Kabar kelahiran bayi dengan kaki menyatu membuat warga Desa Kuala Dua Belas, Tulung Selapan, Ogan Ilir, Sumatera Selatan, gempar. Bayi pasangan JW dan SS itu lahir melalui persalinan normal pada Jumat (24/7/2026), namun meninggal hanya beberapa menit setelah dilahirkan.
Penampakan bayi tersebut beredar luas di media sosial. Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ilir menyebut peristiwa kelahiran itu terjadi di Bangka Belitung.
Selain kedua tungkai bawah yang menyatu mirip ekor ikan duyung, organ kelamin luar bayi tidak tampak jelas sehingga jenis kelamin belum dapat diketahui. Jenazah telah dimakamkan di Bangka Belitung.
Advertisement
Lokasi Kejadian Diklarifikasi Pemkab OKI
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Ogan Komering Ilir (OKI) Adi Yanto membenarkan kabar yang beredar berikut videonya, namun menegaskan lokasi kejadian bukan di wilayah OKI.
"Itu di Bangka, bukan di Tulung Selapan OKI," ungkap Adi Yanto, Senin (27/7/2026).
Ia menjelaskan, orang tua bayi selama ini tinggal di Desa Kuala Dua Belas, Tulung Selapan, Ogan Ilir. Beberapa hari sebelum melahirkan, mereka pulang ke kampung istri di Bangka—kebiasaan yang dilakukan setiap kali menyambut kelahiran anak.
"Tinggal di Tulung Selapan dan pulang ke Bangka saat mau melahirkan. Bayi itu anak ketiga dari pasangan ini," kata Adi Yanto.
Adi juga menyebut proses pemakaman dilakukan di Bangka Belitung.
"Ya, sudah dimakamkan di Bangka juga," kata Adi Yanto.
Advertisement
Sirenomelia di Balik Bayi Kaki Menyatu
Berdasarkan data yang diperoleh, bayi tersebut mengidap kelainan langka sirenomelia atau Mermaid Syndrome. Secara medis, sirenomelia adalah kelainan bawaan kongenital yang sangat jarang, ditandai penyatuan kedua kaki dan umumnya disertai gangguan perkembangan organ vital seperti ginjal, saluran kemih, usus, hingga organ kelamin.
Literatur kesehatan memperkirakan sindrom ini terjadi pada sekitar 1 dari 60.000 hingga 100.000 kelahiran hidup. Peluang bertahan hidup sangat kecil karena organ-organ dalam kerap tidak berkembang sempurna.
Penyebab pasti sirenomelia hingga kini belum diketahui. Para ahli menduga kelainan ini dipicu gangguan perkembangan pembuluh darah janin pada awal kehamilan yang menghentikan pasokan darah normal ke bagian bawah tubuh.