Bupati Banyuasin Askolani dibuat geram adanya perusahaan yang menolak memberi air untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Dia sampai mengancam mencabut izin perusahaan tersebut.
Askolasi mendatangi PT BGP yang berada di Desa Gasing, Talang Kelapa, Banyuasin, Sumatera Selatan, untuk klarifikasi laporan kepala desa setempat dan petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) yang diusir perusahaan saat meminta air untuk memadamkan karhutla di desa itu. Kedatangan Bupati Askolani disambut sejumlah karyawan perusahaan yang bergerak di bidang pengolahan karet remah (crumb rubber) itu.
Askolani didampingi sejumlah pejabat bersama unsur TNI. Tiba di perusahaan, Askolani terlebih dahulu mendengar penjelasan dari Kades Gasing, Nurbaiti Apriani, untuk mengetahui akar persoalan. Di hadapan manajemen perusahaan, kades menerangkan, perangkat desa bersama Satpol PP dan petugas BPBD Banyuasin, hendak meminta air di perusahaan untuk memadamkan api. Namun, tim pemadam dilarang mengambil air sampai mereka diusir perusahaan saat mengisi tangki.
"Kami kan bukan minta tim pemadam dia (perusahaan), cuma minta air penyedot. Dak boleh kemarin, sama buk Emi (HRD)," ungkap Kades Gasing Nurbaiti Apriadi seperti dalam video yang dilihat, Minggu (11/10).
Dengan nada emosi, Askolani meminta perusahaan tidak mempersulit tim pemadam dalam upaya memadamkan api. Parusahaan mestinya membantu pemerintah menanggulangi masalah ini.
"Jangan main-main sama saya, ini lagi musibah. Kita saling bantulah, kamu ambil air kami di sini. Masuk Gasing kan? Gak boleh kayak gitu, masa bupati langsung minta ke sini, kurang ajar kamu," kata Askolani kepada perwakilan perusahaan.
"Saya marah, ini bu kades ngomong gak boleh. Bantulah masyarakat kita, kamu gak bisa kasih uang, gak bisa bantu alat pemadam, bantulah air. Air kan air kita," sambung dia.
Askolani lantas meminta bertemu dengan Emi, orang yang disebut-sebut melarang tersebut. Namun yang bersangkutan sedang tidak berada di tempat dan disambungkan melalui sambungan telepon oleh bawahannya. Awalnya Askolani berbicara lembut dengan HRD perusahaan bernama Emi. Namun emosinya memuncak begitu mendengar pengakuan Emi yang bertolak belakang dengan fakta sebenarnya
"Bohong kamu, ibu ini bohong, ini buk kades, ada saksi. Ibu yang larang katanya. Pokoknya saya gak mau lagi dengar cerita. Ibu masih di Banyuasin gak ini? Saya emosi, kita musibah ini, masak minta air saja, ibu jangan kurang ajak ibu ya," kata Askolani.
Dari sambungan telepon, Emi mengaku telah memberi air kepada Babinsa. Namun pengakuan itu dibantah Babinsa yang turut mendampingi Askolani. Askolani menyebut tindakan perusahaan tidak dapat ditolerir. Dia mengancam akan menutup perusahaan tersebut jika tidak peduli dengan keadaan darurat yang terjadi.
"Aku tutup pabrik kamu, jangan main-main. Ini wilayah kami ini," tegas Askolani.
Kepala Pelaksana BPBD Sumsel M Iqbal Alisyahbana menyayangkan tindakan perusahaan jika kejadiannya benar seperti itu. Di saat terjadi bencana, mestinya semua sumber daya yang ada bisa digunakan untuk mengatasi, terlebih areal kebakaran berada di sekitar perusahan.
"Mestinya bukan cuma kasih air, perusahaan juga turut memadamkan dengan mengerahkan SDM mereka karena menyangkut hajat warga sekitar dan perusahaan itu sendiri. Kami sayangkan ini terjadi," kata Iqbal.