Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait bersama Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian meninjau langsung rumah warga yang menjadi calon penerima bantuan bedah rumah melalui program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS).
Maruarar yang akrab disapa Menteri Ara bersama Tito meninjau rumah Eti Nurhayati di Kampung Pamoyanan, Plered, Jawa Barat (Jabar), Jumat, 2 Oktober 2026.
Keduanya melihat kondisi rumah Eti yang dinilai sudah tidak layak huni. Eti juga telah memenuhi syarat untuk mendapatkan bantuan bedah rumah melalui program BSPS.
"Ibu tinggal berapa orang di sini? Berapa penghasilan per bulannya," tanya Ara di lokasi, Jumat, 2 Oktober 2026.
"Saya di sini tinggal sama suami, anak, mantu, cucu ada 5 orang. Sebulan ada dapet Rp 2.000.000," jawab Eti.
Ara mengatakan kondisi ekonomi dan tempat tinggal Eti memenuhi kriteria untuk mendapatkan bantuan. Dia pun memastikan proses perbaikan rumah tersebut dapat segera dimulai.
"Jadi total penghasilannya Rp 2.000.000 per bulan itu untuk 5 orang. Rumah kayak begini, ini masuk kriteria, jadi rumahnya akan kita bedah ya bu, kita perbaiki. Boleh kita mulai 5 Oktober (perbaikan rumah)? Sampai nanti 5 Desember," kata Ara.
Ara kemudian memastikan Eti dan keluarganya memiliki tempat tinggal sementara selama proses perbaikan berlangsung. Eti mengatakan mereka akan menempati rumah milik saudaranya.
"Di rumah saudara itu ada di depan itu kosong gak ada penghuninya," ucap Eti.
Mendengar penjelasan tersebut, Ara merasa lega karena proses perbaikan rumah dapat segera dilakukan tanpa harus menunggu lebih lama.
Rumah Tidak Layak Huni
Eti juga menceritakan kondisi rumahnya yang sudah banyak mengalami kebocoran. Saat hujan turun, dia bersama keluarganya terpaksa menggunakan ember dan baskom untuk menampung air yang masuk dari atap rumah.
"(Atap rumah) bukan rembes lagi, itu pakai ember, pakai baskom (kalau hujan)," kata Eti.
Ara kemudian melihat langsung bagian dalam rumah dan memastikan kondisinya memang sudah tidak layak huni. Selain atap yang rusak, tembok rumah juga terlihat hampir roboh.
Berdasarkan pantauan Liputan6.com di lokasi, kondisi rumah Eti memang memprihatinkan. Atapnya terbuat dari anyaman kayu yang sudah lapuk, sobek, dan hampir roboh.
Rumah yang sebagian besar berbahan kayu itu juga tampak reyot dan tidak lagi berdiri kokoh.
Tinjau Rumah yang Sudah Dibenahi
Selain meninjau rumah calon penerima bantuan, Ara dan Tito juga melihat langsung rumah warga yang telah mendapatkan bantuan bedah rumah melalui program BSPS.
Amung bersama istrinya menjadi salah satu penerima bantuan tersebut. Dia mengatakan saat ini terdapat empat orang yang tinggal di rumah tersebut.
"Di rumah ada 4 orang. Dulu waktu muda kerja, sekarang udah gak kuat. Sekarang yang kerja anak satu, kerja bangunan, penghasilannya sebulan Rp 1.800.000," ucap Amung.
"Jadi serumah 4 orang, sebulan penghasilannya Rp 1.800.000. Rumahnya sudah dibedah," kata Ara.
Rumah tersebut kini telah memasuki tahap akhir atau finishing. Penyelesaian rumah juga dilakukan dengan mengandalkan swadaya masyarakat.
Saat melihat kondisi bagian dalam rumah, Ara langsung meminta catatan mengenai kebutuhan yang masih kurang untuk menyelesaikan pembangunan.
"Total Rp 9.000.000 sama tukang, nanti catat aja kurangnya," tutup Ara.