SMAN 9 Tambun Bekasi Didemo Pelajar, Soroti Dugaan Pengadaan Snack Fiktif dan Pungutan Liar

Ratusan siswa SMAN 9 Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi menggelar aksi demonstrasi di halaman sekolah.

Enriko
Oleh Enriko - Reporter
SMAN 9 Tambun Bekasi Didemo Pelajar, Soroti Dugaan Pengadaan Snack Fiktif dan Pungutan Liar
SMAN 9 Tambun Bekasi Didemo Pelajar, Soroti Dugaan Pengadaan Snack Fiktif dan Pungutan Liar (Merdeka.com)

Ratusan siswa SMAN 9 Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi menggelar aksi demonstrasi di halaman sekolah, Selasa (3/6). Mereka menuntut transparansi serta menyoroti soal praktik pungutan liar berkedok sumbangan sekolah.

Beberapa praktik dugaan pungutan liar yang disoroti siswa ialah soal sumbangan akademik dan non-akademik, serta dugaan pengadaan snack fiktif. Praktik tersebut sudah berjalan sejak beberapa tahun lalu.

"Katanya (sumbangan) untuk gedung, tapi sampai sekarang masih gini-gini aja, emang tidak dibatasi untuk sumbangan, sukarela saja, orang tua saya sudah bayar setiap tahun Rp500 ribu," kata siswa kelas XI berinisial MRPD.

Dugaan pungutan liar lainnya yang disoroti para siswa ialah sumbangan atau infak untuk pengadaan AC masjid sebesar Rp20 ribu per kelas setiap hari. Sumbangan itu sudah berjalan sejak 2023 namun hingga kini, masjid di sekolah tersebut belum juga dipasang pendingin ruangan.

"Tujuannya ngomongnya untuk masjid, masjid katanya mau dikasih AC, cuma tidak ada, setiap hari nominalnya Rp20 ribu, udah dimintain dari kelas 10, sampai sekarang enggak terealisasi," katanya.

Selain sumbangan tersebut, siswa juga menyoroti soal dugaan pengadaan fiktif di sekolah. Seperti siswa dipaksa menandatangani beberapa lembar bukti penerimaan snack untuk sejumlah kegiatan yang sudah lama berlangsung.

"Tanda tangan itu kayak ada paksaan, nah tanda tangan itu isinya kayak tanda terima snack, padahal kita waktu itu kita enggak menerima snack, kayak acara pesantren kilat, bukber, terus kayak lomba-lomba di Hari Kartini gitu," ucap HMA, siswa SMAN 9 Tambun Selatan lainnya.

"Tapi kan kenapa baru dimintain (tanda tangan) sekarang, kenapa enggak pas acaranya itu sendiri," lanjut HMA.

Humas SMAN 9 Tambun Selatan, Syahri Ramadan mengakui sekolahnya meminta sumbangan kepada siswa. Namun menurut dia, sumbangan tersebut sudah berdasarkan kesepakatan dan sifatnya tidak wajib.

"Ada yang mengatakan ini adalah pungli, padahal kami sudah ada secara tertulis, ada kesepakatan, saya sanggupnya ini dalam satu tahun menyumbang untuk sarana-prasarana Rp500 ribu, itu tidak ada unsur pemaksaan dari pihak lembaga, sifatnya tidak wajib bagi siapa saja yang ingin menyumbang," katanya.

Sementara soal dugaan pengadaan snack fiktif, Syahri membantahnya. Kata dia, pada saat kegiatan siswa sudah menerima snack sesuai dengan dokumen dan realisasinya.

"(Snack sudah) diberikan, kami dari pihak sekolah sudah mengakomodir itu, ada dokumen, kemudian ada realisasi pelaksanaannya, sehingga tidak tahu dari mana sumber permasalahan ini muncul kembali," ungkapnya.

Syahri juga beralasan kalau permintaan tanda tangan kepada siswa merupakan tindak lanjut untuk perbaikan pelaporan surat pertanggungjawaban (SPJ) atas kegiatan yang sudah lebih dulu dilaksanakan.

"Memang ini berawal adanya miskomunikasi terkait dengan laporan SPJ yang sudah dilaksanakan, kegiatannya adalah pesantren Ramadan yang sudah berjalan tiga bulan lalu, nah ini kemarin ditindaklanjuti oleh Tata Usaha yang mengedarkan tanda tangan ulang dengan alasan untuk perbaikan pelaporan," katanya.

"Nah, letak kesalahannya seperti apa dalam penyampaian, ini yang kemudian menimbulkan masalah seperti ini, ini yang sehingga anak-anak merasa apa yang ditandatangani itu tidak berdasarkan fakta di lapangan," tambah Syahri.

Sedangkan soal sumbangan atau infak sebesar Rp20 ribu per kelas setiap hari untuk pengadaan AC masjid, Syahri tidak menjawab. Dia hanya mengatakan kalau uang infak dari para siswa digunakan untuk kebutuhan operasional masjid.

"Mohon maaf, saya belum bisa menjawab, karena kami juga ada terbatasan informasi itu, untuk operasional (masjid) sehari-hari tentang kebersihan, bayar listrik, itu kan kami tidak mengambil uang dari anggaran sekolah, maka kami menginisiasi dengan kesepakatan infak seikhlasnya setiap hari," katanya.

Aksi unjuk rasa yang dilakukan ratusan siswa SMAN 9 Tambun Selatan sejak siang hingga sore hari belum membuahkan hasil. Setelah para siswa membubarkan diri, pihak sekolah berencana menggelar rapat untuk menyelesaikan persoalan tersebut.

Rekomendasi