Antusiasme masyarakat Sulawesi Selatan pergi keluar negeri tetap tinggi meski saat ini kurs dolar terhadap rupiah menyentuh Rp18.195. Berdasarkan data Kantor Imigrasi Makassar, tercatat selama periode Mei-Juni 2026 sebanyak 4.420 pemohon.
Kepala Bidang Dokumen Perjalanan dan Izin Tinggal Imigrasi Makassar Oky Derajat Rizki Mubarok mengatakan permohonan pengurusan paspor di Kantor Imigrasi Makassar masih normal meski adanya pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar yang telah menyentuh Rp18.195. Jika dibandingkan data periode yang sama pada tahun 2025, tidak ada penurunan pengurusan paspor.
"Walaupun ada penurunan nilai tukar rupiah yang terjadi, tapi para pemohon paspor tetap sama. Tidak terjadi penurunan," ujarnya kepada wartawan di Kantor Imigrasi Makassar, Senin (8/6).
Oky memaparkan dalam kurun waktu enam bulan atau Januari hingga 8 Juni 2026, Imigrasi Makassar mencatat 18.937 orang mengurus paspor. Sementara untuk periode Mei hingga 8 Juni 2026, Oky menyebut ada 4.420 orang mengurus paspor.
"Bulan Mei 2026 ada 3.631 pemohon. Sementara (bulan) Juni hingga hari ini (8 Juni 2026) tercatat ada 789 pemohon," ungkapnya.
Oky menungkapkan warga yang mengurus parpor dengan berbagai kepentingan. Meski demikian, kata Oky, mayoritas masyarakat Sulsel mengurus paspor untuk ibadah umrah.
"Dari semua tujuan (pemohon) paspor baik itu yang wisata, kunjungan keluarga, umrah maupun haji. Tapi terbanyak untuk umrah," ucapnya.
Sebelumnya diberitakan, Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi memperkirakan pelemahan mata uang rupiah masih berlanjut dan berpotensi menyentuh level Rp19.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir Juni 2026.
"Hari ini rupiah dibuka melemah cukup tajam. Tadi saya sudah infokan yaitu Rp18.129. Ada kemungkinan besar rupiah kalau saya lihat dari kondisi saat ini level Rp19.000.000 di akhir bulan ini kemungkinan akan tercapai," kata Ibrahim kepada media, Senin (8/6).
Menurut Ibrahim, tekanan terhadap rupiah saat ini berasal dari kombinasi faktor eksternal dan domestik yang membuat investor semakin berhati-hati terhadap aset berisiko di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Ibrahim menjelaskan, salah satu faktor utama yang mendorong penguatan dolar AS adalah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Menurutnya, konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran di kawasan Selat Hormuz telah memicu kekhawatiran pasar global terhadap stabilitas pasokan energi dunia. Situasi semakin memanas setelah Iran melakukan serangan terhadap sekutu-sekutu AS di kawasan Timur Tengah, termasuk Kuwait dan Uni Emirat Arab.
Di saat yang sama, konflik Israel dengan Hamas dan ketegangan di Lebanon Selatan juga terus memicu ketidakpastian geopolitik. Kondisi tersebut membuat investor global mencari aset yang dianggap lebih aman, salah satunya dolar AS.
"Itu membuat dolar menguat, kemudian harga minyak juga naik," imbuhnya.