Ratusan penyintas banjir bandang di Desa Geudumbak, Kecamatan Langkahan, Aceh Utara, kini mulai menempati hunian sementara (huntara) berbahan kayu. Keputusan ini diambil meskipun fasilitas dasar seperti listrik dan kamar mandi belum tersedia di lokasi tersebut. Para warga terdampak telah mengungsi di tenda selama lebih dari sebulan pascabencana.
Abdullah (58), seorang warga Desa Geudumbak, mengungkapkan bahwa ia bersama istri dan dua anaknya telah menghuni huntara kayu selama sepekan terakhir. Sebelumnya, mereka terpaksa tinggal di tenda pengungsian selama sekitar satu bulan lebih setelah rumah mereka hanyut akibat banjir. Huntara ini menjadi harapan baru bagi mereka untuk memulai kembali kehidupan.
Hunian sementara berukuran 6x6 meter dengan dua kamar ini dibangun di atas lahan milik Abdullah sendiri, menggunakan material kayu gelondongan yang terbawa arus banjir. Pembangunan huntara ini merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak, termasuk Kementerian Kehutanan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Universitas Gadjah Mada (UGM), Rumah Zakat, serta melibatkan prajurit TNI AD dari Batalyon Zeni Tempur 5/Arati Bhaya Wighina.
Advertisement
Advertisement
Meskipun telah menempati huntara, Abdullah mengakui bahwa fasilitas dasar masih sangat minim. Tidak ada aliran listrik resmi dan ketiadaan kamar mandi menjadi kendala utama bagi keluarga untuk beraktivitas normal. Untuk penerangan malam hari, Abdullah berinisiatif memanfaatkan aki motornya yang rusak akibat banjir, menyambungkan kabel sederhana sebagai sumber listrik sementara di hunian kayunya.
Abdullah memilih lokasi huntara di lahannya sendiri agar tetap dekat dengan kebunnya. Namun, ia belum bisa kembali bekerja karena lingkungan sekitar rumah masih belum bersih dan fasilitas mandi belum tersedia. Meskipun demikian, Abdullah merasa huntara jauh lebih layak dibandingkan tenda pengungsian yang terasa panas di siang hari dan dingin pada malam hari.
Keuchik (Kepala Desa) Geudumbak, Saiful Bahri, menambahkan bahwa dua dusun di desanya masih belum mendapatkan aliran listrik dan warga kekurangan air bersih. Ia sangat berharap pemerintah dapat segera memenuhi kebutuhan dasar ini, terutama sebelum bulan Ramadhan tiba, agar proses pemulihan dapat berjalan optimal.
Advertisement
Advertisement
Pembangunan huntara kayu ini merupakan upaya kolektif dari berbagai pihak. Letkol Czi Wahyu Wuhono, Komandan Batalyon Zeni Tempur 5/Arati Bhaya Wighina (Danyonzipur 5/ABW) Kodam V/Brawijaya yang juga Komandan Satgas SSY Yonzipur 5 di sektor Aceh Utara, menyatakan pihaknya turut terlibat aktif dalam pembangunan ini.
Sebanyak 30 unit huntara telah berhasil dibangun melalui kolaborasi lintas sektor. Dana pembangunan berasal dari Rumah Zakat, sementara desain huntara dikembangkan oleh UGM dan ITB. Proses pengerjaannya melibatkan masyarakat, relawan, dan personel TNI. Material kayu yang digunakan berasal dari tumpukan kayu sisa banjir setempat, yang telah dipilah dan diverifikasi oleh Kementerian Kehutanan untuk memastikan kualitasnya layak pakai dan aman dihuni.
Setiap unit huntara dirancang untuk menampung rata-rata tiga hingga empat orang. Dengan demikian, 30 rumah yang telah selesai dapat menampung sekitar 90 hingga 120 penyintas yang sebelumnya tinggal di tenda pengungsian. Pembangunan satu rumah membutuhkan waktu tiga hingga empat hari dengan dukungan 20 personel, dan target keseluruhan adalah 100 unit huntara.
Advertisement
Advertisement
Banjir bandang yang melanda Desa Geudumbak berdampak signifikan terhadap 1.659 jiwa atau 457 kepala keluarga (KK), dengan 337 rumah hanyut, terutama di Dusun Pante Resep yang berada dekat sungai mati. Mayoritas warga Geudumbak yang berprofesi sebagai petani dan pekebun mengalami kerugian besar. Sekitar 80 persen kebun sawit, cokelat, pinang, jeruk, serta sawah rusak parah dan tidak dapat digunakan kembali pascabanjir.
Akses menuju permukiman kini mulai terbuka setelah pembersihan kayu gelondongan dilakukan oleh BNPB, TNI, dan Kementerian Kehutanan. Hal ini memudahkan mobilitas warga yang sebelumnya harus berjalan di atas tumpukan kayu selama berminggu-minggu.
Abdullah dan Keuchik Saiful Bahri berharap pemerintah dapat membantu pemulihan ekonomi warga. Dengan rusaknya sumber penghidupan utama, bantuan untuk mengembalikan produktivitas kebun dan sawah sangat dibutuhkan. Pemulihan infrastruktur dasar dan ekonomi menjadi prioritas utama agar masyarakat dapat bangkit kembali dari keterpurukan pascabencana.
Advertisement
Sumber: AntaraNews