Politisi Jerman Desak Penarikan Pasukan AS di Tengah Ketegangan Tarif dan Isu Greenland

Politisi Jerman menyerukan penarikan pasukan AS dari Jerman serta senjata nuklir, menyusul ancaman tarif impor Trump dan isu Greenland yang memicu ketegangan diplomatik.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Politisi Jerman Desak Penarikan Pasukan AS di Tengah Ketegangan Tarif dan Isu Greenland
Politisi Jerman menyerukan penarikan pasukan AS dari Jerman serta senjata nuklir, menyusul ancaman tarif impor Trump dan isu Greenland yang memicu ketegangan diplomatik. (AntaraNews)

Seorang politisi Jerman, Sevim Dagdelen dari aliansi Sahra Wagenknecht (BSW), baru-baru ini mendesak penarikan pasukan Amerika Serikat dari wilayah Jerman. Seruan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan diplomatik antara AS dan beberapa negara Eropa. Situasi ini dipicu oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump mengenai rencana tarif impor dan isu Greenland yang kontroversial.

Dagdelen juga secara tegas menuntut penarikan senjata nuklir AS dari pangkalan Buchel, Jerman, demi keamanan nasional. Ia menolak rencana penempatan rudal jarak menengah AS yang dinilainya justru meningkatkan risiko keamanan Jerman. Langkah ini menambah tekanan politik di Eropa di tengah kekhawatiran atas arah kebijakan Washington terhadap sekutunya.

Pernyataan Dagdelen disampaikan sehari setelah Trump mengumumkan ancaman pemberlakuan tarif impor 10 persen pada Februari mendatang. Tarif ini akan menyasar sejumlah negara Eropa, termasuk Jerman, Denmark, dan Prancis. Ancaman tarif ini akan dinaikkan menjadi 25 persen jika AS tidak mencapai kesepakatan terkait pembelian Greenland dari Denmark.

Ancaman Tarif dan Isu Greenland Memanas

Ancaman tarif impor yang dilontarkan oleh Presiden AS Donald Trump telah memicu reaksi keras dari berbagai negara Eropa. Trump menyatakan akan memberlakukan tarif 10 persen terhadap delapan negara Eropa mulai Februari. Negara-negara tersebut meliputi Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Inggris, Belanda, dan Finlandia.

Tarif impor ini, menurut Trump, akan ditingkatkan menjadi 25 persen dan akan tetap berlaku. Hal ini akan terus berlanjut sampai Amerika Serikat berhasil mencapai kesepakatan dengan Denmark terkait pembelian Greenland. Kebijakan ini dinilai sebagai bentuk tekanan ekonomi dan politik yang tidak dapat diterima oleh sekutu-sekutu lama AS di benua Eropa.

Greenland sendiri merupakan bagian dari Kerajaan Denmark dengan status otonomi luas. Trump berulang kali menyatakan keinginannya untuk menjadikan pulau strategis di kawasan Arktik itu bagian dari Amerika Serikat. Namun, otoritas Denmark dan Greenland telah menolak tegas upaya akuisisi tersebut.

Mereka menegaskan pentingnya menghormati kedaulatan dan integritas teritorial Greenland. Penolakan ini menunjukkan adanya ketegangan signifikan dalam hubungan transatlantik yang telah berlangsung lama. Situasi ini semakin kompleks dengan adanya seruan penarikan pasukan AS dari Jerman yang semakin menguat.

Reaksi keras dari sejumlah negara Eropa menunjukkan bahwa ancaman tarif tersebut dianggap sebagai bentuk tekanan politik yang tidak dapat diterima. Para pemimpin Eropa khawatir bahwa tindakan semacam ini dapat merusak fondasi aliansi transatlantik yang telah terjalin puluhan tahun. Kondisi ini memperlihatkan adanya pergeseran prioritas dalam hubungan internasional.

Desakan Penarikan Pasukan AS dan Senjata Nuklir

Sevim Dagdelen, seorang pakar kebijakan luar negeri terkemuka, menekankan perlunya Jerman menghentikan ketergantungan militernya pada Amerika Serikat. Ia secara eksplisit menyerukan agar pasukan AS harus segera ditarik dari Jerman. Desakan ini mencerminkan kekhawatiran akan kedaulatan dan keamanan nasional Jerman.

Selain penarikan pasukan, Dagdelen juga menuntut agar bom nuklir Amerika dikeluarkan dari pangkalan Buchel. Menurutnya, penempatan rudal jarak menengah AS di wilayah Jerman hanya akan menjadikan negara itu target yang lebih besar. Ini menunjukkan adanya perdebatan serius mengenai peran pertahanan Jerman dalam aliansi NATO dan implikasinya terhadap keamanan regional.

Pernyataan Dagdelen ini menambah tekanan politik yang signifikan di Eropa, khususnya terkait kebijakan pertahanan. Ketegangan ini berpusat pada arah kebijakan luar negeri Washington terhadap sekutunya di tengah perubahan geopolitik global. Isu penarikan pasukan AS dari Jerman menjadi semakin relevan di tengah dinamika hubungan bilateral yang kompleks.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi