Banjir yang masih merendam sejumlah wilayah di Tanjung Lengkong, Kelurahan Bidara Cina, Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur, tidak menyurutkan semangat warga untuk mencari takjil. Fenomena ini terlihat jelas pada Jumat sore, sekitar pukul 17.00 WIB, di mana deretan pedagang takjil mulai dipadati oleh pembeli yang antusias. Meskipun akses jalan masih basah dan berlumpur akibat luapan air, warga tetap berbondong-bondong untuk membeli aneka makanan dan minuman untuk berbuka puasa.
Kondisi ini menunjukkan resiliensi dan adaptasi masyarakat dalam menghadapi bencana alam, terutama saat menjalankan ibadah puasa Ramadan. Banyak warga yang memilih untuk tetap menjalankan tradisi berburu takjil sebagai bagian dari rutinitas Ramadan mereka. Mereka beranggapan bahwa aktivitas ini dapat sedikit mengalihkan pikiran dari musibah banjir yang sedang melanda permukiman mereka.
Antusiasme Warga Bidara Cina ini menjadi sorotan, mengingat ketinggian air di beberapa titik mencapai 1,7 meter. Meskipun harus berjuang menembus genangan dan lumpur, mereka tetap memperlihatkan semangat yang tak padam. Pemandangan anak-anak membawa kantong plastik dan ibu-ibu memilih gorengan, kolak, serta es buah menjadi bukti nyata dari semangat Ramadan yang tak tergoyahkan.
Advertisement
Advertisement
Antusiasme Warga di Tengah Genangan Air
Di tengah genangan air dan sisa lumpur, deretan pedagang takjil di Tanjung Lengkong, Bidara Cina, tetap ramai pembeli. Sekitar pukul 17.00 WIB, warga mulai memadati lapak-lapak yang menjajakan berbagai hidangan berbuka puasa. Pemandangan ini kontras dengan kondisi lingkungan yang masih terdampak banjir, menunjukkan betapa pentingnya tradisi takjil bagi masyarakat setempat.
Beberapa anak terlihat gembira membawa kantong plastik berisi jajanan, sementara para ibu rumah tangga sibuk memilih beragam pilihan takjil. Mulai dari gorengan hangat, kolak manis, hingga es buah segar menjadi incaran utama. Aktivitas berburu takjil ini seolah menjadi oase di tengah kesulitan, memberikan sedikit kebahagiaan dan normalitas bagi warga yang terdampak.
Sabil (38), salah seorang warga, mengaku rumahnya sempat terendam banjir hingga setinggi 100 sentimeter lebih sejak Jumat dini hari. Meskipun lelah membersihkan sisa lumpur, Sabil tetap menyempatkan diri membeli takjil untuk keluarganya. "Air naik terus, sekarang tetap segitu. Kita kan tetap harus buka puasa, jadi tetap beli gorengan, lontong, kolak. Kalau di rumah terus mikirin banjir rasanya makin kepikiran capeknya. Jadi ya udah seperti biasa aja beli takjil," ujar Sabil.
Advertisement
Advertisement
Kisah Perjuangan Warga Terdampak Banjir
Musibah banjir kali ini membawa tantangan tersendiri bagi Warga Bidara Cina, terutama bagi mereka yang rumahnya terendam. Sabil, misalnya, harus menghadapi genangan air setinggi satu meter di rumahnya. Meskipun demikian, kebutuhan untuk berbuka puasa tetap menjadi prioritas, mendorongnya untuk tetap keluar mencari takjil demi keluarga.
Hal serupa juga dialami oleh Rahmat (45), warga lainnya yang tinggal tak jauh dari bantaran Kali Ciliwung. Rumah Rahmat juga terdampak banjir yang datang sejak pukul 05.00 WIB. "Namanya puasa tetap jalan. Jadi buka puasa butuh makanan, ya udah kita beli kaya biasa," kata Rahmat, menegaskan bahwa ibadah puasa tetap harus dijalankan meskipun dalam kondisi sulit.
Perjuangan warga seperti Sabil dan Rahmat ini menyoroti bagaimana masyarakat beradaptasi dengan kondisi darurat. Mereka tidak menyerah pada keadaan, melainkan mencari cara untuk tetap menjaga rutinitas dan semangat Ramadan. Keputusan untuk tetap berburu takjil ini bukan hanya tentang makanan, tetapi juga tentang mempertahankan harapan dan kebersamaan di tengah musibah.
Advertisement
Advertisement
Penyebab dan Kondisi Banjir Terkini
Banjir yang kembali merendam wilayah Tanjung Lengkong, Kelurahan Bidara Cina, Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur, mencapai ketinggian air hingga 1,7 meter atau 170 sentimeter. Lurah Bidara Cina, Suhartono, menjelaskan bahwa hujan deras yang mengguyur wilayah selatan Jakarta sejak Jumat dini hari menjadi pemicu utama naiknya permukaan air di kawasan tersebut. Kondisi ini diperparah dengan luapan Kali Ciliwung yang memang melintasi area tersebut.
Suhartono menambahkan, berdasarkan peringatan dini banjir, status di Katulampa, Manggarai, dan Depok sempat berada di siaga 3. Hujan deras yang dimulai sekitar pukul 04.30 WIB di wilayah selatan Jakarta menyebabkan peningkatan debit air secara signifikan. Air mulai masuk ke permukiman warga sekitar pukul 11.00 WIB dan terus mengalami kenaikan hingga sore hari, mencapai titik terdalam di Gang Macan RT 05/RW 07.
Ketinggian air yang mencapai 170 sentimeter di beberapa titik menunjukkan tingkat keparahan banjir kali ini. Meskipun demikian, upaya penanganan dan pemantauan terus dilakukan oleh pihak terkait. Informasi mengenai kondisi terkini banjir menjadi krusial bagi warga untuk mengambil langkah antisipasi dan menjaga keselamatan.
Advertisement
Sumber: AntaraNews