat Shah, turut angkat bicara mengenai polemik Bandung Zoo. Ia menegaskan bahwa konflik pengelolaan ini tidak boleh sampai mengorbankan satwa demi kepentingan segelintir pihak. PKBSI berprinsip pada kelestarian satwa, keberlangsungan pekerjaan karyawan, dan mata pencarian pengusaha kecil di sekitar kebun binatang.
"Maka yang terpenting adalah bagaimana satwa tetap lestari, karyawan tetap bekerja dengan baik serta pengusaha kecil di sekitar kebun binatang tetap bisa mencari nafkah. Jangan sampai mereka dikorbankan hanya karena konflik hukum," jelas Rahmat Shah. Pernyataan ini menunjukkan komitmen PKBSI untuk menjaga ekosistem kebun binatang secara menyeluruh.
Rahmat Shah menyatakan kesiapan PKBSI untuk membantu Pemerintah Kota Bandung dalam mengelola Bandung Zoo, jika diminta. Bantuan ini akan diberikan hingga adanya putusan hukum yang inkrah terkait kasus yang menjerat dua petinggi Yayasan Margasatwa Tamansari (YMT), Sri dan Bisma Bratakoesoma. PKBSI memiliki tenaga ahli dan dapat bekerja sama dengan lembaga konservasi yang kompeten.
PKBSI juga menyoroti besarnya biaya operasional yang dibutuhkan untuk menjaga kelangsungan hidup satwa. "Tapi jangan ditutup, karena biaya pakan satwa saja bisa mencapai Rp800 juta per bulan, dan gaji pegawai Rp800 juta. PKBSI tidak punya dana sebesar itu," kata Rahmat. Angka ini menunjukkan betapa vitalnya operasional kebun binatang untuk menutupi kebutuhan finansial yang besar.
Latar Belakang Penutupan Sementara Bandung Zoo
Penutupan sementara Bandung Zoo yang menjadi perhatian banyak pihak, termasuk Alshad Ahmad dan PKBSI, memiliki latar belakang yang kompleks. Kebun binatang ini ditetapkan sebagai barang bukti dalam perkara dugaan korupsi yang saat ini sedang disidangkan di pengadilan. Kasus ini menyeret beberapa nama, termasuk R. Bisma Bratakoesoema dan Sri Devi, serta mantan Sekda Kota Bandung Yossi Irianto dalam berkas perkara yang berbeda.
Penetapan sebagai barang bukti ini secara otomatis menghentikan operasional kebun binatang, yang kemudian berdampak pada seluruh aspek pengelolaan. Aset Bandung Zoo kini berada di bawah penitipan Pemerintah Kota Bandung, selaku pemilik lahan. Situasi ini menciptakan ketidakpastian yang signifikan mengenai masa depan kebun binatang dan satwa-satwa yang ada di dalamnya.
Konflik hukum ini menjadi inti dari polemik Bandung Zoo, yang menghambat kemampuan kebun binatang untuk menjalankan fungsi konservasi dan edukasinya. Penyelesaian hukum yang cepat dan adil diharapkan dapat membuka jalan bagi pemulihan operasional dan pengelolaan yang stabil, demi kepentingan satwa dan masyarakat luas.
Sumber: AntaraNews