Tabiat Arsyad yang tak selugu wajahnya

Kamis, 14 Juli 2016 06:42 Reporter : Aryo Putranto Saptohutomo, Nur Fauziah
Tabiat Arsyad yang tak selugu wajahnya arsyad bebas. ©2014 Merdeka.com/praz mohammad

Merdeka.com - Nama lelaki ini memang sempat tenggelam dari hiruk pikuk pemberitaan sekian waktu. Namun, kejadian pada Senin (11/7) kembali mencuatkan sosoknya. Kali ini dia justru terlibat pencabulan.

Muhammad Arsyad alias Imen (26) sempat menjadi sorotan media massa dua tahun lalu. Saat itu dia mencicipi hidup di balik terali besi karena perkara menyebarkan materi pornografi dan menghina Presiden Joko Widodo.

Arsyad menjadi bahan perdebatan antara pendukung dan oposisi pemerintah. Apalagi latar belakangnya rakyat yang lugu, dengan pekerjaan sebagai tukang tusuk sate. Setelah belasan hari dibui, Imen akhirnya dibebaskan. Orang tuanya sebelumnya mendatangi Presiden Jokowi di Istana Negara, dan bersimpuh memohon ampunan. Kasus itu pun selesai dan tenggelam.

Ternyata tanpa disangka, Arsyad berulah di kemudian hari. Penyebabnya, dia membawa kabur seorang bocah perempuan berinisial F (10) ke Puncak, Bogor. Saat itu sang anak hendak dicabuli. Namun perbuatannya terhenti lantaran korbannya histeris dan memancing kecurigaan petugas keamanan. Alhasil dia diringkus. Dia berdalih tak berniat mencabuli dan menculik. Namun, beralasan memang senang pada anak-anak.

"Iya saya sayang anak-anak," dalih Arsyad saat ditemui di Mapolresta Depok.

Arsyad awalnya ada dua anak menjadi korbannya. Namun belakangan dia menyatakan empat anak sudah dicabuli.

"Sudah empat orang (korbannya). Itu pengakuan dia setelah saya berkomunikasi barusan," kata anggota Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Erlinda, usai menemui pelaku di Polresta Depok, kemarin.

Rata-rata korban Arsad berusia antara 7 hingga 10 tahun. "Korban seluruhnya perempuan," lanjut Erlinda.

Arsad mengaku selalu membawa para korban ke Puncak. Kemudian, pelaku menyewa kamar villa dan berduaan dalam kamar.

"Sudah sampai petting dan ini secara psikologis membuat trauma pada korban. Dan ini harus terus digali oleh penyidik," ujar Erlinda.

Mengenai motif, Erlinda menuturkan masih perlu pendalaman lebih. Apakah pelaku memiliki trauma masa lalu atau ada faktor lainnya.

"Karena tersangka banyak berbohongnya, menggalinya tidak bisa secara singkat. Harus komprehensif dan lengkap," ucap Erlinda.

Arsyad diduga tega mencabuli anak-anak karena hobi menonton video porno. Sehingga dia kerap terpancing birahinya dan melampiaskan kepada anak-anak.

"Dugaannya iya. Dia sering menonton tayangan (porno)," imbuh Erlinda.

Selain itu, kata Erlinda, Arsyad juga mengoleksi beragam foto anak kecil. Kebanyakan foto disimpan adalah keponakannya.

"Dia ngakunya sayang sama anak-anak. Tapi itu bukan alasan dia bisa membawa pergi anak-anak tanpa izin," ujar Erlinda.

Polisi tidak lantas yakin. Mereka menyatakan Arsyad segera menjalani tes kejiwaan melibatkan tim psikologi dari Universitas Indonesia (UI). Hal ini dilakukan karena kuat dugaan Arsyad adalah seorang paedofil.

Tes kejiwaan rencananya akan dilaksanakan pada Kamis (14/7). "Untuk memastikannya diperlukan tes kejiwaan," kata Kapolresta Depok, Kombes Pol Harry Kurniawan.

Arsyad masih ditanyai penyidik di Polresta Depok. Sebab, keterangannya terus berubah. Mulanya, dia hanya mengaku korban penculikannya hanya satu.

"Setelah di BAP baru ketahuan ternyata dia pernah melakukan penculikan sebulan sebelumnya," ujar Harry. [ary]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini