SRI Rujuk Petani Badui Digigit Ular Berbisa ke RSUD Banten, Obat Anti Bisa Kosong di Puskesmas

Seorang petani Badui digigit ular berbisa di Lebak dirujuk Sahabat Relawan Indonesia (SRI) ke RSUD Banten setelah obat anti bisa ular kosong di Puskesmas setempat. Kondisi korban kritis dan sangat membutuhkan pertolongan medis segera.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
SRI Rujuk Petani Badui Digigit Ular Berbisa ke RSUD Banten, Obat Anti Bisa Kosong di Puskesmas
Sahabat Relawan Indonesia (SRI) merujuk petani Badui digigit ular berbisa ke RSUD Banten setelah ketersediaan obat anti bisa ular (ABU) kosong di Puskesmas setempat, menyoroti urgensi penanganan medis. (AntaraNews)

Sahabat Relawan Indonesia (SRI) mengambil tindakan cepat merujuk seorang petani Badui ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Banten. Petani tersebut digigit ular berbisa saat beraktivitas di ladang huma, tepatnya di Blok Gunung Kencana, Kabupaten Lebak. Penanganan ini dilakukan menyusul kondisi darurat medis yang dialami korban.

Rujukan ke RSUD Banten terpaksa dilakukan setelah ketersediaan obat anti bisa ular (ABU) di Puskesmas Gunungkencana dilaporkan kosong. Kondisi ini menyoroti pentingnya akses cepat terhadap penanganan medis yang memadai bagi masyarakat di daerah terpencil. Ketua Koordinator SRI, Muhammad Arif Kirdiat, menyampaikan informasi ini saat dihubungi di Lebak, Sabtu.

Korban gigitan ular, Sarsih (40), merupakan warga Badui Luar dari Kampung Ciranji Desa Ciranji. Ia digigit ular tanah, atau yang dikenal juga sebagai ular gibug (Calloselasma rhodostoma). Kini, korban sangat membutuhkan pertolongan medis segera demi menyelamatkan nyawanya.

Kondisi Korban dan Kendala Penanganan Awal

Sarsih, petani Badui berusia 40 tahun, saat ini berada dalam kondisi kritis setelah digigit ular tanah. Ular berbisa jenis Calloselasma rhodostoma ini dikenal memiliki racun yang mematikan. Keluarga korban sedang dalam proses musyawarah untuk segera merujuk Sarsih ke RSUD Banten.

Kekosongan obat anti bisa ular (ABU) di Puskesmas Gunungkencana menjadi kendala utama penanganan awal. Situasi ini memaksa SRI untuk mencari solusi penanganan medis yang lebih komprehensif. Ketersediaan ABU yang terbatas di fasilitas kesehatan primer menjadi perhatian serius.

Muhammad Arif Kirdiat menegaskan, tim relawan sangat berharap korban bisa secepatnya ditangani medis. Penanganan yang cepat dan tepat sangat krusial untuk mencegah komplikasi lebih lanjut. Keselamatan nyawa petani Badui ini menjadi prioritas utama bagi SRI.

Peran Sahabat Relawan Indonesia (SRI)

SRI secara sukarela mendampingi korban gigitan ular tanah dari masyarakat Badui. Pendampingan ini mencakup penanganan awal hingga transportasi menggunakan ambulans ke RSUD Banten. Semua layanan diberikan tanpa dipungut biaya sepeser pun kepada korban dan keluarganya.

Selain bantuan medis dan transportasi, SRI juga berjuang memastikan warga Badui mendapatkan akses kesehatan. Mereka merekomendasikan surat keterangan tidak mampu (SKTM) dari desa setempat bagi warga yang tidak memiliki BPJS Kesehatan. Langkah ini bertujuan agar pasien dapat berobat gratis.

Pihak SRI merasa puas dengan pelayanan yang diberikan RSUD Banten. Rumah sakit tersebut menerapkan penggunaan SKTM bagi pasien Badui yang tidak memiliki BPJS Kesehatan. Hal ini menunjukkan komitmen rumah sakit dalam memberikan pelayanan kesehatan yang merata.

Kewaspadaan dan Pencegahan Gigitan Ular

Tim SRI kini siaga penuh untuk penanganan medis bersama tenaga medis lainnya. Mereka fokus memberikan pertolongan, khususnya kepada petani Badui yang sering beraktivitas di ladang. Kesiagaan ini penting mengingat risiko gigitan ular yang tinggi.

Curah hujan yang tinggi berpotensi meningkatkan jumlah korban gigitan ular berbisa. Ular cenderung keluar dari sarangnya saat musim hujan. Oleh karena itu, kewaspadaan harus ditingkatkan oleh masyarakat, terutama para petani.

SRI mengimbau para petani Badui agar selalu waspada terhadap binatang ular tanah yang mematikan. Penggunaan sepatu bot sangat disarankan sebagai langkah pencegahan. Tindakan preventif ini dapat mengurangi risiko gigitan ular saat beraktivitas di ladang.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi