Relokasi Korban Jembatan Putus Aceh Tengah: 150 KK Terdampak Pindah ke Hunian Aman

Sebanyak 150 KK terdampak jembatan putus di Aceh Tengah telah direlokasi ke tempat yang lebih aman, sementara TNI AD kebut pembangunan jembatan permanen untuk memulihkan akses vital.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Relokasi Korban Jembatan Putus Aceh Tengah: 150 KK Terdampak Pindah ke Hunian Aman
Sebanyak 150 KK terdampak jembatan putus di Aceh Tengah telah direlokasi ke tempat yang lebih aman, sementara TNI AD kebut pembangunan jembatan permanen untuk memulihkan akses vital. (AntaraNews)

Sebanyak 150 Kepala Keluarga (KK) yang terdampak musibah jembatan putus di Aceh Tengah, Aceh, kini telah direlokasi ke wilayah yang lebih aman. Langkah ini diambil menyusul kondisi terisolir yang dialami warga setelah infrastruktur vital tersebut ambruk akibat bencana alam.

Dandim 0106 Aceh Tengah, Letkol Inf. Raden Herman Sasmita, mengonfirmasi proses relokasi ini telah berjalan. Sebagian besar penyintas telah menempati hunian sementara, sementara sisanya memilih kembali ke rumah pribadi yang masih layak huni.

Upaya pemulihan pasca-bencana terus dilakukan, termasuk pembangunan jembatan permanen yang ditargetkan rampung awal Maret. Kolaborasi berbagai pihak diharapkan dapat mempercepat penanganan dampak bencana ini, terutama dalam proses relokasi korban jembatan putus Aceh Tengah.

Penanganan Korban Terdampak dan Proses Relokasi

Letkol Inf. Raden Herman Sasmita menjelaskan bahwa dari total 150 KK yang terdampak, 80 KK di antaranya sebelumnya menempati pengungsian di SMP 23 Takengon. Mereka kini telah dipindahkan ke hunian sementara yang lebih layak dan aman.

Sementara itu, sebagian KK lainnya memutuskan untuk kembali ke rumah masing-masing. Keputusan ini diambil karena kondisi rumah mereka dinilai masih aman dan tidak mengalami kerusakan signifikan akibat insiden jembatan putus tersebut.

"Mereka yang kemarin menempati pengungsian di SMP 23 sudah direlokasi ke hunian sementara, lalu sebagian menempati rumah masing-masing, karena kondisinya masih baik dan yang direlokasi itu yang menempati pengungsian," ujar Dandim 0106 Aceh Tengah tersebut.

Proses relokasi ini menjadi prioritas utama untuk memastikan keselamatan dan kenyamanan warga, terutama menjelang datangnya bulan Ramadhan. Pihak berwenang terus memantau kondisi para penyintas bencana di Aceh Tengah, memastikan kebutuhan dasar mereka terpenuhi.

Pembangunan Jembatan Permanen dan Kolaborasi Penanganan Bencana

Saat ini, TNI AD sedang gencar membangun jembatan permanen yang sangat vital bagi masyarakat setempat. Jembatan ini akan menghubungkan empat desa di Kecamatan Ketol, yaitu Desa Burlah, Kekuyang, Bugeara, dan Bintang Pepara.

Pembangunan jembatan tersebut ditargetkan dapat rampung pada tanggal 6 Maret mendatang, diharapkan dapat segera memulihkan akses transportasi dan ekonomi warga. Sebelumnya, sebuah jembatan sementara telah dibangun, namun kondisinya kini rawan akibat curah hujan tinggi dan debit air sungai yang meningkat.

Herman Sasmita juga menekankan pentingnya kolaborasi antarinstansi dalam upaya pemulihan ini. Ia berharap seluruh personel TNI, BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah), serta dinas-dinas terkait dapat bekerja sama secara maksimal.

"Kami harapkan semua pihak, BPBD, dinas-dinas yang terkait, semua bisa berkolaborasi dengan kami dalam upaya pemulihan ini, semua bekerja maksimal, tidak boleh merasa terbebani dengan datangnya bulan Ramadhan ini ya," tegasnya. Sinergi ini krusial untuk memastikan bantuan dan pemulihan berjalan efektif serta cepat, demi kesejahteraan masyarakat terdampak.

Seluruh upaya ini menunjukkan komitmen pemerintah dan aparat dalam menanggulangi dampak bencana serta memastikan kehidupan masyarakat dapat kembali normal. Fokus utama tetap pada keselamatan, pemulihan infrastruktur, dan dukungan berkelanjutan bagi para penyintas di Aceh Tengah.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi