Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq melakukan inspeksi mendadak ke Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, pada Minggu (01/2). Kunjungan ini bertujuan untuk mengecek langsung sistem pengelolaan sampah di wilayah tersebut. Inspeksi ini merupakan bagian dari penilaian prestisius Adipura, sebuah penghargaan bagi kota terbersih di Indonesia.
Dalam sidaknya, Menteri Hanif bersama jajarannya mengunjungi sejumlah lokasi vital seperti pasar dan lingkungan masyarakat. Beliau juga berinteraksi langsung dengan warga untuk mendapatkan gambaran objektif terkait praktik pengelolaan sampah sehari-hari.
“Saya cek tadi, kita sama-sama ngecek ke salah satu kepala desa ya, kita coba ‘interview’ tanpa kehadiran bupati, sengaja kita tidak ingin diikuti bupati supaya kita objektif,” kata Menteri Hanif setelah peninjauan. Pendekatan ini dilakukan untuk memastikan penilaian yang transparan dan akurat terhadap kondisi lapangan.
Advertisement
Advertisement
Ciamis Raih Nilai Tertinggi dalam Pengelolaan Sampah Nasional
Pengecekan langsung ke lapangan ini didasari oleh fakta bahwa Kabupaten Ciamis mendapatkan nilai tertinggi dalam sistem pengelolaan kebersihan sampah secara nasional. Hasil penilaian yang membanggakan ini mendorong Kementerian Lingkungan Hidup untuk memverifikasi kondisi aktual di daerah.
Tim peninjau mengecek berbagai aspek, mulai dari kondisi lingkungan daerah, partisipasi masyarakat, hingga proses pengelolaan akhir sampah. Ditemukan bahwa Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) di Ciamis sudah menerapkan sistem “controlled landfill”, yang berkontribusi signifikan terhadap tingginya nilai pengelolaan sampah.
“Nah, di Ciamis ini nilainya hari ini paling tinggi, sehingga potensial kepadanya mendapat reward sebagai kota bersih atau dalam prestisius Adipura,” ungkap Menteri Hanif. Kondisi ini menempatkan Ciamis sebagai kandidat kuat penerima penghargaan Adipura.
Advertisement
Advertisement
Kesadaran Warga Ciamis dalam Memilah Sampah dari Rumah
Salah satu temuan menarik dari pengecekan langsung di Ciamis adalah adanya kesadaran masyarakat yang tinggi dalam memilah sampah dari rumah. Bahkan, Menteri Hanif menemukan rumah-rumah yang sangat sederhana dan kurang layak huni, namun penghuninya sudah terbiasa memilah sampah.
“Rumah yang terkecil pun, yang sangat-sangat sederhana, mohon maaf, itu sudah memilah sampahnya, waktu kita tanya, kenapa? Karena sampahnya bisa dijual,” jelas Menteri Hanif. Motivasi ekonomi ini menjadi pendorong utama bagi masyarakat untuk mengelola sampah secara mandiri.
Fenomena ini menunjukkan bahwa kesadaran akan pengelolaan sampah tidak hanya terbatas pada kalangan mampu atau berpendidikan tinggi. Masyarakat di beberapa desa di Ciamis secara kolektif telah menerapkan praktik pilah sampah, membuktikan adanya partisipasi aktif dari berbagai lapisan sosial.
Advertisement
Advertisement
Tantangan dan Harapan untuk Pengelolaan Sampah Berkelanjutan
Meskipun banyak temuan positif, inspeksi Menteri Lingkungan Hidup juga mengungkap adanya tantangan. Di beberapa lokasi, masih ditemukan masyarakat yang membuang sampah sembarangan, seperti ke sungai, atau bahkan membakarnya.
Kondisi ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah daerah untuk diselesaikan. “Mudah-mudahan Ciamis bisa menyelesaikan PR-nya dalam beberapa hari ke depan sebelum penghargaan Adipura diberikan kepada Ciamis,” harap Menteri Hanif.
Bupati Ciamis Herdiat Sunarya mengakui bahwa masih banyak kekurangan dan kelemahan dalam pengelolaan sampah akibat keterbatasan yang ada. “Kami baru punya mimpi, punya niat, punya keinginan Ciamis menjadi kota bersih, sementara dengan keterbatasan, kami hampir tidak bisa bergerak, kami hanya mengajak, mengimbau, peran serta partisipasi masyarakat,” ujar Bupati Herdiat. Pemerintah daerah terus berupaya untuk meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat demi mencapai cita-cita Ciamis sebagai kota terbersih.
Advertisement
Sumber: AntaraNews