Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Sejarah sedekah laut di Cilacap, atraksi wisata dan pamflet azab tsunami

Sejarah sedekah laut di Cilacap, atraksi wisata dan pamflet azab tsunami Sedekah laut di Cilacap. ©2018 Merdeka.com

Merdeka.com - Gelaran tradisi sedekah laut masyarakat nelayan di pesisir Cilacap pada Jumat (12/10), menjadi perhatian berbagai kalangan, sebab adanya sebaran foto pamflet di Cilacap yang bertuliskan sejumlah pesan berisi peringatan bencana sebagai azab.

Sebaran pamflet di antaranya berbunyi begini: "Jangan larung sesaji karena bisa tsunami", "Sedekah karena Selain Allah Mengundang Azab Looh", "Buatlah Program Wisata yang Allah tidak Murka", dan "Rika Sing Gawe Dosa Aku Melu Cilaka".

Membaca profil wisata yang diterbitkan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Cilacap, sejarah tradisi sedekah laut tidak lepas dari kelompok nelayan Pandanarang di Cilacap. Tradisi ini bermula dari perintah Bupati Cilacap ke-3, Tumenggung Tjakrawerdaya III yang meminta kepada sesepuh nelayan Pandanarang, Ki Arsa Menawi untuk melarung sesaji ke laut selatan.

Pada Jumat Kliwon bulan Syura tahun 1875, sedekah laut dilakukan dengan menyertakan kelompok nelayan lain seperti Sidakaya, Donan, Sentolokawat, Tegalkatilayu, Lengkong dan Kemiren. Baru pada Tahun 1983, sedekah laut diangkat sebagai atraksi wisata.

Ketua Majelis Luhur Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa (MLKI) Cilacap, Basuki Rahardja menjelaskan bahwa sedekah laut sudah menjadi tradisi kelompok nelayan di Cilacap yang dilaksanakan turun temurun. Sedekah laut ia tegaskan tak terkait dengan akidah atau kepercayaan tertentu. Esensinya perwujudan rasa syukur pada Tuhan atas berlimpahnya rizki pada masyarakat pesisir.

"Wujud syukur itu, diungkapkan lewat pelarungan jolen yang punya makna Ojo Kelalen, atau jangan lupa dalam bahasa Indonesia," kata Basuki, Sabtu (13/10).

Sedemikan lekat sebagai ekspresi wujud syukur masyarakat nelayan, tradisi sedekah laut oleh Pemkab Cilacap lantas dikemas menjadi agenda kabupaten yang digelar setahun sekali. Bukan hanya kelompok nelayan, Pemkab pun membuat Jolen yang ikut dilarungkan ke laut. Dalam prosesi sedekah laut pada Jumat (12/10), sebanyak 10 Jolen dari sejumlah kelompok nelayan dan Pemkab Cilacap dikirab dari pendopo kabupaten sebelum dilarung ke laut.

Selain itu, sedekah laut tak hanya dilakukan secara serempak melibatkan beberapa kelompok nelayan berpusat di Pantai Teluk Penyu Cilacap. Di beberapa wilayah di Cilacap sedekah laut juga dilakukan masyarakat nelayan di wilayah desa masing-masing.

Misalnya, kelompok nelayan di Desa Adiraja, Kecamatan Adipala, Kabupaten Cilacap menggelar tradisi sedekah laut di pantai wisata Sodong, Jumat (6/10). Pelaksanaan tradisi yang juga melarungkan jolen atau sesaji ini, juga melibatkan masyarakat adat Banakeling di desa setempat.

Terkait beredarnya pamflet-pamflet yang mengaitkan sedekah laut dapat menimbulkan azab, Anggota Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Cilacap, Taufiq Hidayatulloh menyesalkan adanya pemasangan pamflet di sepanjang rute kirab tersebut. Ia pun sempat menanyakan perihal legalitas pemasangan banner itu ke Kesbangpol Cilacap.

"Ternyata, Kesbangpol mengaku tidak pernah mengeluarkan izin untuk pemasangan banner berisi konten peringatan itu," ujarnya.

(mdk/cob)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP