Spanduk Penolakan Bertebaran di Lokasi Penampungan Pencari Suaka di Daan Mogot

Minggu, 14 Juli 2019 18:05 Reporter : Merdeka
Spanduk Penolakan Bertebaran di Lokasi Penampungan Pencari Suaka di Daan Mogot Imigran pencari suaka. ©2019 Merdeka.com/Arie Basuki

Merdeka.com - Spanduk bertuliskan penolakan warga terhadap keberadaan pengungsi Warga Negara Asing (WNA) bertebaran di Perumahan Daan Mogot Baru. Di lokasi itu, terdapat penampungan sementara para pencari suaka.

Pantauan di lapangan, spanduk dipasang di pagar-pagar rumah dan pohon. Sejak awal gerbang masuk hingga ke penampungan, ada 15 buah spanduk bertuliskan "Kami Warga Komplek Daan Mogot Baru Menolak Tempat Penampungan Imigran di Komplek Kami"

Satu lagi, spanduk terpasang tepat di pintu masuk eks Gedung Kodim Kalideres, yang dijadikan lokasi penampungan.

"Boss pengungsi imigran urusan pemerintah dan UNHCR bukan urusan komplek perumahan #TolakPengungsidiPerumahan."

Ketua RT 005 RW 17, Kelurahan Kalideres, Jantoni, menyatakan spanduk-spanduk itu bentuk aspirasi dari warga. Mereka menolak eks gedung kodim dijadikan penampungan sementara.

"Ini semuanya warga yang menolak. Mereka berinisiatif membuat spanduk. Saya tidak ada berapa buah jumlah spanduk," ujar dia saat ditemui, Minggu (14/7).

Jantoni sendiri mengaku tidak menolak keberadaan pengungsi. Hanya saja, kata dia, penempatan pengungsi dirasa kurang pas.

"Masih banyak tempat yang bisa disediakan oleh Pemprov DKI kenapa harus di tempat yang ramah lingkungan. Apalagi sebelah ada sekolahan," ucap dia.

Warga khawatir anak-anak sekolah terkena imbasnya. Apalagi keberadaannya di perumahan komplek yang begitu besar.

"Iya takutnya mereka (imigran) kenapa-napa gitu," ucap dia.

Alasan Warga Tolak Pengungsi Para Imigran

Selain itu, aktivitas warga menjadi terganggu sejak ada para imigran.

"Mereka mengganggu. Masalahnya waktu hari pertama sudah ada warga yang naik mobil di ketok-ketok. Kemudian, katanya para imigran cuma di dalam tapi kenyataannya pada keluar. Malah ada yang duduk dan tidur di emperan ruko. Saya bisa ngomong gini karena kontrol dan lihat sendiri," papar Jantoni saat ditemui di kediamannya, Minggu (14/7).

Dia menyayangkan Pemprov DKI sama sekali tidak berkoordinasi dengan warga dan RT setempat terkait penempatan imigran di eks Gedung Kodim.

"Terus terang sama saya tidak koordinasi," kata Jantoni.

Menurutnya, pada Rabu sore tiba-tiba datang dari petugas pemerintah seperti PPSU, Satpol PP dan perwakilan kecamatan serta kelurahan sekitar 15.00 WIB ke bekas Gedung Kodim Kalideres, Jakarta Barat.

"Masyarakat kira Kodim Grogol pindah ke sini. Masyarakat sudah seneng. Tapi ternyata malam hari baru tahu kalau itu buat pengungsi. Besoknya baru pengungsi pada masuk ke situ," ujar dia.

Jantoni menerangkan, sampai saat ini Ketua RW sedang mencari solusi dengan camat, kapolres, kapolsek, dandim, dan perwakilan sekolah

"Ini yang kita tunggu. Saya minta dengan pemerintah yang punya wewenang di pengungsi coba cari jalan keluar. Saya gak bisa membendung kalau sampai warga sudah mau unjuk rasa ke lapangan," ujar dia.

Sementara itu, Lurah kalideres Mochamad Fahmi membantah tidak berkoordinasi dengan warga terkait dengan keberadaan imigran.

"Sudah (koordinasi), warga di sini kan taat hukum. Kata siapa (tidak koordinasi), RT berapa, biar saya konfrontir," ujar dia saat ditemui.

Saat itu, Fahmi mengaku meminta pihak RT dan RW menyampaikan kepada warga terkait rencana penggunaan eks Gedung Kodim Kalideres.

"Bahwa akan ada pengungsi dan jawaban mereka ya saya kira RT itu kan merespons apa yang disampaikan warga kan. Kalau RT RW itu hanya iya, nanti kita sampaikan ke warga," ujar dia.

Reporter: Ady Anugrahadi

Sumber: Liputan6.com [lia]

Topik berita Terkait:
  1. Pencari Suaka
  2. Imigran
  3. Jakarta
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini