Sembilan kontingen cabang pacuan kuda ancam mundur dari PON

Senin, 26 September 2016 23:04 Reporter : Andrian Salam Wiyono
Sembilan kontingen cabang pacuan kuda ancam mundur dari PON Pacuan Kuda. REUTERS / Beawiharta

Merdeka.com - Sembilan kontingen cabang olahraga berkuda menolak fasilitas wild card yang didapat Jawa Barat, sebagai tuan rumah. Penolakan tersebut berbuntut pada ancaman pengunduran diri dalam ajang PON XIX/2016 Jabar.

Untuk diketahui fasilitas wildcard membuat 10 kuda yang akan dipertandingkan melenggang dalam lima nomor langsung ke babak final tanpa penyisihan.

"21 Juni itu dilakukan sosialisasi THB (Technical Handbook) yang ternyata tetap memasukkan wild card masing-masing dua ekor kuda di lima nomor pacuan kuda. Kami menolak, sehingga kami mengancam mundur," kata Ketua Umum Pordasi DKI Jakarta Alex Asmasoebrata di Media Center Utama, Senin (26/9). Dalam jumpa persnya hadir perwakilan 9 kontingen yakni dari Pengprov Pordasi Jawa Timur, Riau, Kalimantan Selatan, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Barat, Kalimantan Barat, DKI Jakarta, dan Yogyakarta

Menurutnya, pihaknya memang sudah menyetujui hal dua wild card tersebut. Itu sudah melewati sebuah toleransi yang diberikan oleh semua kontingen.

"Tadinya mereka itu minta 10 wild card, jelas kami menolak, sampai disetujui dua terserah mau di kelas mana," ujarnya.

Dua wild card ini pula merupakan hasil dari kesepakatan pada rapat sebelumnya yang diklaim dia disepakati Jabar.

Menurut dia, Panpel harus melaksanakan drawing ulang untuk babak final, karena itu semua kontingen boleh mengganti kudanya di setiap kelas babak final sepanjang kuda sudah masuk dalam data entry.

Apabila PB PON tidak dapat mengendalikan perilaku Panitia Pelaksana pihaknya mengancam akan melakukan pengunduran diri. "Sampai sekarang malah tidak diterapkan, jika memang tidak dilakukan kami akan angkat kaki dari ajang PON ini," tegasnya.

Wakil Juru Bicara PB PON Jabar Ruddy Gandakusumah mengatakan, PB PON dalam hal ini tidak berurusan dengan hal tersebut. Sebab PB PON di sini hanya bertindak sebagai penyelenggara. Adapun fasilitas wild card yang selama ini dipermasalahkan itu sudah disepakati lewat pengurus provinsi lewat Pordasi dan technical delegate.

"Kita lihat Ini masalah pordasi. Dan kita membuat technical handbook itu dilakukan berdasarkan technical delegate. Apa yang dibuat di THB itu menjadi pedoman bersama. Kalau kemudian itu dipermasalahkan semestinya itu adalah PB Pordasi," ungkap Rudi.

Rudi juga menyayangkan jika sembilan kontingen mengancam mundur pada cabor ini. Apalagi berkuda merupakan olahraga yang kali pertama dipertandingkan di PON. "Apakah ancam mundur menyelesaikan masalah? Malah panwasrah menyatakan kalau seperti itu nanti jadi laga eksibisi. Ini memalukan bagi pordasi jadinya

"Berapa puluh tahun lalu kuda pacu, akhirnya bisa diselenggarakan sekarang (PON Jabar). Itu luar biasa. Harusnya dihargai untuk kepentingan bersama. Kalau masalah (Wildcard) Itu urusan PB Pordasi dan techincal delegate," tandasnya. [hhw]

Topik berita Terkait:
  1. Pon Jabar 2016
  2. Bandung
Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini