Seperti Dolly, nama Girun di Malang abadi jadi tempat lokalisasi
Merdeka.com - Di Surabaya ada nama Dolly Advonco Chavid atau Tante Dolly yang melegenda hingga kemudian menjadi nama lokalisasi yang konon terbesar di Asia Tenggara. Nama Dolly kemudian menjadi gang sebuah jalan, seolah abadi menjadi simbol bisnis esek-esek, kendati sudah ditutup 19 Juni 2012 lalu.
Ternyata di Malang juga ada hikayat serupa, tentang tokoh pendiri bisnis prostitusi yang kemudian namanya diabadikan menjadi nama sebuah gang. Dialah Girun, pendiri lokalisasi di Desa Gondanglegi Wetan, Kecamatan Gondanglegi. Lokalisasi yang kemudian populer dengan sebutan Lokalisasi Girun itu terkenal bagi masyarakat Malang sebagai tempat pemuas nafsu pria hidung belang.
Tokoh masyarakat di Lokalisasi Girun, Sukartadji Nugroho menceritakan sejarah berdirinya tempat prostitusi yang sejak Senin, 24 November 2014 kemarin ditutup operasinya itu. Walaupun sebagian besar dikelola oleh perseorangan, namun hanya Girun yang menggunakan nama pendirinya.
"Awalnya, sekitar 1980 seorang tokoh bernama Buaman menampung tuna wisma di rumahnya. Kemudian dibuatkan petak-petak rumah untuk tempat tinggal," katanya.
Pertama berdiri tidak di tempat sekarang ini, melainkan di tanah kosong di kidul pasar. Jadi sebenarnya pendiri pertamanya adalah Buaman, baru sekitar tahun 1985 pindah ke tangan Pak Girun.
Saat di kidul pasar mereka diusir warga setempat karena dianggap mengganggu, sehingga pindah ke selatan kuburan. Seperti kebanyakan lokalisasi yang lain, mereka diprotes karena persoalan asusila dan dianggap mengotori lingkungan.
Tidak begitu lama, karena alasan pembongkaran kemudian pindah ke tanah PT KAI sekitar 1983. Di sini kemudian terjadi peralihan dari Buaman ke Pak Girun. Sejak saat itu lokalisasi ini dinamakan Girun. "Saat awal berdiri ada 2 anak di masing-masing rumah. Seingat saya ada 8 rumah, ya sekitar 16 PSK beroperasi," katanya.
Kini Girun ditutup bersama enam lokalisasi lain yakni Suko (Kecamatan Sumberpucung), Slorok (Kromengan), Kebobang (Wonosari), Kalikudu (Pujon), Embong Miring (Ngantang) dan Pulau Bidadari (Sumbermanjing Wetan). Total ada 308 PSK penghuni panti dan 90 mucikari yang harus meninggalkan tempat.
Kalau Dolly saat pendataan mencatat 1.449 PSK dan 311 mucikari, maka Girun hanya 89 orang PSK. Namun sejatinya jumlah mereka jauh dari yang tercatat, karena memang kerap berpindah-pindah dari satu lokalisasi ke lokalisasi lain. Kini baik Dolly maupun Girun sudah resmi ditutup, tapi legenda keduanya tidak sepenuhnya terhapuskan. Entah sampai kapan. (mdk/mtf)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya