Tokoh Islam Tionghoa Jusuf Hamka memuji tekad Presiden Prabowo Subianto yang ingin ada persatuan antara pemerintah atau umara dengan ulama atau orang berilmu. Menurutnya, dengan menyatukan umara dan ulama, Prabowo ingin menghapus kesenjangan kemakmuran di masyarakat.
"Jadi, beliau kepengin negeri ini tidak ada kesenjangan lagi," kata Jusuf Hamka, Senin (9/2).
Pengusaha muslim dari Jakarta ini menyebut, persatuan umara dan ulama diharapkan bisa mewujudkan pemerataan kemakmuran di seluruh masyarakat Indonesia.
Prabowo disebutnya memiliki tekad untuk memberikan kesempatan pada semua golongan masyarakat untuk mendapatkan keleluasaan ekonomi.
Jusuf Hamka yang karib disapa Babah Alun ini mencontohkan kebijakan Presiden Prabowo yang menjadi perwujudan pemerataan yakni Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sudah dirasakan puluhan juta siswa di seluruh Indonesia.
Advertisement
Babah Alun menilai, Prabowo tidak ingin perputaran ekonomi di Indonesia hanya dikuasai segelintir orang saja.
"Jadi, beliau bilang 'saat ini mendingan uangnya saya kasih ke MBG. Ini anak-anak kita yang akan menjadi generasi penerus. Saya kasih ke koperasi supaya di desa-desa UMKM bergerak dan ekonomi akan bangkit',” sebutnya.
Babah Alun menegaskan, tekad Presiden ke-8 RI ini ingin menaikkan derajat masyarakat miskin di Indonesia. Selama ini, kesenjangan ditegaskannya menjadi penyebab masyarakat miskin di Indonesia semakin miskin, dan yang kaya semakin kaya.
"Beliau punya cita-cita mulia, saya lihat. Ingin yang miskin menjadi menengah, yang kaya juga jangan lebih-lebih lagi. Udah cukup,” ucapnya.
"Makanya beliau atur semuanya. Ditindak-tindakin. Yang menyimpang dikit, tindak semua. Enggak ada ampun,” tambahnya.
Advertisement
Pengusaha jalan tol ini menilai, wujud tekad Prabowo untuk membuat umara dan ulama bisa bersatu mewujudkan masyarakat sejahtera yakni hadiah pada Majelis Ulama Indonesia (MUI) berupa lahan 4.000 meter persegi di kawasan Bundaran HI.
Pemberian hadiah ini dinilainya bentuk rasa sayang Prabowo pada seluruh umat Islam di Indonesia. Saat ini, kantor MUI di Jalan Proklamasi merupakan milik Departemen Agama yang dipinjamkan ke MUI.
Jusuf mengungkapkan, MUI pernah dijanjikan akan dibangunkan kantor di kawasan Taman Mini, tapi hal itu tidak pernah terealisasi sampai sekarang.
"Dan hari ini satu surprise, kejutan, ya kok saya jadi, tadi waktu ini (diumumkan) terenyuh, waktu Presiden bilang. Sampai (mengucap) ‘Allahuakbar’, ini ternyata Presiden ini yang namanya Prabowo yang paling sayang kepada umat Islam,” ungkap pemilik PT Citra Marga Nusaphala Persada itu.
Jusuf mengaku, lahan yang awalnya milik Kedutaan Besar Inggris itu pernah akan dibeli oleh adiknya seharga Rp1,2 triliun. Namun, negara tidak menjual lahan tersebut.
"Negara tidak menjual. Negara pakai. Sekarang buat kepentingan MUI. Terus ada Baznas nanti dia di situ. Terus ada LDU, Lembaga Dana Umat. Dan dibangun 40 lantai. Ini megah sekali,” ucapnya.
Advertisement
Menurutnya, pembangunan gedung 40 lantai untuk MUI yang dijanjikan Presiden Prabowo ini setidaknya akan menelan biaya sekitar Rp9,8 triliun. Hal itu didasarkan perkiraan gedung yang akan dibangun seluas 1000 meter dengan tinggi 40 lantai, jadi ada 40 ribu meter.
Biaya pembangunan satu meter gedung tinggi bisa mencapai Rp20 juta. Artinya, pembangunan per lantai bisa menghabiskan Rp20 miliar per 1000 meter per lantai.
"Kalau 40 lantai, Rp20 miliar x 40, Rp 8 T ya kalau tidak salah. Rp8 triliun plus Rp1,2 itu Rp9,8 T. Ini hadiah,” tegasnya.
Babah Alun menyarankan agar gedung 40 lantai ini nantinya menjadi monumen yang bisa dibanggakan Bangsa Indonesia seperti Petronas Tower di Malaysia. Diperkirakan, pembangunan gedung akan selesai dalam waktu tiga tahun.
“Ya saya sih menyarankan kepada pemerintah jangan hanya dibuat gedung begitu saja buat perkantoran, tetapi juga dibuatkan jadi tempat wisata religi di sana. Jadi perjuangan Islam di Indonesia itu ada tuh kelihatan semacam museum ininya. Terus di atasnya dibuat kayak Petronas Tower. Ini kan satu kebanggaan,” pungkasnya.
Advertisement
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto mengumumkan penyediaan lahan seluas sekitar 4.000 meter persegi di kawasan strategis Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat. Lahan ini dialokasikan khusus untuk pembangunan gedung yang akan menjadi pusat kegiatan Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan berbagai lembaga umat Islam lainnya.
Pengumuman penting ini disampaikan Presiden Prabowo saat memberikan taklimat dalam agenda pengukuhan pengurus MUI periode 2025–2030 yang berlangsung di Masjid Istiqlal, Jakarta, pada hari Sabtu.
Presiden Prabowo menegaskan bahwa pembangunan gedung ini bukan sekadar penyediaan fasilitas fisik, melainkan juga simbol penting bagi institusi umat Islam. Beliau ingin Bundaran HI tidak hanya didominasi oleh hotel dan pusat perbelanjaan, tetapi juga menjadi lokasi bagi fasilitas keagamaan yang vital. Inisiatif ini diharapkan dapat membawa dampak positif yang luas bagi perkembangan syiar Islam di tanah air.
Advertisement
Gedung yang direncanakan akan berdiri setinggi sekitar 40 lantai ini akan menjadi pusat aktivitas bagi sejumlah institusi keislaman terkemuka. Selain MUI, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) dan berbagai organisasi kemasyarakatan Islam yang membutuhkan ruang perkantoran juga akan menempati gedung tersebut.
Tujuan utamanya adalah menciptakan ekosistem yang terintegrasi bagi lembaga-lembaga Islam untuk berkolaborasi dan melayani masyarakat secara lebih optimal.
Presiden Prabowo menjelaskan bahwa rencana pembangunan gedung di Bundaran HI ini merupakan tindak lanjut dari permintaan Imam Besar Masjid Istiqlal sekaligus Menteri Agama, Nasaruddin Umar. Sebelumnya, Nasaruddin Umar telah menyampaikan bahwa kantor MUI saat ini belum memiliki lokasi yang representatif.
"Saya pun maaf. Tidak tahu persis di mana kantor MUI. Tapi nanti kantor institusi-institusi Islam akan berada di jantungnya Ibu Kota Jakarta ini," kata Presiden Prabowo, yang disambut tepuk tangan meriah dari para hadirin.