Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Sabeni, seni bela diri Tenabang

Sabeni, seni bela diri Tenabang silat beksi Betawi. arie basuki©2013 Merdeka.com

Merdeka.com - Sabeni begitu tulisan yang ada di plang, salah satu sudut Jalan KH Mas Mansyur, tepatnya sebelum Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat. Penggalan kata itu ternyata nama seorang tokoh bela diri silat dari Tanah Abang.

Nama aslinya Sabeni bin Canam, lahir 1860 dan wafat tahun 1945. Dia anak dari pasangan bernama Channam dan Piyah. Di masa penjajahan dulu, dia merupakan jago silat Tenabang (Tanah Abang) dan dipercaya oleh Belanda menjadi seorang sarean (lurah) untuk mengawasi keamanan mulai dari Tanah Abang hingga Tanjung Priok, Jakarta Utara.

"Orang namanya dibikin jalan karena berjasa," kata Ramdhani bin Sabeni, cucu Sabeni saat ditemui merdeka.com di Plaza Indonesia, Jumat kemarin.

Dia mengatakan, dulu sebelum menjadi Jalan Sabeni, jalan itu bernama Gang Kubur lama. "Dulunya banyak kuburan," ujarnya.

Nama Sabeni mulai dipopulerkan lewat Teater Mira tahun 80-an yang disutradarai sutradara kawakan Nazar Amir. Saat itu Sabeni disebut Sahabat Kompeni.

"Sabeni dulu jawara sarean Tanah Abang," ungkap Ramdhani.

Sejarahnya bermula saat Sabeni menelurkan seni bela diri yang dikenal dengan seni bela diri Sabeni melalui anak-anaknya. Hingga saat ini seni bela diri itu masih hidup dan tumbuh di Tanah Abang.

Meski menelurkan seni bela diri itu pada Ramdhani, Sabeni ternyata tidak punya nama untuk jurus-jurusnya itu. Lantas, diberilah nama seni bela Sabeni oleh ayah Ramadhani, Mustopa (anak Sabeni).

"Aliran Sabeni diambil dari Sabeni," katanya.

Dari sana kemudian dibentuk aliran Silat Sabeni Cing Mus. Cing Mus diambil dari nama Mustofa yang menelurkan dan mengajarkan keturunannya hingga masih ada sampai saat ini.

Ada lima jurus yang dipelajari dari Silat Sabeni Cing Mus. Jurus pertama yang merupakan jurus dasar yaitu cara China. Lalu jurus kelabang nyebrang, empat persegi dan empat lima pancar. Dari ke empat jurus tersebut, jurus pamungkas aliran Cing Mus yaitu jurus selat bumi.

"Jurus selat bumi itu paling lengkap, makin tinggi kita belajar, makin susah," ujarnya.

Untuk mempatenkan jurus itu lantas dibuatlah sebuah lambang yang saat ini menjadi lambang silat Sabeni Cing Mus.

"Lambang itu menggambarkan lima jurus tadi. Itu ada dua naga, bumi, pancaran api, merak dan di atasnya kelabang," katanya.

Selain aliran Silat Sabeni Cing Mus, di Tanah Abang juga berkembang banyak aliran silat Sabeni. Salah satunya aliran Maen Pukulan Sabeni Tenabang yang dikembangkan anak ke 7 Sabeni yaitu M Ali Sabeni kemudia diteruskan ke anaknya, Zul Bachtiar bin Ali bin Sabeni.

Sedikit berbeda dengan aliran Silat Sabeni Cing Mus, aliran Maen Pukul Sabeni memiliki 15 jurus. Pertama, Jalan Jurus I, Jalan Jurus Kotek, Jalan Jurus Sikut, Jalan Jurus Tampar Monyet, Jalan Jurus Sendok, Jalan Jurus Pulir, Jalan Jurus China 1 dan China 2, Jalan Jurus Genggang, Jalan Jurus Tangkis Sangkolan/Pukulan Lawan, Jalan Jurus Kelabang Nyebrang, Jalan Jurus Empat Kalima Pancer, Jalan Jurus Longok, Jalan Jurus Merak Ngigel, Jalan Jurus Naga Ngerem dan Jalan Jurus Selat Bumi

Kendati banyak aliran Sabeni yang berkembang pada dasarnya semua merupakan satu guru yaitu Mustofa. Inti dari seni bela diri Sabeni yaitu kecepatan dan pukulan yang mematikan.

"Sabeni itu adu kecepatan dan kedua setiap pukulan mematikan, jadi sabeni tidak pernah menangkis meski lawan pakai golok," ujarnya. (mdk/lia)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP