Sejarah Stadion Kanjuruhan Jadi Kandang Arema

Selasa, 4 Oktober 2022 05:02 Reporter : Merdeka
Sejarah Stadion Kanjuruhan Jadi Kandang Arema Suasana Stadion Kanjuruhan Malang. ©2022 Merdeka.com

Merdeka.com - Insiden kericuhan yang terjadi di markas Arema FC, Stadion Kanjuruhan, Malang meninggalkan duka mendalam bagi dunia sepak bola Indonesia. Kejadian ini bermula atas kekalahan Arema FC dengan rival bebuyutannya Persebaya dengan skor 2-3.

Pertandingan tersebut semula berjalan kondusif, namun saat momentum di mana pemain Arema FC mengucapkan permohonan maaf dan ucapan terima kasih atas dukungan dari para Aremania, kondisi di stadion mulai tidak kondusif. Para suporter mulai memasuki area lapangan dan pergerakan mereka sulit dikendalikan.

Personel keamanan mulai melakukan pengamanan namun petugas kepolisian, TNI dan steward yang ada, kalah jumlah. Mereka akhirnya mengambil tindakan dengan menembakkan gas air mata ke arah massa.

Situasi pun makin tak terkendali dan bentrok antar suporter tak terelakan. Ratusan masa kehilangan nyawa akibat peristiwa memilukan ini. Tak hanya itu, korban yang mengalami luka-luka pun terus bertambah.

"Untuk korban meninggal dunia tetap 125 orang sampai dengan siang hari ini, dari Tim DVI 125 orang, kemudian korban luka berat ada 24 orang, kemudian korban luka ringan ada 304 orang," kata Kadiv Humas Polri Irjen Dedi Prasetyo di Malang, Jawa Timur, Senin (3/10).

2 dari 4 halaman

Di balik kisah anarkis yang terjadi pada Sabtu (1/10) ini, terdapat sejarah panjang tentang perjalanan Arema FC bersama Aremania di Stadion Kanjuruhan yang berdiri di Jalan Trunojoyo, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, Stadion Kanjuruhan dibangun pada tahun 1997 silam dengan biaya hingga Rp35 miliar. Presiden Indonesia kala itu, Megawati Soekarnoputri resmi menandatangani plakat tanda rampungnya pembangunan stadion tersebut, tepatnya pada 9 Juni 2004.

Peresmian stadion milik Pemerintah Kabupaten Malang ini ditandai dengan digelarnya pertandingan kompetisi Divisi I Liga Pertamina tahun 2004 antara Arema Malang melawan PSS Sleman. Kemenangan pun memihak pada Arema dengan skor akhir 1-0. Saat itulah kali pertama Arema beserta klub suporternya Aremania, pindah kandang di mana markas mereka sebelumnya mereka berada di Stadion Gajayana, Kota Malang.

Sejak kepindahannya ke Stadion Kanjuruhan, kisah keberuntungan dan kemalangan silih berganti menyertai perjalanan Arema dan klub suporternya.

3 dari 4 halaman

Perjalanan keberuntungan Arema dimulai dengan menjadi juara Indonesia Super League (ISL) 2009-2010 melalui sebuah laga eksebisi Perang Bintang. Selain itu Aremania pun pernah meraih predikat The Best Suporter di ajang Copa Indonesia pada 2006, meskipun pemberian gelar dan hadiah secara simbolis tidak dilakukan di tempat ini.

Tahun 2010, panitia pelaksana (Panpel) Arema mendapat gelar Panpel Terbaik ISL tahun tahun 2009-2010. Penghargaan diberikan setelah Panpel Arema mampu mencatatkan ratusan penonton tertinggi se-Asia Tenggara dalam musim kompetisi 2009-2010 dan 2010-2011.

Tidak berhenti sampai di situ, momen yang tak terlupakan lainnya adalah ketika Arema berhasil meraih empat trofi juara turnamen. Mulai dari juara Super Copa Indonesia 2006, Menpora Cup 2013, SCM Cup 2015, dan Piala Presiden 2019 di mana final acara kompetisi tersebut digelar di sini.

Di samping keberuntungan-keberuntungan yang dicapai setelah singgah di kandang yang baru, pengalaman malang pun turut menyertai perjalanan Arema FC dan Aremania. Setidaknya terdapat tiga peristiwa menyedihkan yang menjadi kenangan pahit di tempat ini.

4 dari 4 halaman

Diawali dengan insiden robohnya pagar pembatas tribun di laga Ligina pada 2005, ketika Arema berhasil menyikat habis Persija Jakarta dengan skor 1-0 lewat gol Emaleu Serge pada 13 Juli 2005. Di mana kejadian tersebut menelan korban jiwa atas nama Fajar Widya Nugraha (16) dan puluhan Aremania terluka parah.

Sementara itu, terdapat peristiwa Kanjuruhan Disaster, di mana Arema ditahan imbang Persib Bandung dengan skor 2-2 pada Liga 1 2018 pada 15 April 2018. Perlakuan wasit yang dinilai tak adil memancing aksi kericuhan, yang diperkeruh dengan tembakan gas air mata oleh aparat keamanan ke arah tribun. Kejadian ini menimbulkan korban yang merupakan penonton dan suporter pingsan berjatuhan.

Disambung dengan peristiwa Sabtu, (1/10) kemarin yang kembali membawa duka mendalam. Sepak bola Indonesia hari ini benar-benar kembali diselimuti awan gelap dan derai air mata.

Reporter: Putri Oktafiana [cob]

Baca juga:
Buntut Tragedi Kanjuruhan, Kapolri Copot Kapolres Malang
Kapolres Malang AKBP Ferli Hidayat Dicopot Buntut Tragedi Stadion Kanjuruhan
Polri Resmi Naikan Kasus Tragedi Stadion Kanjuruhan ke Penyidikan
Mengenal Sosok Dua Polisi yang Meninggal Dalam Tragedi Kanjuruhan
Tragedi Kanjuruhan, Ini Pernyataan Arema FC Soal Tiket dan Pintu 10 Stadion Tertutup
Malam Mencekam di Stadion Kanjuruhan

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini