Dinkes Batam Ungkap Prevalensi Anemia Remaja Putri Capai 3,1 Persen, Jauh di Bawah Nasional

Dinas Kesehatan Batam melaporkan prevalensi anemia remaja putri di Batam hanya 3,1 persen, angka yang jauh lebih rendah dari rata-rata nasional. Berbagai upaya penanganan dan pencegahan terus digencarkan untuk mengatasi anemia remaja putri di kota tersebu

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Dinkes Batam Ungkap Prevalensi Anemia Remaja Putri Capai 3,1 Persen, Jauh di Bawah Nasional
Dinas Kesehatan Batam melaporkan prevalensi anemia remaja putri di Batam hanya 3,1 persen, angka yang jauh lebih rendah dari rata-rata nasional. Berbagai upaya penanganan dan pencegahan terus digencarkan untuk mengatasi anemia remaja putri di kota tersebu (AntaraNews)

Dinas Kesehatan (Dinkes) Batam, Kepulauan Riau, mengungkapkan data terbaru mengenai prevalensi anemia pada remaja putri di wilayahnya. Tercatat, angka kasus anemia pada kelompok ini mencapai 3,1 persen. Angka ini menunjukkan bahwa sebanyak 739 remaja putri pernah teridentifikasi mengalami anemia di Batam.

Kepala Dinkes Batam, Didi Kusmarjadi, menjelaskan bahwa seluruh remaja putri yang teridentifikasi telah mendapatkan pengobatan sesuai standar yang berlaku. Perbandingan dengan data nasional menunjukkan angka di Batam relatif jauh lebih kecil. Secara nasional, prevalensi anemia pada tahun 2018 mencapai 48,9 persen.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pada tahun 2025 mencatat sekitar 7,5 juta orang menderita anemia di Indonesia. Dinkes Batam aktif melakukan pemeriksaan hemoglobin (Hb) di sekolah-sekolah dan melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di puskesmas. Langkah ini bertujuan untuk deteksi dini dan penanganan kasus anemia remaja putri.

Perbandingan Prevalensi Anemia Remaja Putri Batam dengan Nasional

Data Dinkes Batam menunjukkan prevalensi anemia pada remaja putri di Batam berada pada angka 3,1 persen. Angka ini terbilang rendah jika dibandingkan dengan prevalensi anemia secara nasional. Pada tahun 2018, prevalensi anemia di Indonesia mencapai 48,9 persen, sebuah angka yang signifikan.

Didi Kusmarjadi menekankan bahwa temuan 739 remaja putri yang teridentifikasi anemia di Batam telah ditangani. Ini menunjukkan efektivitas program kesehatan di tingkat lokal. Kemenkes juga mencatat jutaan kasus anemia secara nasional, menyoroti pentingnya penanganan serius.

Pemeriksaan hemoglobin (Hb) rutin menjadi salah satu strategi utama Dinkes Batam. Kegiatan ini dilakukan di lingkungan sekolah serta melalui fasilitas kesehatan seperti puskesmas. Deteksi dini sangat krusial untuk mencegah dampak jangka panjang anemia pada remaja putri.

Strategi Penanganan dan Pemberian Tablet Tambah Darah (TTD)

Remaja putri yang terindikasi anemia mendapatkan penanganan berupa pemberian Tablet Tambah Darah (TTD). Dosis yang diberikan adalah satu hingga dua tablet per hari selama dua hingga empat minggu. Ini merupakan bagian dari protokol standar penanganan anemia.

Setiap dua minggu, pemeriksaan ulang dilakukan untuk memantau perkembangan kondisi remaja. Jika anemia masih berlanjut, pemberian TTD akan diteruskan atau pasien dirujuk ke fasilitas kesehatan lanjutan. Tujuannya adalah memastikan kondisi kesehatan remaja putri pulih optimal.

Pentingnya konsumsi TTD bagi remaja putri tidak hanya untuk mengatasi anemia. TTD juga membantu mencegah gejala seperti lemas, pusing, dan pingsan saat belajar, menjaga imun tubuh, dan juga agar kesehatan reproduksi tetap terjaga.

Tantangan dalam Program Pencegahan Anemia Remaja Putri

Meskipun program penanganan anemia remaja putri telah berjalan, Dinkes Batam menghadapi sejumlah tantangan. Salah satu kendala utama adalah rendahnya kepatuhan remaja dalam mengonsumsi TTD. Beberapa remaja enggan mengonsumsi TTD karena rasa mual atau takut efek samping.

Selain itu, mitos keliru seperti TTD menyebabkan berat badan berlebih juga menjadi penghalang. Kurangnya pengetahuan tentang manfaat TTD dan minimnya pengawasan dari guru turut memperparah kondisi. Distribusi TTD yang belum merata serta dukungan sekolah dan orang tua yang masih rendah juga menjadi kendala.

Didi Kusmarjadi menegaskan bahwa TTD tidak hanya dibutuhkan perempuan, tetapi juga laki-laki dalam kondisi tertentu. Namun, remaja putri memiliki risiko lebih tinggi mengalami anemia karena menstruasi dan kebutuhan zat besi. Edukasi berkelanjutan diharapkan dapat semakin menurunkan prevalensi anemia di kota itu.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi