'Sosok Gus Dur tidak tergantikan, terasa betul kita kehilangan'
Merdeka.com - Di tengah berbagai persoalan bangsa belakangan ini, sosok Presiden RI keempat, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur sangat dirindukan. Gusdur dinilai bisa menjadi penyejuk di tengah menguatnya politik identitas belakangan ini.
Hal ini disampaikan peneliti LIPI, Mochtar Pabottingi saat peluncuran buku Hari-Hari Terakhir Bersama Gus Dur karya Bondan Gunawan di Museum Nasional, Rabu (25/7) malam.
"Tiap kali terbit buku bagus tentang Gus Dur tiap kali itu kita merasakan kerinduan kita atas sosok beliau. Kita sangat merasa kehilangan beliau. Terutama selama tiga tahun terakhir kita merasa betul kehilangan dan merasa betul ketiadaan sosok Gus Dur," jelasnya.
Sosok Gus Dur menurutnya tak tergantikan. Dialah yang telah berusaha menguatkan ikatan kebangsaan semasa hidupnya dengan memberi penghormatan tinggi kepada para minoritas yang hidup di negeri ini.
"Luar biasa. Tidak tergantikan. Sangat-sangat terasa betul kita kehilangan. Mengapa? Karena ikatan kebangsaan kita begitu dicabik-cabik. Dicabik-cabik lewat jalur demokrasi," jelasnya ditemui usai peluncuran buku.
Sistem demokrasi yang dapat mengancam persatuan bangsa menurutnya hal yang sangat ceroboh dan naif. Karena itulah menurutnya negara ini perlu pemimpin yang seperti sosok Gus Dur. Nilai-nilai warisan Gus Dur harus diserap para calon pemimpin bangsa.
"Pengaruh Gus Dur kan besar sekali. Cuma yang cemerlang, menjulang dan sekaliber seperti itu belum ada lagi yang suaranya menasional bahkan mendunia sebagai penegak kemajemukan, penghormatan pada minoritas," jelasnya.
Selain Gus Dur, tokoh bangsa yang harus dicontoh ialah Buya Hamka dan Nurcholis Madjid. Hamka ialah cerminan tokoh yang nasionalis religius dan Nurcholis Madjid mengenalkan Islam sebagai agama yang tinggi derajatnya.
"Hamka itu Islam dan keindonesiaan tak bisa dipisahkan. Nurcholis Majid menunjukkan Islam itu sesuatu yang secara historis mulia, tinggi derajatnya dan Gus Dur yang bisa menampung tentang kebangsaan itu secara sangat-sangat tak tertandingi oleh yang lainnya," jelasnya.
"Penghormatan terhadap minoritas itu sangat tulus. Sangat cerdas. Itu yang susah karena memang adanya minoritas itu adalah syarat terbentuknya bangsa," lanjutnya.
(mdk/rzk)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya