Banjir yang melanda Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, belum menunjukkan tanda-tanda surut. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto mengungkapkan bahwa permasalahan utama yang menghambat surutnya air adalah sumbatan sampah pada gorong-gorong dan saluran pembuang air. Kondisi ini menjadi prioritas penanganan darurat yang dilakukan oleh tim di lapangan.
Suharyanto meninjau langsung lokasi sumbatan di got atau gorong-gorong yang melintasi di bawah Jalur Pantura Demak-Semarang, tepatnya di Desa Gajah, Kecamatan Gajah. Saluran pembuang yang dikenal sebagai Afour C71 atau Saluran Sipon tersebut merupakan jalur vital bagi kawasan Kecamatan Karanganyar. Penyumbatan ini menyebabkan debit air tidak dapat mengalir dengan lancar, memperparah kondisi banjir Demak.
Untuk mengatasi situasi mendesak ini, BNPB telah mengerahkan mesin penyedot air sebagai solusi jangka pendek guna mempercepat pengeluaran air dari area terdampak. Selain itu, instruksi juga telah diberikan kepada Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD setempat untuk segera mengerahkan alat berat guna mengeruk sampah-sampah yang menumpuk dan menyumbat saluran air, memastikan penanganan banjir Demak dapat berjalan efektif.
Advertisement
Advertisement
Penyebab Utama Banjir Demak: Saluran Air Tersumbat Sampah
Faktor utama di balik lambatnya surutnya banjir di Kecamatan Karanganyar, Demak, adalah kondisi saluran air yang tidak lancar akibat tertutup tumpukan sampah. Kepala BNPB Suharyanto menegaskan bahwa got jalur air memang tidak mampu menampung debit air karena sumbatan yang parah. Situasi ini diperparah dengan ukuran gorong-gorong yang kurang lebar, terutama pada jalur di bawah Jalur Pantura Demak-Semarang.
Wakil Bupati Demak, Muhammad Badruddin, turut mengakui bahwa salah satu penyebab banjir di Desa Kedung Banteng dan Wonorejo adalah kapasitas gorong-gorong Saluran Sipon yang tidak memadai. Gorong-gorong tersebut, yang melintas di bawah Jalur Pantura, tersumbat sampah dan tidak mampu menampung volume air. Pihak pemerintah daerah telah menyampaikan permasalahan ini kepada Kepala BNPB, berharap adanya perhatian lebih lanjut untuk mencegah terulangnya banjir Demak di masa mendatang.
Dampak dari genangan air yang tak kunjung surut ini sangat merugikan, terutama bagi sektor pertanian. Lahan persawahan di Kecamatan Karanganyar turut terendam, menimbulkan kekhawatiran akan potensi gagal panen jika dalam empat hari ke depan tidak ada penanganan serius. Kondisi ini mengancam mata pencarian petani setempat yang sangat bergantung pada hasil panen.
Advertisement
Advertisement
Langkah Cepat BNPB dan Harapan Pemda Demak
Menanggapi kondisi darurat ini, BNPB telah mengambil langkah-langkah konkret di lapangan. Prioritas utama adalah membersihkan sumbatan sampah yang menghalangi aliran air. Kepala BNPB Suharyanto telah memerintahkan Kalaksa BPBD untuk segera mengerahkan alat berat guna mengeruk dan mengangkat sampah-sampah tersebut. Penggunaan mesin penyedot air juga dioptimalkan untuk mempercepat proses pengeringan area yang tergenang.
Wakil Bupati Demak, Muhammad Badruddin, menyatakan harapannya agar kondisi banjir Demak dapat segera teratasi, sehingga petani dapat melaksanakan panen dengan baik. Pemerintah daerah bersama warga juga terus berupaya melakukan antisipasi, meskipun debit air hujan masih cukup tinggi. Kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah diharapkan mampu memberikan solusi jangka panjang.
Badruddin juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk meningkatkan kepedulian terhadap kebersihan lingkungan, khususnya sungai dan saluran air. Ia menekankan pentingnya tidak membuang sampah sembarangan untuk mencegah terjadinya sumbatan serupa di kemudian hari. Partisipasi aktif masyarakat menjadi kunci dalam menjaga kelancaran aliran air dan mencegah banjir Demak.
Advertisement
Advertisement
Perbandingan Banjir Demak: Dulu dan Sekarang
Kepala BNPB Suharyanto menjelaskan bahwa banjir di Kabupaten Demak tahun ini memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan kejadian dua tahun sebelumnya, yaitu pada 2023–2024. Banjir pada periode tersebut disebabkan oleh jebolnya tanggul Sungai Wulan, yang mengakibatkan dampak cukup parah. Namun, berkat upaya normalisasi yang telah dilaksanakan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), lokasi yang sama tidak mengalami banjir pada 2025–2026.
Perbedaan penyebab ini menunjukkan bahwa penanganan banjir memerlukan pendekatan yang spesifik sesuai dengan akar masalahnya. Jika sebelumnya fokus pada perbaikan tanggul, kini perhatian tertuju pada pengelolaan sampah dan kapasitas saluran drainase. Hal ini menggarisbawahi pentingnya evaluasi berkelanjutan terhadap infrastruktur dan sistem pengelolaan air.
Meskipun demikian, kewaspadaan tetap menjadi prioritas mengingat intensitas curah hujan yang masih tinggi. Pemerintah daerah dan masyarakat diharapkan dapat terus bersinergi dalam menjaga lingkungan. Dengan demikian, risiko banjir Demak dapat diminimalisir dan dampak negatifnya terhadap kehidupan masyarakat dapat dikurangi secara signifikan.
Advertisement
Sumber: AntaraNews