Sisi Gelap di Balik Gemerlapnya SPG Otomotif

Senin, 19 Agustus 2019 08:03 Reporter : Merdeka
Sisi Gelap di Balik Gemerlapnya SPG Otomotif Ilustrasi Prostitusi. ©2014 Merdeka.com

Merdeka.com - "Ya begitulah kesinggung terus sakit hati."

Begitu komentar Tasya, seorang talent management menanggapi kasus pembunuhan Sales Promotion Girl (SPG) otomotif Ni Putu Yuniarti. Nyawa perempuan 39 tahun kandas di tangan Bagus Putu Wijaya (33) pria berprofesi gigolo yang ia sewa.

Tasya tidak memungkiri peristiwa menimpa korban bagian dari gelapnya dunia pemasaran yang menempatkan perempuan seksi di barisan depan dalam penjualan suatu produk. Apalagi produk otomotif yang identik dengan keseksian SPG saat proses pemasaran.

"Dunia hitam SPG, ya pasti enggak jauh, sorry to say. Ada SPG yang plus plus ya. Enggak memungkinkan mereka seperti itu, jadi ada mereka yang bener-bener murni kerja cari uang tapi enggak sedikit yang yaudahlah kedoknya SPG tapi sambil 'jualan' juga," ungkapnya saat berbincang dengan merdeka.com, Sabtu (17/8) malam.

Pun soal booking membooking SPG. Tasya mengakui adanya praktik esek-esek berkedok SPG. Namun tidak semua. "Ada siy (kencan), mungkin emang enggak semua ya tapi emang ada beberapa."

Untuk sekali kencan, kata Tasya, biasanya SPG nakal membuka tarif mulai Rp3 juta hingga Rp5 juta. Harga tersebut bisa naik berkali-kali lipat jika mendapat klien kelas kakap seperti pejabat.

"Bisa Rp3 juta sampai Rp5 jutaan," tuturnya.

Di samping itu, SPG dalam event otomotif kerap menjadi bulan-bulanannya para lelaki penggoda, karena penampilan yang menarik membuat para lelaki nakal mudah terimajinasi. Malah, tidak sedikit yang memframing jika SPG yang mengenakan pakaian seksi bisa diajak kencan. Padahal tidak semua. "Karena ada kesalahan si A si B si C jadi kaya semua itu merebet. Jadi menganggap SPG yang dievent itu bisa dibooking, padahal kan enggak. Cuma beberapa saja," tuturnya.

Biasanya klien-klien nakal suka melemparkan godaan-godaan mulai main mata hingga mencolek. "Yaa begitu deh. Main mata, siul-siulin. Nyolek-nyolek juga ada tuh," katanya.

Kriteria klien 'nakal' yang doyan mengajak kencan SPG pun terbagi dua. Yang pertama hanya untuk senang-senang karena enggak mau ribet. Yang kedua ada yang berniat mencari 'simpanan'.

"Klien nakal banyak. Ada yang ibarat kata enggak mau ribet jadi satu hari udah beres. Ada juga yang nyari buat mereka simpen. Banyak itu yang mau jadi simpenan," sambungnya.

Pendapatan bisa semakin meningkat jika si SPG plus-plus bersedia menjadi simpanan. Fasilitas mulai dari apartemen hingga barang-barang branded akan dipenuhi. Belum lagi tunjangan per bulannya.

"Kalau simpanan biasanya bisa sampai dapat apartemen, mobil sama uang bulanan. Nilai uang bulanan biasanya tergantung kesepakatan mereka," bebernya.

Menyoal pakaian SPG otomotif yang kerap terbuka, Tasya mengatakan hal itu kebijakan dari perusahaan. Dan biasanya si calon SPG sudah mengetahui konsekuensi jika menerima job dari brand otomotif.

"Itu kebijakan dari perusahaan sama anaknya. Tapi kan biasanya dari perusahaan udah kasih tahu konsekuensi, nanti pake seragam kaya gini. Tergantung anaknya (SPG) kalau mau pasti ambil jobnya kalau enggak ya nolak," katanya.

"Kalau event-event yang rame brand mobil atau otomotif emang baju seksi, tapi kalau seperti brand makanan itu enggak boleh seksi-seksi karena segmentasi pasarnya juga beda kan. Kaya aku kan sekarang udah enggak jaga (jadi SPG) lagi. Sekarang lebih ke user model atau masukin anak-anak yang mau ikut SPG event. Lebih ke managemennya, nah aku tanya selalu bilang kalau jaga produk ini konsekuensinya begini begini. Aku jabarin biar kerjanya juga nyaman," tutupnya.

Kasus Gigolo Bunuh SPG Mobil di Bali

Awal hubungan terlarang antara pelaku Bagus Putu dan korban Ni Putu Yuniarti terajut setelah berkenalan di dunia maya. Entah sedang membidik target atau memang perlu, pelaku 'mencolek' korban dengan alasan hendak membeli mobil.

Gayung bersambut, keduanya bertemu hingga disepakati penjualan mobil dari korban ke pelaku dengan pemberian cek senilai Rp10 juta.

Seakan sama-sama mengisi kekosongan, keduanya terbuai dalam hubungan yang lebih dalam namun, terlarang. Bagus Putu mulai blak-blakan akan jati dirinya yang seorang gigolo.

Mendengar hal itu, muncul ketertarikan korban untuk 'mencicip' jasa esek-esek pelaku. Dengan kesepakatan Rp500.000 dan dibelikan ponsel, pelaku menerima ajakan 'kencan' dari korban.

Tak sesuai harapan, korban mengomplein jasa esek-esek yang diberikan pelaku. Ia mengaku tidak puas dengan 'pelayanan' pelaku dan merasa sudah dirugikan.

"Akhirnya tersangka merasa tersinggung, korban tadi ditarik dan dibekap dengan handuk. Sehingga lemas, setelah itu korban meninggal dan tersangka meninggalkan penginapan dan setelah itu tersangka pergi dan ketangkep di Sulawesi Utara," jelas Kapolresta Denpasar Kombes Ruddi Setiawan.

Reporter Magang: Chicilia Inge [gil]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini