Kebakaran di Kampung Muka, Ancol, Pademangan, Jakarta Utara, Minggu (27/9) pagi, meninggalkan pekerjaan panjang bagi warga. Setelah api padam, persoalan baru muncul yaitu tempat tinggal, kebutuhan sehari-hari hingga perlengkapan sekolah anak-anak harus kembali dipenuhi.
Ketua RW 04 Kampung Muka Ancol, Bahun mengatakan, kebakaran terjadi sekitar pukul 08.30 WIB dan baru selesai dipadamkan sekitar satu jam kemudian.
"Yang terbakar itu kena dampaknya 20 rumah. Itu terdiri dari kos-kosan sebanyak 95 pintu," kata Bahun saat berbincang dengan merdeka.com, Selasa (29/9).
Menurut dia, api diduga berasal dari lantai dua salah satu bangunan kontrakan. Api kemudian merembet ke bangunan di sekitarnya. Namun, kobaran api tidak sampai menjalar lebih luas karena terhalang bangunan tembok.
Bahun menuturkan, sebanyak 70 kepala keluarga dengan total 176 jiwa terdampak akibat kebakaran tersebut. Tiga orang mengalami luka ringan dan mendapat penanganan tim kesehatan di lokasi.
Advertisement
Bantuan Mulai Berdatangan
Sejak kebakaran terjadi, sejumlah bantuan mulai mengalir ke lokasi pengungsian. Bantuan datang antara lain dari BPBD DKI Jakarta dan Suku Dinas Sosial Jakarta Utara, selain bantuan dari berbagai pihak lainnya.
Kebutuhan dasar warga juga mulai terpenuhi. Mulai dari beras, telur, perlengkapan bayi, perlengkapan mandi untuk anak dan dewasa, selimut hingga handuk.
Makanan siap santap juga masih disuplai untuk warga terdampak.
"Alhamdulillah ada komplit. Beras, telur, perlengkapan bayi, perlengkapan mandi, dewasa dan anak-anak," ujar Bahun.
Namun, kebutuhan warga tidak berhenti pada makanan dan pakaian. Sebagian warga harus kembali memikirkan bagaimana membangun tempat tinggal mereka.
Bahun mengatakan untuk sementara warga akan mendapat terpal dan matras. Dapur umum juga masih akan dipertahankan di lokasi.
Untuk pembangunan kembali rumah, warga masih mengandalkan kemampuan masing-masing serta bantuan yang mungkin datang.
Advertisement
Aktivitas Warga Tetap Normal
Dampak kebakaran juga terasa bagi anak-anak. Bahun menyebut terdapat 33 anak dari jenjang SD hingga SMK yang terdampak.
Sebagian perlengkapan sekolah mereka ikut terbakar. Karena itu, pengurus wilayah melakukan pendataan agar bantuan yang diberikan dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing anak.
"Sepatu, seragam, buku, tas, segalanya," kata Bahun.
Tak hanya kebutuhan material, anak-anak juga mendapat pendampingan untuk mengurangi dampak psikologis setelah mengalami kebakaran.
Pendampingan dilakukan bersama pihak sekolah serta tim kepolisian yang datang ke lokasi.
Sejumlah anak yang sebelumnya tidak dapat bersekolah karena kehilangan seragam dan perlengkapan belajar mulai kembali mengikuti kegiatan sekolah setelah mendapatkan bantuan.
Salah seorang korban mengatakan anaknya yang duduk di bangku SMP sempat tidak masuk sekolah setelah kebakaran karena belum memiliki seragam. Setelah mendapat bantuan seragam dan perlengkapan sekolah, anaknya baru kembali bersekolah.
Advertisement
Berharap Ada Bantuan Material
Bagi sebagian warga, bantuan makanan dan kebutuhan sehari-hari mulai membuat kondisi lebih ringan. Namun, persoalan tempat tinggal masih belum selesai.
Salah seorang korban mengatakan bagian atas rumahnya terdampak kebakaran, sementara bagian bawah masih dapat digunakan untuk tempat tinggal sementara.
Saat api membesar, ia berusaha menyelamatkan barang-barang penting. Surat-surat, termasuk dokumen keluarga, berhasil diamankan. Televisi dan kipas juga masih dapat diselamatkan.
Kini, kebutuhan yang paling diharapkannya adalah bantuan material untuk memperbaiki rumah.
"Materialnya. Biar bisa bangun rumah lagi," ujarnya.
Untuk sementara, ia mendapat bantuan berupa terpal yang digunakan untuk menutup bagian rumah yang terdampak. Namun, kondisi tersebut membuatnya memikirkan kemungkinan datangnya musim hujan.
Selain tempat tinggal, kebakaran juga sempat mengganggu aktivitas ekonominya. Ia mengaku tidak dapat bekerja selama satu hari setelah kejadian.
Ia memilih tetap tinggal di bagian rumah yang masih bisa digunakan sembari menunggu kemampuan untuk memperbaiki bagian yang rusak. Warga tersebut juga sudah lama tinggal di Kampung Muka dan memilih bertahan di lingkungan tersebut.
Advertisement
Bertahan dengan Mencari Kebutuhan
Bagi warga Kampung Muka, padamnya api bukan berarti persoalan selesai. Mereka masih harus membersihkan sisa bangunan, mengamankan tempat tinggal sementara, hingga memikirkan kebutuhan jangka panjang.
Bahun mengatakan bantuan kebutuhan sehari-hari diperkirakan masih akan diterima hingga Kamis. Setelah itu, warga diharapkan mulai kembali memenuhi kebutuhan secara mandiri dengan bantuan yang telah tersedia.
Sementara itu, area yang terdampak kebakaran mulai dibersihkan. Terpal dan matras disiapkan untuk membantu warga bertahan sebelum memiliki tempat tinggal yang lebih permanen.
Di tengah puing-puing bangunan, pemulihan warga Kampung Muka pun berjalan perlahan. Bukan hanya rumah yang harus kembali dibangun, tetapi juga rutinitas warga yang sempat terhenti akibat kobaran api.