Sambut Suro, puluhan wayang berusia seabad Museum Radya Pustaka dijemur

Rabu, 19 September 2018 23:37 Reporter : Arie Sunaryo
Sambut Suro, puluhan wayang berusia seabad Museum Radya Pustaka dijemur puluhan wayang berusia seabad dijemur. ©2018 Merdeka.com/Arie Sunaryo

Merdeka.com - Memasuki bulan Suro dalam penanggalan Jawa, Museum Radya Pustaka, Solo, Rabu (19/9), menggelar serangkaian acara. Salah satu diantaranya adalah 'Ngisis Ringgit' atau menjemur wayang. Satu kotak kayu berisi sekitar wayang 45 wayang yang berusia lebih dari seabad dikeluarkan untuk dijemur, namun tanpa terkena sinar matahari langsung.

Bertempat di serambi museum, para karyawan museum tertua di Indonesia itu mengikatkan kawat besi di pilar museum. Anak-anak wayang kuno itu kemudian digantungkan di sebuah tali yang telah membentang, seperti layaknya orang menjemur pakaian. Wayang-wayang itu diangin-anginkan di tempat yang teduh sekitar tiga jam.

"Ini rangkaian Suro Bulan Kebudayaan, selain Ngisis Ringgit kita juga Nabuh (membunyikan) Gamelan. Wayang yang usianya sudah lebih dari 100 tahun kami keluarkan, diisis," ujar anggota Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) Divisi Wayang, RM Restu Budi Setiawan.

Menurut dia, 45 wayang tersebut berasal dari Thailand. Koleksi wayang tersebut sebagian merupakan cinderamata atau hadiah. Sebelum ngisis wayang dilakukan, terlebih dahulu dilakukan prosesi wilujengan. Sebuah tumpeng lengkap dengan jajanan pasar didoakan oleh ulama keraton. Seperti halnya prosesi adat keraton lainnya, nampak juga bakar kemenyan.

Restu mengemukakan, meski telah dimakan usia, puluhan wayang tersebut masih dalam kondisi bagus. Kendati demikian, tetap dibutuhkan kesabaran dan ketelitian untuk membersihkan wayang agar tidak rusak.

"Sebenarnya wayang ini masih bisa dimainkan kok, tetapi karena ini peninggalan bersejarah, akan lebih baik kalau dirawat dan disimpan saja," tandasnya.

Kepala UPTD Museum Dinas Kebudayaan Kota Solo Bambang MBS menambahkan, usai ngisis ringgit, akan digelar prosesi nabuh atau membunyikan gamelan.

"Kalau nabuh gamelan ini kita lakukan dua bulan sekali, agar ketika ditabuh suara gamelan tetap terjaga," tuturnya. [eko]

Topik berita Terkait:
  1. Satu Suro
  2. Tahun Baru Islam
  3. Surakarta
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini